Mitigasi untuk Kesiapsiagaan, Bukan Ketakutan

tbachtiar's picture

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

BAGAIMANA kata siap, siaga, trengginas, tangguh, bangkit, empati, menolong, dan gotong-royong bisa menjadi kekuatan diri, kekuatan masyarakat, serta tindakan nyata perseorangan dan kelompok dalam kehidupan bermasyarakat, tak terkecuali dalam kesiapsiagaan menghadap bencana?

Inilah arti sesungguhnya dari mitigasi yang menjadi bagian dari keguyuban, dari bermasyarakatnya warga, bagaimana upaya-upaya warga dalam proses menguatkan dirinya, menguatkan warganya secara keseluruhan, menguatkan rasa sepenanggungan dalam upaya mengurangi risiko bencana sekecil-kecilnya.

Usai gempa Lombok pada Agustus 2018 ini, dalam situasi yang membutuhkan dukungan untuk segera bangkit dengan cepat, di grup-grup Whatsapp malah tersebar berita-berita bohong, berita-berita yang membuat warganya diliputi rasa cemas dan takut tak beralasan, bukan hanya bagi warga di Nusa Tenggara Barat, tapi juga bagi masyarakat di Pulau Jawa.

Anehnya, mereka yang menjadi anggota grup Whatsapp adalah orang-orang berpendidikan tinggi, entah dibaca terlibih dahulu atau tidak, dengan segala kemudahan penyebarluasan, tulisan yang mencemaskan itu secepat kilat tersebar seperti virus di media sosial.

Orang yang menyebarkannya merasa berguna karena menjadi orang yang paling dahulu menyebarluaskan berita itu, kadang tanpa membaca secara keseluruhan, tanpa konfirmasi literasi, dan tanpa konfirmasi ke sumber-sumber serta lembaga yang dapat dipercara.

Inilah kenyataan kepesatan teknologi komunikasi tanpa dibarengi rasa tanggung jawab sosial sehingga dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh perseorangan atau kelompok yang dengan sengaja membuat skenario-skenario untuk menimbulkan kecemasan, saling curiga. Hal itu berdampak pada kekacauan di masyarakat.

Sebagai contoh, ketika terjadi gempa bumi di suatu pantai dan dinyatakan tidak berpotensi tsunami, dengan sangat cepat beradar kabar akan terjadi tsunami sehingga warga bergegas meninggalkan rumahnya menuju tempat-tempat yang lebih tinggi.

Tindakan yang benar dari masyarakat itu dimanfaatkan untuk perbuatan jahat si penebar kabar bohong.

Telefon genggamnya cerdas, seharusnya pemiliknya jauh lebih cerdas sehingga ketika menerima pesan, diwajibkan dibaca terlebih dulu, apakah berita yang diterimanya di grup Whatsapp atau di media sosial itu benar, bila tidak yakin, dapat mengkonfirmasi berita itu dengan membaca rujukan atau berita bandingan dari media lainnya.

Dapat pula mengonfirmasi kepada teman yang kompeten, bertanya melalui media sosial, atau bertanya kepada lembaga-lembaga yang siap melayani masyarakatnya.

Kabar di media sosial tentang akan adanya gempa besar mengguncang Pulau Jawa, diakhir unggahan ditulis anjuran, “Viralkan. Dengan meluangkan waktu satu detik saja untuk membagikan berita ini, dapat menyelamatkan ribuan warga”.

Pembacanya semakin yakin bahwa itu kabar benar, ditambahkan tulisan “Mari tingkatkan doa untuk keselamatan dari bahaya gempa”.

Dalam situasi kacau tak menentu, sering menjadi sulit memilah kabar benar dan kabar bohong sebab orang jahat selalu lebih cerdik memanfaatkan kecemasan masyarakat.

Ditambahkanlah kata-kata, “Menurut berita dari BMKG…. Menurut berita dari BNPB… Menurut peneliti asing, Indonesia akan dilanda gempa besar ….

Pastilah BMKG dan BNPB tidak menulis berita bohong. Siapa nama peneliti asing yang melakukan penelitian tentang gempa di Indonesia? Sumbernya pun tidak jelas. Berita itu diunggah tanggal berapa dan di media mana. Atau, “Katanya… kata si anu… kata teman saya…”. Ya, sudah, beritanya menjadi liar, terus disebarkan.

Ketika ada yang memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan, dianggapnya sebagai pil tenang saja.

Akan tetapi, dari anggota grup Whatsapp itu ada juga yang ingin mendapatkan informasi dengan jelas, yang menanyakan apakah kabar yang sangat panjang itu bohong atau benar.

Saya menjawab satu per satu, ada juga yang karena ditanyakan di grup Whatsapp, saya jawab juga di sana. Jawaban saya adalah:

Pertama, tentang ajakan untuk meningkatkan berdoa. Itu ajakan yang mulia. Berdoa merupakan kewajiban setiap orang, dalam setiap waktu. Sebab, setiap denyut nadinya pun harusnya diisi dengan doa. Orang sombong namanya kalau tidak berdoa.

Tentang Indonesia rawan bencana kebumian, hal ini kenyataan yang sebenar-benarnya. Dinamika buminya sangat rumit dan aktif. Ini adalah takdir alam. Tapi, sesungguhnya dinamika bumi itu, bila disyukuri dengan sepenuh hati, merupakan kekuatan bagi Indonesia.

Karena dinamika buminya itulah, terbentuk banyak gunung api, adanya patahan/sesar, ngarai, lembah yang dalam, dataran tinggi, dataran rendah, sungai dengan beragam ronanya, dan beragam mineral yang semuanya itu disediakan untuk manusia Indonesia yang bersyukur. Semua itu dapat dimanfaatkan dengan bijak agar berkelanjutan.

Karena dinamika buminya itulah terjadi letusan gunung api. Saat ini ada 127 gunung api aktif tipe A yang di sekeliling gunung-gunung itu umumnya sudah padat oleh pemukiman masyarakat.

Karena dinamika bumi itulah terjadilah gempa bumi. Sampai saat ini, teknologi yang ada belum mampu memperkirakan kapan tepatnya dan di mana lokasi terjadi gempa bumi.

Jadi, daripada terus-menerus menyebarkan informasi secara berantai yang membuat masyarakat menjadi cemas, ada baiknya masyarakat dikuatkan dari dalam, dengan memanfaatkan jaringan yang ada melalui kekuatan RT-RW, untuk mengimbaskan pengetahuan tindakan apa yang harus dilakukan sebelum dan bila gempa mengguncang serta sebelum dan ketika gunung meletus.

Inilah tindakan yang bijak, mempersiapkan diri, menguatkan diri, tindakan apa yang harus dilakukan sebelum gempa, misalnya dalam membangun rumah, membangun gedung, membuat jembatan, membuat pintu dan jalan darurat dalam gedung, cara menyimpan perabotan di rumah, di kamar tidur, perlengkapan yang berguna dalam keseharian yang harus ada, yang sesungguhnya ketika tidak terjadi gempa pun sangat dibutuhkan.

Diperlukan penerangan menyeluruh sebelum gempa, misalnya tentang teknologi canggih yang bagaimana yang harus ada dalam kereta cepat, yang dapat dengan segera mengetahui ada gempa, dan mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan bila terjadi gempa dengan kekuatan tertentu.

Bila gempa terjadi pada saat berkendara di jalan tol, apa yang harus dilakukan? Tindakan apa yang harus dilakukan bila terjadi gempa pada saat berada di rumah, di pusat perbelanjaan, atau sedang berada di dalam gedung bertingkat?

Bagaimana kesiapan gedung sekolah, kampus, gedung keagamaan, apakah sudah menerapkan bangunan ramah gempa? Apakah anak-anak sekolah, mahasiswa, sudah mengetahui apa yang harus dilakukan bila sedang belajar di dalam kelas terjadi gempa?

Apa yang harus disiapkan aparat keamanan ketika warganya mengungsi. Apa yang harus dilakukan psikolog setelah gempa terjadi. Apa yang harus dilakukan guru, ustad, ajengan, dokter, setelah gempabumi terjadi?

Karena gempabumi itu siklusnya bisa puluhan atau ratusan tahun terjadi di suatu kawasan, maka upaya mitigasi harus dibantu secara resmi melalui jalur pendidikan, mulai TK sampai Perguruan Tinggi, dan melalui jalur komunitas, dan kekuatan warga melalui RT-RW, agar informasi yang benar dapat terus beredar dari waktu ke waktu secara berkesinambungan.

Upaya mitigasi harus dilakukan oleh semua kalangan, oleh semua lembaga, oleh semua satuan di pemerintahan daerah. Bagaimana perencanaan wilayah suatu kota memperhitungkan kegempaan, dalam membangun rumah dan gedung. IMB seharusnya menjadi salah satu alat kontrol persyarakat pendirian gedung yang ramah gempa, bukan sekedar dijadikan alat untuk meningkatkan PAD.

Bila semua lini dapat menjalankan upaya mitigasi dengan baik dan berkesinambungan, maka penyadaran dan peningkatan kesiapsisagaan menghadapi bencana kebumian akan terus menguat. Kekuatan inilah yang dapat menangkal kabar-kabar bohong yang menyesatkan dan mencemaskan. Semoga.***