DPRD Depok Minta Apartemen yang Jadi Sarang Kejahatan Ditutup

Apartemen/BAMBANG ARIFIANTO/PR
PENGENDARA sepeda motor melintasi bangunan milik warga di tepi Apartemen Margonda Residence yang menjulang tinggi di Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jumat 17 Agustus 2018. Ketua DPRD Depok Hendrik Tangke Allo meminta Pemkot Depok menutup dan mencabut izin Apartemen Margonda Residence bila terbukti menjadi sarang kejahatan.*

DEPOK, (PR).- Merebaknya kasus prostitusi online di Apartemen Margonda Residence 2, Pondok Cina, Kota Depok menuai sorotan. Ketua DPRD Depok, Hendrik Tangke Allo meminta Pemerintah Kota Depok menutup apartemen tersebut bila terbukti menjadi sarang kejahatan. 

"Pemerintah harus tegas apalagi kalau sudah ada prostitusi, ada narkoba. Itu kan menjadi sarang kejahatan di situ," kata Hendrik di Lapangan Balai Kota Depok, Jalan Margonda Raya, Jumat 17 Agustus 2018. Dia menegaskan, tindakan tegas perlu dilakukan. ‎ "Kalau memang terbukti saran saya, rekomedasi saya tutup, cabut izinnya," ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Depok Mohammad Idris mengaku masih menyelidiki kasus tersebut. "Kami sedang kaji, sedang selidiki dan kami koordinasi dengan pihak-pihak terkait," ucap Idris. Bila pengelola apartemen terbukti melanggar aturan, dia menegaskan pemerintah akan melakukan tindakan sesuai ketentuan. "Kita lihat nanti ketentuannya, sesuai dengan Perda dan Perwal-nya," ucap Idris.

Polresta Depok tak ketinggalan untuk meminta keterangan pengelola apartemen. Polisi bakal memanggil pengelola apartemen dan pihak penyedia sewa kamar selepas kasus peristwa prostitusi online terkuak. Mereka akan dimintai keterangan apakah mengetahui praktik prostitusi terselubung itu. "Intinya kami akan tata ke arah yang lebih baik," ucap Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Depok Komisaris Polisi Bintoro. Dia meminta pengelola memeriksa latar belakang orang yang menginap atau menyewa di kamar apartemen. "Jangan sampai karena mengambil keuntungan mereka dengan mudahnya untuk menyewakannya," ucap Bintoro.

Beragam kasus

Bangunan apartemen itu berada di dua kelurahan, yakni Pondok Cina dan Kemirimuka. Di Pondok Cina, terdapat bangunan Apartemen Margonda Residence 1 dan 2. Sedangkan di Kemirimuka,  terdapat gedung Margonda Residence 3,4,5. Dalam catatan Pikiran Rakyat, sejumlah aksi kejahatan terjadi di apartemen yang berada di Jalan Margonda Raya tersebut.  Terakhir, Polresta Depok membongkar praktik prostitusi online di Apartemen Margonda Residence 2, Pondok Cina, Kota Depok, Rabu 15 Agustus 2018. Polisi mencokok enam tersangka dalam perkara tersebut. Empat tersangka merupakan perempuan yang diduga menjajakan diri melalui aplikasi WeChat. Sedangkan dua tersangka pria masing-masing berperan mengelola akun prostitusi online dan mencari pelanggan. 

Kasus tersebut bukan pertama kali terjadi. Awal Juli 2018, Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Depok telah menangkap T (23) yang diduga melakukan upaya pencabulan terhadap anak di bawah umur pada awal Juli 2018. Awalnya, korban berinisial T (17) berkenalan dengan tersangka melalui media sosial. Dari perkenalan itu, tersangka mengajak korban bertemu di  Apartemen Margonda Residence 4, lantai10, Kemirimuka. Di sana, tersangka berupaya mencabuli korban tetapi mendapat perlawanan korban. Kasus menonjol lain adalah penyekapan perempuan berinisial N (19) asal Cipinang Jakarta Timur selama 10 jam oleh mantan pacarnya, FAT (30). Kejadian tersebut berlangsung di Apartemen Margonda Residence II, Pondok Cina, Tower H, lantai 9, Selasa 30 Juli 2017 lalu. Selain menyekap, FAT merampas gelang emas lima gram milik korban hingga patah. 

Penangkapan pengedar narkoba pun beberapa kali dilakukan aparat di apartemen tersebut. Penangkapan sempat berlangsung di pelataran parkir hingga kamar apartemen. Pada Selasa (16/12/2014), warga negara Nigeria bernama Uzoma Elele Alpha dicokok petugas Badan Narkotika Nasional Kota Depok dan Kantor Imigrasi Depok di Apartemen Margonda Residence 2. Dia dicokok dengan barang bukti sabu dengan berat 4.075,9 gram dan ganja 301,1 gram.

Sementara itu, Fahmi (30), warga Sukmajaya menilai, maraknya kasus kejahatan di apartemen tersebut karena gampangnya pemilik  menyewakan kamarnya ke orang lain. "Terlalu gampang diakses, jadi enggak privat banget," ucapnya. Sewa kamar pun justru menjadi ajang bisnis pemilik. Fahmi tak mempersoalkan praktik tersebut. Akan tetapi, pihak pengelola harusnya memperketat pengamanan dengan mengecek kartu identitas para penyewa kamar. Dari penelusuran Pikiran Rakyat, bisnis sewa kamar Margonda Residence bertebaran di media sosial Instagram. Peminat bisa mengontak langsung nomor telefon yang tertera atau mengirimkan pesan ke langsung akun Instagramnya. Saat Pikiran Rakyat mencoba meminta konfirmasi dan klarifikasi, kantor pengelola Margonda Residence di Kemirimuka sedang tutup. "Ini tanggal merah pak, sedang libur," kata petugas apartemen. Sang petugas juga mengaku tak memiliki nomor telefon pengelola.  Hal serupa terjadi di Pondok Cina. "Tutup bang," ujar seorang petugas. ***

Baca Juga

Pemkot Depok Buka 239 Lowongan CPNS 2018

DEPOK, (PR).- Pemerintah Kota Depok membuka penerimaan calon pegawai negeri sipil 2018 dengan alokasi 239 formasi kerja. CPNS yang lulus bakal ditempatkan di kota berikon belimbing tersebut.