Tahun Ajaran Bola

hawesetiawan's picture

Hawe Setiawan

Budayawan, Kolumnis Pikiran Rakyat

BERAKHIR sudah libur panjang Idul Fitri, juga malam-malam panjang Piala Dunia. Anak-anak, kembalilah ke sekolah!

            Seperti banyak orang tua lainnya, kami berupaya agar anak-anak tidak harus mengartikan “kembali ke sekolah” sebagai kembali masuk bui. Tembok kelas memang sering mengundang hasrat buat menjebol. Jendela kelas memang kerap tampak bagai jalan buat melarikan diri. Mesti ada cara untuk tetap gembira.

            Setidaknya buat beberapa pekan ke depan, cara itu sudah ketemu buat si bungsu. Sepatu baru dari Kosambi, baju dan celana baru dari Sukajadi, juga tas punggung baru dari gerai outdoor terdekat, kelihatannya lumayan jitu untuk mendorong dia bangun pagi, gosok gigi, sarapan, dan menyisir rambut a la Febri Hariyadi.

Kembali ke GBLA

            Kebetulan, hari pertama tahun ajaran baru berbarengan dengan “Persib Day”. Maung Bandung hari itu mesti menjamu Persela di Gelora Bandung Lautan Api.

            Terasa ada titik terang memandu saya untuk keluar dari kemurungan akibat kekalahan Kroasia oleh Prancis dalam putaran final Piala Dunia 2018.

            “Dunia” yang pada gilirannya kembali menciut jadi Eropa, memang telah berakhir tatkala hujan deras mengguyur sekujur tubuh Vladimir Putin.

Luka Modric dan Mario Mandzukic, anak-anak Kroasia yang pada 1990-an turut mengungsi dari perpecahan politik yang getir sehabis Yugoslavia, memang belum berhasil membawa tropi emas ke negeri kecil mereka.

Mesti ada cara buat merawat kegembiraan kolektif.

            “Hayu, Jang, urang lalajo Pérsib deui di GBLA!” ajak saya kepada si bungsu ketika dia melepas tali sepatu sepulang dari sekolah.

            Biar ajakan tambah afdol, saya ajak dia mampir dulu ke Graha Persib di Sulanjana. Di situ kami mendapat tiket. Di situ pula kami membeli match jersey buat dia, dan T-Shirt biru buat saya. Selesai ijab-kabul di pojok kasir, kami bersalin kostum di pojok lainnya. Habis itu, kami pun bergegas ke stadion.

            Motor mogok adalah urusan sepele. Tinggal menepi ke trotoar, bongkar busi, bersihkan pangkalnya dengan ampelas halus, pasang lagi, genjot kembali. Mesin rongsokan buatan Jepun tahun 1974 toh hidup lagi.

            Kami melaju dengan kecepatan rendah, lewat Cicadas, Kiaracondong, Soekarno-Hatta, hingga Gedebage. Di sekitar waktu asar, kami sudah tiba di stadion, menyatukan diri dengan sekitar 9000-an pecandu bola.

Buat ukuran Bandung, jumlah penonton sebanyak itu memang tidak begitu besar. Namun, jika dilihat dari sudut pandang Kroasia, atau Singapura, jumlah itu pastilah lumayan besar. Yang penting, tetabuhan dan nyanyian tetap membuat stadion jadi gegap gempita selepas magrib.

Di musala tribun barat, sekitar 15 menit menjelang kick-off babak pertama, saya diam-diam berdoa. Lidah saya memang agak asin karena air wudu di situ nyaris seperti air payau. Namun, harapan tetap menyala. Semoga Persib, yang baru saja kembali dari muhibah belasan jam ke Serui, menang lagi.

Jonathan Bauman dan Pecel Lele

Beberapa saat menjelang laga, saya menoleh ke samping kanan. Pria yang duduk di samping anak saya ternyata Pak Dian Wardiana Sjuhro, dosen saya di Unpad dulu. Saya peluk dia. Gembira betul saya bisa bertemu dengannya di tempat yang luar biasa.

Ayah jadi aya batur ngobrol,” bisik anak saya.

Sungguh kebetulan yang menggembirakan. Obrolan dengan Pak Dian seru juga. Topiknya antara lain menyangkut sertifikasi dosen, jurnal yang terakreditasi, dan serba-serbi kegiatan penelitian. Namun, saya lebih berminat menyimak kisahnya tentang hantu-hantu di Cirebon dan Palabuanratu, juga tentang pohon mangga di pekarangan yang berbuah lebat tapi akhirnya terpaksa ditebang karena batangnya keropos diserang hama. 

Jonathan Bauman membuat kami terpana pada menit ke-28. Ia tidak menyia-nyiakan umpan menawan dari Bojan Malisic. Gol!

“Sejumlah gol Persib tercipta di sekitar menit ke-35,” komentar Pak Dian.

Sayang sekali, gol Persib tidak bertambah pada menit-menit berikutnya. Malahan di babak kedua, penampilan Persib terasa mematikan selera. Sedikitnya dua striker di depan sana tidak sampai efektif.

Betapapun, Mario Gomez rupanya menangkap psikologi bobotoh. Banyak atau sedikit gol, yang penting menang. Kalaupun hanya mencetak setengah gol, kasarnya, tak mengapa, asalkan terbilang menang. Tentu, sedapat mungkin, kemenangan itu diraih dengan cara yang baik, dengan permainan yang cantik.

 Sekitar dua menit menjelang pertandingan berakhir, Pak Dian mengajak kami keluar dari stadion. Tak sedikit bobotoh lainnya yang berbuat seperti kami: pulang sebelum pertandingan benar-benar berakhir biar tidak harus berdesakan di pintu keluar.

Pak Dian pulang ke Ujungberung. Kami pulang ke Ledeng. Buat merayakan kemenangan Persib malam itu, saya dan si bungsu makan pecel lele di Gegerkalong. Buat menghormati Persela, kami pilih warung tenda milik Cak Ghufron yang dikasih embel-embel “Lamongan Indah”.

Alhamdulillah, meski liburan telah berakhir, kegembiraan terus berjalan. Ya, seperti lagu Bobby McFerrin: “Don’t worry. Be happy.”***