Pertahanan dan Ekonomi Harus Berjalan Seiring

PENGGIAT dalam Studi Ekonomi pertahanan, Posma Sariguna (kanan) sedang memberikan penjelasan di Media Center Jokowi-JK, Jakarta Pusat, Selasa (24/6/2014).*
MIRADIN SYAHBANA RIZKY/PRLM
PENGGIAT dalam Studi Ekonomi pertahanan, Posma Sariguna (kanan) sedang memberikan penjelasan di Media Center Jokowi-JK, Jakarta Pusat, Selasa (24/6/2014).*

JAKARTA, (PRLM).- Pertahanan nasional dan pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring. Jika pemerintah hanya mengutamakan ekonomi maka pertumbuhan itu akan dirasakan rapuh.

"Zaman orde baru, masa Soeharto, strategi pertahanan adalah lebih mengutamakan ekonomi, dan pengembangan struktur pertahanan adalah nomor dua. Seperti yang diadopsi oleh visi misi Capres Prabowo Subianto. Hasilnya, terlihat jelas ternyata kemajuan ekonomi yang kita rasakan ternyata rapuh, kita terjadi krisis," ucap Penggiat dalam studi ekonomi pertahanan Posma Sariguna, di Media Center Jokowi-JK, Jakarta Pusat, Selasa (24/6/2014).

Posma mengungkapkan, bagaimana mungkin sebuah negara dapat meningkatkan perekonomiannya, jika rakyatnya tidak aman dan nyaman dalam bekerja. Terlebih, kata dia, Indonesia berkeinginan untuk menuju pertumbuhan ekonomi diatas 7 persen.

"Strategi yang diadopsi dalam visi misi Prabowo ini sebenarnya adalah usang dan mengulang-ngulang kesalahan masa lalu. Ilegal fishing, illegal logging, dan illegal mining menjadi keniscayaan tanpa kita mampu menghalaunya," tuturnya.

Menurut dia, dengan keamanan dan kenyamanan, investor sebagai mesin pertumbuhan akan dapat bekerja secara maksimal. Sebaliknya, tanpa pertahanan yang baik maka tidak akan terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

"Dari hasil studi yang telah dilakukan, ternyaya ekonomi harus seiring, karena keduanya saling membutuhkan, seperti yang Jokowi selalu kemukakan. Sebab ini seiring dengan prioritas Jokowi untuk kesejahteraan rakyat, yaitu kesehatan dan pendidikan," ujarnya.

Terkait isu konflik Laut China Selatan (Laut Tiongkok), kata dia, tak seharusnya Indonesia ikut campur dalam konflik yang dimainkan oleh bangsa asing, apalagi diketahui saat ini terjadi rivelitas baik dalam perekonomian dan pertahanan antara Amerika dan Tiongkok,

"Jokowi tidak ingin terperangkap dan terpengaruh dengan hal tersebut dengan tetap mengedepankan penjagaan seluruh wilayah NKRI," katanya.

Mengenai pernyataan Jokowi yang menyatakan bahwa Tank Leopard tak cocok bagi geografi Indonesia, kata Posma, dirinya menyetujuinya karena penggunaannya tidak tepat.

Sebetulnya, di era yang modern ini strategi pertahanan yang ditakuti lawan adalah bukan semata-mata kekuatan alutsista. Dengan semangat 'natural balance of power', persaingan sejata dapat dihindari. Yang diutamakan adalah pengadaan persenjataan modern yang berguna bagi perekonomian suatu negara, sehingga negara lain pun tidak dapat menjadikan pengembangan pertahanan sebagai alasan untuk embargo," katanya.

Dia menambahkan, yang ditakuti lawan adalah ketika Indonesia sudah menggunakan strategi-strategi pertahanan yang sangat rasional, dan dibutuhkan secara ril untuk menangkan dan 'deterence'.

Dengan demikian, program pengoperasian pesawat tanpa awak atau drone sebagai salah satu upaya modernisasi alutsista di Indonesia untuk menjaga perairan Indonesia adalah kebijakan yang cerdas.

"Pengoperasian 'drone' dapat dilakukan di berbagai daerah, sehingga penggunaan drone juga dapat difungsikan sebagai alat pertahanan ekonomi maupun keamanan dengan tujuan fungsi pertahanan untuk mengawasi pencurian ikan dan pencurian kayu," kata Posma.

Pendapat berbeda dilontarkan Anggota Tim Prabowo-Hatta, Suryo Prabowo. Menurut dia, Capres, Joko Widodo dinilai tidak memahami geografis Indonesia.

"Jokowi harus ambil kursus biar paham apa itu politik internasional. Laut Cina Selatan itu berada di kawasan ASEAN, dimana Indonesia salah satu anggotanya bahkan pemarkarsa. Tentu Indonesia harus turut berperan disitu," kata Letjen (Purn) Suryo Prabowo, di Jakarta, Senin (23/6/2014).

Menurut Suryo, Jokowi mengabaikan konflik yang berada dalam kawasan ASEAN. "Sesama negara sekawasan, kita harus saling bantu. Dan siapa bilang itu tidak penting? Kalau tidak penting mana mungkin Amerika menempatkan tentaranya di Darwin," kata Suryo.(Miradin Syahbana Rizky/A-147)***