Headlines

Korban Pencabulan Emon Sudah Mencapai 51 Orang

BANDUNG, (PRLM).- Perlu ada pendampingan khusus untuk para korban sodomi dari AS alias Emon (24), di Kota Sukabumi yang kini jumlah korbannya sudah mencapai 51 orang, pendampingan ini berfungsi agar psikologis dari para korban kembali normal.

Kapolri, Sutarman mengakui meski penegakan hukum menjadi benteng terakhir dalam penegakan hukum bagi perilaku menyimpang AS ini, namun masyarakat juga harus membantu kondisi kejiwaan korban.

"Namun yang menjadi masalah utamanya yaitu terkait mentalitas seseorang. Sehingga ini menjadi tanggung jawab semua pihak seperti orang tua dan keluarga. Tentunya juga pribadi masing-masing agar tidak melakukan penyimpangan seksual," katanya seusai Konkurs Seni Suara Alam Burung Perkutut Tingkat Nasional 'Kapolri Cup' di Secapa TNI AD, Jalan Hegarmanah, Kota Bandung pada, Minggu (4/5/2014).

Sutarman pun setuju bahwa pelaku kekerasan seksual diganjar hukuman berat. Dia mendorong hakim bersikap tegas dalam persidangan perkara kejahatan seksual.

"Criminal justice system ini bukan polri sebagai penyidik saja, tetapi juga hakim. Kami berharap hakim memutuskan secara maksimal sehingga menimbulkan efek jera terhadap pelaku," katanya.

Sementara itu agar tidak terjadi trauma terhadap ke-51 korban pencabulan ini Kepolisian Daerah Jawa Barat mengirimkan tim khusus untuk membantu psikologis anak-anak tersebut.

Kabid Humas Polda Jabar Martinus Sitompul mengatakan, untuk mencegah traumatik terhadap para korban pencabulan, Polda Jabar menurunkan tim khusus dari tim Psikologis Perlindungan Perempuan dan Anak.

"Selain dari PPA kita juga libatkan psikologis independen dari rumah sakit, dan dari rumah sakit kita sendiri," katanya di tempat yang sama.

Martinus menjelaskan, tim psikologis diterjunkan untuk memeriksa kesehatan anak-anak yang menjadi korban Emon, khususnya mental dan kejiwaan atau psikis pascakejadian yang menimpa mereka.

Menurutnya, korban pencabulan Emon sendiri saat ini tercatat ada 51 anak-anak. Mereka ada yang lapor, ada juga yang saling memberi informasi apabila mereka pernah diperlakukan tidak senonoh oleh tersangka.

Disinggung apakah ada kemungkinan tersangka lain, Martinus mengakui untuk hal itu pihaknya masih mendalami. Apakah saat melakukan pencabulan si pelaku dibantu orang lain misalnya, atau dicarikan tempat dan korbannya oleh orang lain.

"Namun sementara ini dia pelaku tunggal. Dia mencari korban dan tempatnya sendirian," ujarnya.

Sementara itu saat disinggung apakah pelaku ini normal atau tidak, justru kata Martinus pelaku ini normal dan menyukai wanita layaknya pria biasa.

"Namun si pelaku khawatir jika melakukan dengan wanita, akan menyebabkan kehamilan yang akan membuat masalah baru bagi si pelaku, oleh karenanya si pelaku ini rela membayar Rp 25 ribu - Rp 50 ribu untuk para korbannya, karena dirasakan bahwa resikonya kecil," ujarnya.

Sementara Kapolres Sukabumi Kota, Hari Santoso saat diwawancarai sebelumnya, mengaku masih mendalami kemungkinan bertambahnya jumlah korban yang ada.

"Bila si pelaku dalam satu minggu ingin menyalurkan hasratnya, 2 kali saja, berapa jumlah korbannya jika dia telah melakukannya bertahun-tahun," katanya.

Itupun kata dia hanya di daerah tempat tinggal si pelaku saja di wilayah Baros, bagaimana dengan tempat lainnya, mungkin saja si pelaku juga melakukan hal yang sama.

Sementara dari informasi yang dihimpun "PRLM" di lapangan beredar kabar bahwa justru para korban dari AS alias Emon ini, melakukan hubungan tak senonoh ini satu sama lain.

Sehingga dikhawatirkan jika tak ada pendampingan secara mental psikologis akan ada Emon-Emon lainnya, yang meresahkan. (Mochamad Iqbal Maulud/A-108)***