Dari 200 Pengusaha Batu Alam, Baru 10 Persen Yang Terapkan IPAL

PEKERJA mengais endapan dari salah satu instalasi pengolahan air limbah pabrik pengolahan batu alam di Desa Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang, Kabupten Cirebon, Jumat (2/5/2014). Dari sekitar 200 pengusaha yang ada, baru sepuluh persen yang sudah menerapk
HANDRI HANDRIANSYAH/PRLM
PEKERJA mengais endapan dari salah satu instalasi pengolahan air limbah pabrik pengolahan batu alam di Desa Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang, Kabupten Cirebon, Jumat (2/5/2014). Dari sekitar 200 pengusaha yang ada, baru sepuluh persen yang sudah menerapkan IPAL.*

SUMBER, (PRLM).- Dari sekitar 200 pengusaha batu alam di Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, baru sekitar sepuluh persen yang menerapkan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Namun jumlah tersebut merupakan sebuah kemajuan, karena sebelumnya seluruh pengusaha membuang langsung air limbah mereka tanpa pengolahan ke arel pertanian dan sungai terdekat.

Camat Dukupuntang, Suhartono mengatakan, air limbah dari industri batu alam di wilayahnya sejak lama memang menjadi masalah bagi lingkungan sekitar.

“Meskipun tidak ada kandungan racun dalam air limbah tersebut, endapannya bisa mendangkalkan sungai dan menurunkan produksi padi serta ikan yang dibudidayakan petani,” ujarnya Jumat (2/5/2014).

Menurut Suhartono, sosialisasi dan bimbingan yang dilakukan pemerintah kecamatan bersama instansi terkait di Pemkab Cirebon sekarang ini sudah membuahkan hasil. Dalam beberapa bulan saja, sudah ada sekitar 20 pengusaha yang mulai membangun IPAL di pabrik pengolahan mereka.

Suhartono berharap, hal serupa juga dilakukan oleh pengusaha lain yang belum menerapkan IPAL. Dengan begitu, permasalahan limbah endapan bisa ditekan seminimal mungkin.

“Nanti tinggal menyisakan langkah rehabilitasi dan reklamasi terhadap lahan pertanian, perikanan dan sungai yang sudah tercemar endapan air limbah batu alam. Rencananya, sungai yang tercemar akan dikeruk mulai 2015, jadi mudah-mudahan akhir 2014 semua pengusaha sudah membangun IPAL,” katanya.

Sementara itu salah seorang pengusaha batu alam di Desa Cikalahang, Muslim (34) mengatakan, ia sudah membangun IPAL bersama sekitar sepuluh pengusaha lain di lingkungannya. “Biayanya ternyata murah, hanya sekitar Rp 30 juta dan itu pun dibagi sepuluh orang,” ucapnya.

Menurut Muslim, tiga unit IPAL yang masing-masing luasnya 15 meter persegi itu mampu menyaring endapan dari air limbah batu alam sampai tujuh ton atau sekitar 10.000 meter kubik dalam sebulan. Artinya air limbah satu pabrik pengolahan batu alam selama ini menghasilkan endapan 1000 meter kubik per bulan.

Dengan jumlah 200 industri pengolahan batu alam yang ada, selama ini setiap bulannya menghasilkan endapan ssekitar 200.000 meter kubik ke areal pertanian, perikanan dan sungai di sekitarnya.

Untuk itu, bisa dibayangkan endapan yang kini berada di dasar sungai selama bertahun-tahun. Jika dibiarkan, tentunya endapat tersebut akan semakin menimbulkan pendangkalan sungai yang bisa berakibat banjir dan bencana lain.

Selain Muslim, sekelompok pengusaha lain yang sudah menerapkan IPAL di Desa Bobos adalah Maman (45). Bersama rekan-relannya, Maman membangun sekitar sembilan kolam IPAL yang masing-masing berdimensi panjang 24 meter, lebar 3 meter dan kedalaman 5 meter.

Meskipun demikian, Muslim dan Maman beserta pengusaha lain yang sudah menerapkan IPAL saat ini masih kebingungan membuang endapan yang tersaring dari air limbah mereka.

Sejauh ini endapan tersebut memang bisa dijual sebagai material bangunan seharga Rp 50.000 per bak kendaraan pickup. “Namun pembelinya masih jarang, mau diberikan atau dibuang juga bingung harus ke mana,” kata Muslim. (Handri Handriansyah/A-89)***

You voted 'sedih'.

Baca Juga

kukang

17 Kukang Jawa Hasil Sitaan Dilepasliarkan di TNGC

MAJALENGKA, (PR).- Sebanyak 17 kukang jawa (Nycticebus javanicus) korban perdagangan online dilepasliarkan di hutan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Desa Bantaragung, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, Sabtu, 27 mei 2017.