Headlines

Terowongan KA Batulawang Riwayatmu Kini

NURHANDOKO WIYOSO/"PRLM"
NURHANDOKO WIYOSO/"PRLM"
ROHANA (70) warga Dusun Girimulya, Desa Binangun, Kecamatan Pataruman Kota Banjar berada di depan terowongan kereta api yang dikenal Terowongan Batulawang. Saat ini terowongan sepanjang 281,5 meter gelap dan becek, tidak lagi menyisakan rel maupun bantalan rel KA.*

BANJAR,(PRLM).- Sejarah keberadaan kereta api di wilayah Provinsi Jawa Barat yang berlangsung sejak masa penjajahan Belanda, tidak bisa dipisahkan dengan adanya jalur KA jurusan Banjar - Pangandaran.

Dalam perkembangannya moda trasnportasi massal tersebut semakin terdesak, sejak banyak armada bus melewati jalur tersebut.

Akibat semakin sedikitnya penumnpang, sehingga jalur tersebut tidak lagi menguntungkan, akhirnya sekitar tahun 1984 jalur tersebut ditutup.

Paska penutupan, praktis semua fasilitas KA seperti stasiun, halte termasuk real menjadi terbengkalai.
Bahkan saat ini, nyaris sudah tidak ada lagi besi rel maupun bantalannya.

Beberapa bangunan juga berada persisi disisi bekas rel. Yang tersisa hanya tampak bekas bahwa lokasi tersebut sebelumnya merupakan rel.

Selain itu juga cerita tentan kejayaan KA Banjar Pangandaran yang pada masa kejayaannya mendjadi moda utama warga Banjar menuju pangandaran, dan sebaliknya.

Pada masa kejayaannya KA jurusan Banjar - Pangandaran - Cijulang tersebut, masyarakat banyak yang menyebutnya dengan sebutan sepur (KA) klutuk.

Adapula yang menjuluki sepur Kuik. Sebutan KA kuik itu, identik dengan bunyi semboyan atau peluait saat KA yang sumber tenaganya dari hasil pembakaran kayu bakar itu.

Jalur KA Banjar - Cijulang sepanjang 82,160 kilometer tersebut, tutur Rohana (70) warga Dusun Girimulya, Desa Binangun, Kecamatan Pataruman, tidak jauh dari terowongan KA Batulawang, mengungkapkan memiliki empat terowongan yaitu, Terowongan Batulawang, Terowongan Hendrik, Terowongan Juliana dan Terowongan Sumber atau Wilhelmina.

"Saat itu bBegitu mendegar suara kuik- kuik, banyak anak-anak berlarian mendekat rel. Melihat KA lewat. Setelah itu kembali bermain. Menonton KA juga hiburan yang menyenangkan," ungkap Rohana.

Terwongan yang lebih dikenal dengan sebutan Terowongan Batulawanang, lokasinya diperbatasan antara Desa Batulawang dengan Binangun. Terowongan sepanjang 281,5 meter , saat ini kondisinya juga sangat memperihatinkan.

Untuk menuju terowongan, dari jalan Desa Binangun , harus ditempuh dengan jalan kaki sekitar 400 meter. Sebelum sampai di depan mulut terowongan, melintas beberapa rumah warga serta menembus kebun karet, yang saat ini kondisinya juga kurang terawat.

Pada bagian salah satu pintu terowongan, terdapat semak belukar. Beberapa pohon juga menjuntai dari atas ke bawah. Bagian bekas rela becek, tergenang air. Pada bagian ujung terlihat berkas sinar, yang merupakan ujung terowongan di sisi lainnya.

"Sebelumnya tidak ada yang berani melintas terowongan. Baru beberapa tahun lalu ada rombongan naik motor trail masuk terowongan. kalau real dan bantalannya sudah lama hilang. Saya tidak tahu siapa yang mengambil," ungkap Rohana yang merupakan warga asli Girimulya. mengenang kejayaan KA berikut terowongannya.

Dia menceritakan saat itu penumpang ramai. Umumnya penumang berabgkat dari Stasiun Batulawang, terus ke Banjar. Ketika tiba di batu lawang penumpang sudah penuh. Penumpang yang ke Banjar umumnya belanja kebutuhan sehari-hari, atau sekadar melancong atau wisata ke Kota Banjar.

"Ongkosnya masih Rp 5 sen. Kalau dihitung sekarang tidak tahu berapa ongkosnya. banyak yang berdiri, bahkan juga naik di atas gerbong," ungkap Rohana mengenang.

Ketika hendak melinta terowongan, masinis membunyikan peluti, bunyinya kui-kuik. Asap juga mengepul dari ceborong. Penumpang yang naik di bagian atap langsung merebahkan diri.

"Begitu kembali melihat cahaya, penumpang kembali duduk. pemandangannya masih indah," kata ayah dua orang putra itu.

Rohana mengaku tidak tahu ada informasi bahwa pihak PT KAI berencana kembali menmbukan jalur Banjar - Pangandaran. Dia hanya mengatakan , kemungkinan sulit direalisasikan.
Alasannya, karena saat ini seluruh rel nyaris sudah tidak ada. Demikian pula bantalan rel sudah hilang.

"Contohnya saja disekitar terowongan sudah tidak ada bekas rel. Semuan sudah tertutup tanah biasa. Di dekat terowongan hanya ada papan yang dipasang PT KAI. Apa mungkin kembali dibuka? soalnya sudah tidak ada rel," tutur Rohana. (A-101/A-89)***

Customize This