Headlines

Atut dan Wawan Ditetapkan Sebagai Tersangka Dalam Kasus Alkes Banten

JAKARTA, (PRLM).-Komisi Pemberantasan Korupsi akhirnya secara resmi menetapkan status tersangka bagi Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dalam kasus dugaan korupsi pengadaan alat-alat kesehatan di Pemerintah Provinsi Banten pada Tahun Anggaran 2011-2013. Atut menjadi tersangka untuk kasus alkes itu bersama adiknya, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan.

Juru Bicara KPK Johan Budi SP mengatakan, surat perintah penyidikan untuk kasus alkes Banten telah dikeluarkan KPK sejak Senin, 6 Januari 2014. Atut dan Wawan dijerat dengan pasal 2 ayat 1 dan atau pasal 3 UU Nomor 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.

“Setelah melakukan penyelidikan secara mendalam terkait dengan dugaan TPK yang berkaitan dengan sarana dan prasarana alat kesehatan di lingkungan Pemerintah Provinsi Banten Tahun Anggaran 2011-2013, penyidik telah menemukan dua alat bukti yang cukup, yang kemudian disimpulkan bahwa kasus ini bisa ditingkatkan ke tingkat penyidikan,” kata Johan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (7/1/2014).

Johan menyebutkan, sepasang kakak-adik yang berasal dari kalangan penyelenggara negara dan pengusaha itu diduga telah melakukan penggelembungan harga dalam pengadaan alkes di Banten. “Kalau dilihat dari pasal yang disangkakan, saya kira ini tidak jauh dari adanya dugaan penggelembungan,” tuturnya.

Sebagai Gubernur Banten, Atut dianggap telah menyalahgunakan wewenangnya dan bekerja sama dengan adiknya, Wawan untuk melakukan korupsi.

“Iya, jelas, dia (Atut) selaku Gubernur. Kalau dilihat pasalnya kan diduga menyalahgunakan wewenang yang mengakibatkan kerugian negara, menguntungkan diri sendiri dan orang lain atau korporasi,” kata Johan.

Johan mengaku belum tahu berapa nilai kerugian negara ataupun jumlah proyek dalam proyek alkes. Namun demikian, KPK berupaya terus melakukan pendalaman terkait kasus tersebut, sehingga tidak tertutup kemungkinan adanya tersangka lain yang terlibat.

“Ini kan baru penetapan penyelidikan ke penyidikan, tentu ini bisa dikembangkan. Jadi yang baru ditemukan dua alat bukti yang cukup ya baru dua ini (Atut dan Wawan). Nanti kalau ada lagi, bisa ditingkatkan ke penyidikan lagi atau sebagai tersangka, tetapi sampai hari ini yang ditemukan dua alat bukti yang cukup ya dua orang ini,” tuturnya.

Penetapan Atut dan Wawan sebagai tersangka dalam kasus alkes itu akan menambah berat hukuman bagi keduanya, karena sebelumnya mereka juga telah menjadi tersangka dalam kasus suap penanganan sengketa Pilkada Lebak, Banten di Mahkamah Konstitusi.

Pengacara Atut, Tubagus Sukama menyatakan kekecewaannya atas penetapan kliennya sebagai tersangka pada kasus alkes. Menurutnya, metode penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan KPK telah memaksakan kehendak dengan tidak menghormati hak-hak umum seseorang. Kendati menganggap terdapat kejanggalan, dia tetap menerima tindakan KPK tersebut.

“Ya. Jika memang Bu Atut telah ditetapkan sebagi tersangka dalam kasus Banten, saya kira ini adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Meskipun terdapat kenyataan yang aneh, di mana KPK lebih tertarik menetapkan beliau sebagai tersangka karena kedudukannya sebagai Gubernur Banten. Padahal, beliau hanya pada level pemegang kebijakan yang tidak mengurusi hal-hal teknis semacam proyek ketimbang pelaku sesungguhnya di tataran teknis (Dinas Kesehatan),” katanya melalui pesan singkat. (A-203/A-89)***

×
Customize This