"Ketika Bung di Ende", Sejarah Perjuangan Bung Karno

JAKARTA, (PRLM).-  Siapa yang tak kenal nama Soekarno atau yang juga dikenal Bung Karno? Sebagian besar dari kita tentu mengetahui presiden pertama RI tersebut. Begitu pentingnya peran Bung Karno dalam perjalanan kemerdekaan indonesia, banyak sekuel kehidupannya yang jadi pelajaran bagi siapapun saat ini.

Bung karno adalah tokoh proklamator yang sejak masa mudanya hingga wafatnya menempatkan komitmen persatuan di atas segala-galanya. Bung Karno juga merupakan tokoh yang mau bergerak membangkitkan semangat persatuan dan patriotisme pemimpin-pemimpin daerah demi kemerdekaan.

Hal tersebut disampaikan oleh Jusuf Kalla dalam kata pengantarnya di Bung Karno Ata Ende yang peluncurannya bersamaan dengan peluncuran film berjudul "Ketika Bung di Ende" (KBDE), di Djakarta Theater, Jakarta.

Seperti disampaikan Egy Massadiah produser KBDE, JK ungkapkan pandangannya tersebut kepada Egy dalam perjalanannya dari Yogyakarta menuju Manado. Waktu itu Egy meminta kesediaannya untuk memberikan kata pengantar dan beliau mengiyakannya.

Tentang kehidupan Bung Karno, JK juga menyatakan bahwa dalam pengasingannya, Bung Karno benar-benar menjadi bagian dari Ende.

"Bung Karno dulu menyebut Ende sebagai 'ujung dunia'. Namun, sejarah kemudian mencatat, Bung Karno akhirnya menjadi bagian yang tidak akan pernah bisa dilepas dari tanah Ende Flores. Karenanya saya setuju dengan judul buku ini, 'Bung Karno Ata Ende', yang artinya 'Bung Karno Orang'," tulis JK.

Pembuangan Bung Karno ke desa kecil bernama Ende memiliki banyak dampak pada proses kemerdekaan RI. Menurut Egy yang juga politisi Partai Golkar ini, momen pembuangan Bung Karno adalah hanyalah pembuangan Bung karno secara fisik dibuang.

"Tapi karena dia orang hebat dia mampu memetik pembuangan itu. Orang boleh dipenjara, tetapi pikiran itu merdeka," ujar politisi partai golkar itu.

Ende adalah sebuah Kabupaten di Pulau Flores NTT yang menjadi tujuan Belanda mengasingkan Bung Karno pada 14 Januari 1934 – 18 Oktober 1938. Bung Karno diasingkan karena aktivitasnya di Partai Nasional Indonesia yan dianggap membahayakan pemerintahan Hindia Belanda.

Di Ende, dalam biografinya, Bung Karno diceritakan gemar menyendiri gemari adalah di bawah pohon sukun (Artocarpus communis) yang posisinya menghadap ke laut. Di bawah pohon sukun itulah, Bung Karno merenung merumuskan cikal bakal falsafah dasar negeri ini yang di kemudian hari kita kenal dengan nama Pancasila.

Dalam pemutaran perdana ini, KBDE juga dihadiri oleh Sukmawati Soekarnoputri. Menurutnya, film ini adalah hadil kerja yang bagus dari sang eksekutif produser Egy Massadiah untuk menghadirkan semangat Bung Karno ke tengah-tengah anak muda saat ini.(A-147)***

You voted 'tidak peduli'.