Ulama Harus Menjaga Moral Penguasa

JAKARTA, (PRLM).- Tidak dimungkiri bahwa dunia Islam memberikan sumbangsih yang sangat besar dalam pembangunan peradaban di muka bumi. Kontribusi dunia Islam di antaranya dapat dilihat dari berbagai disiplin ilmu yang dilahirkan dari pemikir-pemikir Islam dan para ulama.

Pinpinan Pondok Pesantren Al Haji Pekalongan, Al Habib, Sayyid Achmad Barakba mengatakan, peran ulama baik dalam pemikiran keagamaan maupun gerakan perjuangan melawan kolonialisme sangat besar. Ulama menjalankan dua fungsi yang sangat penting, yaitu memberikan pendidikan dan menyebarkan agama Islam serta menjadi simbol perjuangan.

"Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini, peran ulama dibutuhkan untuk menjaga akhlak dan moral para penguasa. Jika penguasa melakukan penyimpangan kekuasaan seperti korupsi, kolusi dan nepotisme maka yang paling awal untuk mengingatkan adalah ulama," kata Sayyid, di Jakarta, Jumat (15/11/2013)

Menurut dia, kerusakan para penguasa disebabkan kerusakan ulama dan yang menyebabkan ulama rusak adalah karena cinta harta dan kedudukan. Jika merujuk pendapat Al-Ghazali mungkin lahir sebuah hipotesis tentang hubungan antara ulama dan penguasa (dalam konteks terjadinya kerusakan pada penguasa dan ulama).

Terdapat sebuah simbiosis mutualisme (negatif) yang terbangun, dimana penguasa mendapatkan dukungan/legitimasi dari ulama yang dibayar dengan jabatan dan harta yang diberikan oleh penguasa.

"Akibatnya, ulama menjadi terkooptasi dan fungsi penjaga akhlak dan moral menjadi terabaikan. Terlebih jika mendekati pesta demokrasi seperti pemilu dan pemilukada. Tentu hal itu hanya sebuah dugaan/analisa yang mungkin saja tidak terjadi. Meskipun ada tentu hanya oknum dan sebagian kecil saja yang tidak mencerminkan sikap dan perilaku seluruh ulama," katanya.

Dia menambahkan, keberanian dan ketegasan ulama seperti sikap para ulama terhadap kolonialisme dibutuhkan terhadap segala bentuk penyimpangan yang dilakukan oleh penguasa tanpa terkecuali.

Negara ini, kata Sayyid, pemerintah butuh Figur yang refresentatif, seperti Saidina Husein yang merupakan ulama pilihan nabi yang bisa jadi contoh di segala jaman. Sayangnya figur tersebut banyak di lupakan. Namun di sisi lain banyak orang muslim mengajarkannya dengan sebuah gerakan kekeras.

Menurut dia, pemimpin itu ada yg di pilih kekuatan dan kekuasaan. Banyaknya korupsi, karena tidak adanya pemimpin seperitual. Bayak hal yang selalu berubah profesi, dan yang paling mudah jadi ulama.

"Sebenaranya Islam sendiri tidak menginginkan gejolak, karena Islam harus mewarnai segala kehidupan. Islam harus menjadi agama spritualitas sebagai agama yang sejuk. Bukan karena mengaku islam lalu korupsi dan naik haji," ucapnya.

Dia menambahkan, peran ulama sangat di tunggu dalam memperbaiki bangsa, bukan ulama yang hanya menakuti umatnya dengan gaya dan teori asa-asalan, karena penampilanya tapi ajaran dan ajakannya jauh dari pesan-pesan ulama. "Pemerintah harus bertindak pada ajaran yang salah dengan islam yang selalu mengajarkan kekerasan," tuturnya. (A-194/A-147)***

Baca Juga

Gunung Agung Siaga, Peningkatan Aktivitasnya Berpotensi Bencana

BANDUNG,(PR).- Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) telah melansir kenaikan aktifitas Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali dari level II menjadi Level III atau dari level waspada menjadi level siaga, Senin,

Kapuspen TNI: Pernyataan Gatot Nurmantyo Bukan Konsumsi Publik

JAKARTA, (PR).- Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Wuryanto, menegaskan, pernyataan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo soal adanya institusi yang memesan 5.000 senjata dengan mencatut nama Presiden Joko Widodo, bukan