Indonesia HarusTegas Terhadap Kasus Penyadapan

NASIONAL

JAKARTA (PRLM).- Indonesia disadap oleh Amerika dan Australia. Berbagai pihak mendorong agar pemerintah memutuskan hubungan diplomatik kedua negara tersebut. Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) pun dituding tidak sepenuh hati menjalankan tugasnya, karena sibuk dengan urusan Pemilu. "Soal pemutusan hubungan diplomatik, itu bisa saja, tergantung keberanian Pemerintah," kata Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hasanudin, di DPR, Rabu (6/11/2013).

Menurut dia, bangsa ini harus dijaga. Kebocoran atau penyadapan itu membongkar-bongkar kerahasiaan negara. Ini kaitannya dengan marwah bangsa. "Jangan ketika menyangkut urusan pribadi, kita marah, tetapi ketika menyangkut urusan negara, kita diam saja," ungkapnya.

Hasanudin menambahkan, begitu tahu ada penyadapan, dan benar atau diyakini ada pelanggaran, harus diambil tindakan keras. Jadi, tidak usah menunggu pemerintahan yang baru. "Itu kalau memang masih menganggap dirinya ada pemerintahan ini," tegasnya.

Soal UU Anti penyadapan, itu untuk intern di Indonesia, karena nanti akan ada banyak lembaga-lembaga yang resmi yang kemudian memiliki hak untuk menyadap orang. Itu bisa disalahgunakan.
Ada pun Lemsaneg sebagai lembaga negara yang menguasai kerja dan teknologi penyadapan, saat ini dinilai tidak mengerjakan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi). Lemsaneg belakangan lebih sibuk ingin mengurusi pengamanan data Pemilu 2014. "Kalau menurut saya malah lebih ahli untuk mengurusi Pemilu," ujar politisi PDIP itu.

Hasanudin menyatakan, dalam konvensi internasional, memang antar negara itu dilarang mancari informasi secara ilegal seperti, melakukan pengintaian, penyelidikan diam-diam, penyadapan, termasuk spionase. "Itu dilarang dan itu bisa dibawa ke Mahkamah Internasional," ungkapnya.

Kemudian sekarang ada sebuah kasus yang dilakukan Pemerintah Australia kepada Pemerintah Indonesia atau negara lain, itu bisa dibawa ke Mahkamah Internasional. Tetapi sebelum dibawa, boleh Pemerintah Indonesia atau negara yang merasa dirugikan, melakukan tindakan diplomatik, mulai dari memanggil, memberikan peringatan, teguran ringan, teguran keras, sampai mengusir Dubes atau kepala perwakilan.

Tetapi tentu ada syaratnya, pertama punya cukup bukti, bahwa memang terbukti negara itu melakukan penyadapan atau spionase. Sekarang bukti itu dimana? Harus bisa dibuktikan baik melalui teknologi, maupun data atau informasi yang akurat. Misalnya kalau melalui teknologi, diminta keterangan kepada Lemsaneg. "Sayangnya Lemsaneg sibuk urusi Pemilu kan," ujarnya. (A-109/A-147)***

Baca Juga

Muktamar Ke-47 Muhammadiyah

Gerakan Pencerahan Muhammadiyah Berlangsung Dinamis

NASIONAL

MAKASSAR, (PRLM).- Gerakan Pencerahan Muhammadiyah berlangsung dengan cukup dinamis. Cukup banyak cabang dan ranting baru yang didirikan atau dihidupkan kembali, serta tak sedikit amal usaha baru yang bisa didirikan, khususnya dalam bidang pelayanan kesehatan.

Muktamar Ke-47 Muhammadiyah

2.568 Pemegang Hak Pilih Tentukan Pimpinan Muhammadiyah

NASIONAL

MAKASSAR, (PRLM).- Korps Serba Guna (Kosegu) memperketaet pengamanan dalam pemilihan calon pimpinan PP Muhamamdiyah di Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Universitas Muhamamdiyah Makassar (Unismuh), Rabu (5/8/2015).

Dua Sejoli Kepergok Berbuat Mesum di Gua Lebar

NASIONAL
SAMPANG, (PRLM).- Gara-gara kepergok berbuat mesum di sekitar lokasi wisata Gua Lebar Desa Rongtengah, Kecamatan Kota, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, sepasang kekasih dinikahkan paksa oleh warga setempat.
 

Suami Kerja di Malaysia, Istri Punya Hubungan Gelap

NASIONAL
PAMEKASAN, (PRLM).- Sesosok mayat bayi ditemukan terbungkus plastik di areal Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Korong Laok, Desa Sana Tengah, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur.