Paceklik, Harga Gabah Melonjak

BANYUMAS, (PRLM).- Harga gabah meroket mencapai Rp 4.500 per kilogram untuk jenis premium, sementara gabah jenis padi asalan Rp 4.200 per kg. Meroketnya harga gabah karena Jawa Tengah sedang menghadapi musim paceklik. Panen hanya berlangsung di beberapa titik itupun dalam skala sangat kecil.

Harga gabah premium ditingkat petani semula sekitar Rp 3.700 per kg kini naik menjadi Rp 4.500 per kg, sedangkan gabah jenis padi medium dari Rp 3500 menjadi Rp 4200 per kg.

"Hampir di seluruh daerah di Jateng sedang menghadapi kekeringan, tidak ada panen sehingga harga gabah naik,"kata Suparjo pedagang beras asal Demak yang kebetulan singgah di Banyumas Jumat (4/10/13).

Kekeringan memaksa Suparjo melakukan penelusuran ke sejumlah daerah mencari lokasi sawah yang sedang panen. Dari hasil pantuan tersebut dia berhasil menemukan sejumlah titik lokasi panen dalam skala kecil yakni di Pekalongan, Batang dan Cilacap. Sedang di daerah lain sawahnya kering semua.

Produksi padi gabah yang sangat terbatas tersebut menjadi rebutan para pedagang kondisi demikian ikut memicu melambungnya harga gabah pada musim paceklik. "Pedagang berani membeli dengan harga tinggi, karena produksinya sangat terbatas dan pedagang yang menginginkannya banyak," jelasnya.

Namun menurutnya melambungnya harga gabah tidak dibarengi dengan kenaikan harga beras, relatif lebih stabil. Menurutnya karena permintaannya cenderung rendah.

Suparjo menambahkan, beras super seperti pandanwangi hanya Rp 8.200 - Rp 8300 per kg sedang beras IR 64 semula Rp 7.700 per kg.

"Harga gabah dari petani naik terus, sementara di pasar lokal harga jual beras relatif stabil karena permintaan sangat rendah,"terangnya.

Kondisi demikian menyebabkan keuntungan yang berhasil dia raup sangt minim, dia hanya memperoleh keuntungan yakni dari sisa bekatul.

Humas Badan Logistik Divre Banyumas Priono mengakui harga gabah di Banyumas harga gabah sesuai standar Bulog yang dijual di pasar lokal juga mengalami kenaikan berkisar Rp4100-4200 per kg atau lebih tinggi dari standar pembelian Bulog.

Disisi lain harga beras relatif stabil, dia menduga faktor penyaluran raskin hingga ke-15 tahun ini, ditambah jatah raskin reguler mampu menekan kenaikan harga beras di pasaran. "Ada kemungkinan karena penyaluran raskin sebanyak itu mampu menekan kenaikan harga beras sehingga harga beras tidak ikut melambung," jelasnya.

Kenaikan harga gabah karena tidak ada panen, areal persawahan di sejumlah wilayah di Jateng selatan bagian barat, seperti Cilacap, Banyumas, hingga Kebumen sebagian besar diberokan (dianggurkan) karena tidak ada air, sebagian kecil lainnya ditanam palawija. "Tapi panen kecil masih ditemukan di Cilacap, namun jumlahnya tidak signifikan," terangnya.

Kemarau yang memicu meroketnya harga gabah membuat Bulog membatasi pembelian, harga di pasar sudah tidak terjangkau untuk pengadaan pangan.

Meski demikian setoran beras ke Bulog masih berlangsung jumlahnya tidak lebih dari 400 ton per hari, beras yang masuk merupakan sisa kontrak pengadaan waktu sebelumnya. Padahal saat panen setoran beras berkisar 1000-2000 ton per hari.

Hingga bulan ini, stok beras di semua gudang Bulog Subdivre IV Banyumas masih terdapat 43.000 ton atau cukup untuk melayani raskin hingga April mendatang. (A-99/A-108)***

Baca Juga

Aher Optimistis Arab Saudi Akan Berinvestasi di Jabar

BOGOR, (PR).- Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) menyambut baik kedatangan Raja Salman Bin Abdul Azis ke Indonesia pada Rabu 1 Maret 2017 dan dijadwalkan akan melakukan pertemuan di Istana Bogor.

Indonesia Tindak Lanjuti Enam Poin Kerja Sama UKM dengan Arab Saudi

JAKARTA, (PR).- Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Koperasi dan UKM akan menindaklanjuti enam poin nota kesepahaman (MoU) kerja sama mengenai pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) dengan otoritas UKM Kerajaan Arab Saudi berlanjut.

Ini Bukti Perekonomian Jawa Barat Terus Membaik

BANDUNG, (PR).- Setelah membukukan kinerja yang positif pada 2016, perekonomian Jabar pada 2017 diperkirakan akan terus membaik. Laju pertumbuhan ekonomi Jabar diperkirakan akan berada pada kisaran 5,5 persen - 5,9 persen.