Kewirausahaan Indonesia Tertinggal

EKONOMI

JAKARTA, (PRLM).- Jumlah kewirausahaan Indonesia di Asia Tenggara hingga saat ini masih tertinggal. Hal itu berdasarkan jumlah wirausahawannya yang masih sedikit, yakni baru 1,56 persen dari total jumlah penduduk.

"Dibandingkan negara tetangga, Indonesia masih tertinggal jauh. Jumlah wirausahawan Malaysia mencapai 4 persen, Thailand 4,1 persen, dan Singapura 7,2 persen. Agar bisa menggerakkan ekonomi nasional, jumlah wirausahawan minimal 2 persen," ungkap Ketua Dewan Komisioner Diplomat Success Challenge (DSC) 2013 Surjanto Yasaputera saat peluncuran DSC 2013, di Jakarta.

Menurut dia, kewirausahaan di Indonesia harus terus didorong agar lebih banyak lagi melahirkan wirausawan baru. Berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri, pertumbuhan tenaga kerja per tahun mencapai 2,91 juta orang. Namun, pertumbuhan lapangan pekerjaan hanya 1,6 juta orang.

"Oleh karena itu, kompetisi seperti DSC membantu kewirausahaan dan meningkatkan lapangan kerja serta menjadi wadah bagi mereka untuk tetap menjaga semangat ingin mencoba," ujarnya.

Seperti diketahui, DSC merupakan ajang pencarian calon pengusaha andal dengan ide bisnis paling brilian. Dalam ajang ini, peserta harus mengirimkan proposal ide bisnis untuk kemudian disaring oleh tim seleksi. Calon peserta dan proposalnya yang lolos di penyeleksian akan diikutsertakan ke tahap berikutnya. Di tahap ini para peserta memiliki sebutan baru, yaitu Challenger.

Pendaftaran secara online sudah dibuka hingga 27 September 2013. Calon peserta dapat mengirimkan proposal bisnis ke www.wismilak-diplomat.com. Enam grand finalis akan dipilih untuk mendapatkan hadiah total Rp 1 miliar.

Helmi Yahya selaku salah satu komisioner menambahkan, jika jumlah pengusaha Indonesia mencapai 2 persen maka pertumbuhan ekonomi nasional akan dapat mengalahkan Cina yang tumbuh di atas 10 persen.

Kecilnya jumlah pengusaha Indonesia itu karena kurikulum di sekolah tidak didesain untuk menciptakan wirausaha. Mereka belum dididik menjadi pengusaha yang andal, ulet, kuat dan gigih dalam memperjuangkan usahanya. "Anak-anak sejak kecil dari rumah ke sekolah hanya dididik untuk bisa menjadi dokter, polisi, tentara, maupun pegawai negeri," kata Helmi.

Untuk menjadi pengusaha, diperlukan waktu cukup lama, memiliki pengetahuan, piawai, dan pesona yang merupakan karakteristik dasar calon pengusaha. (A-78/A-147)***

Baca Juga

Aktivis: Industri Raup Rp 91,3 Juta Per Kematian Akibat Tembakau

EKONOMI

PRLM - Industri tembakau mendapatkan 7.000 dolar AS (Rp 91,3 juta) untuk setiap orang, lebih dari enam juga orang yang mati setiap tahun akibat penyakit terkait merokok. Demikian menurut kelompok advokasi kesehatan Yayasan Paru-paru Dunia (WLF).

Pemkab Bandung Jalin Kerjasama dengan BTPN

EKONOMI

SOREANG, (PRLM).- Dalam upaya mempersiapkan masa depan para pensiunan PNS yang lebih baik, Pemkab Bandung menjalin kerjasama dengan Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Tbk.

Terkait Protes Para Investor

Pekerja Asing tak Perlu Lancar Bahasa Indonesia

EKONOMI

JAKARTA, (PRLM).- Pemerintah akan mencabut rencana yang akan memaksa pekerja asing untuk mengambil ujian kelancaran berbahasa Indonesia menyusul protes dari para investor, menurut dua pejabat pemerintah.

Pasar Pelumas Disiapkan untuk Tumbuh 4,7%

EKONOMI

JAKARTA, (PRLM).- Pasar Pelumas di Asia Tenggara disiapkan untuk tumbuh 4,7% selama tahun 2014-2019, menurut laporan baru dari Ipsos Business Consulting, sebuah perusahaan konsultan global untuk strategi penjualan dan pemasaran.