Pohon Peneduh Jalan di Kuningan Kembali Menjadi Korban Kampanye Pemilu

DUA baliho calon anggota legislatif dipasang dipaku pada pohon di kanan kiri ruas jalan provinsi di Kab. Kuningan. Pemasangan baliho dipaku pada pohon di Kuningan kini banyak dilakukan pula oleh pihak pemasang baliho sosialisasi pasangan calon Bupati dan
NURYAMAN/PRLM
DUA baliho calon anggota legislatif dipasang dipaku pada pohon di kanan kiri ruas jalan provinsi di Kab. Kuningan. Pemasangan baliho dipaku pada pohon di Kuningan kini banyak dilakukan pula oleh pihak pemasang baliho sosialisasi pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Kuningan.*

KUNINGAN, (PRLM).-Puluhan hingga ratusan pohon peneduh jalan di sejumlah ruas jalan provinsi dan jalan kabupaten bahkan jalan poros desa di Kab. Kuningan akhir-akhir ini kembali menjadi korban kampanye pemilihan umum (pemilu).

Batang pohon di tepi sejumlah ruas jalan tersebut, kini banyak yang dijadikan tiang pancang dan penyangga bingkai baliho serta atribut sosialisi pasangan calon bupati dan wakil bupati serta sejumlah calon anggota legislatif dengan cara dipaku.

Diperoleh keterangan pemasangan baliho serta atribut sosialisasi pasangan calon peserta pemilu Bupati dan wakil Bupati Kuningan tahun 2013 serta calon legislatif untuk pemilu 2014 itu, umumnya dilakukan tim kampanye dan simpatisan para calon.

Namun, sejauh ini Pemkab Kuningan terkesan belum juga menegur tindakan perusakan pohon tersebut, apalagi menggusur atribut yang dipasang dengan cara memaku pohon seperti halnya yang dilakukan pada masa-masa sosialisasi dan kampanye Pemilihan Gubernur Jawa Barat beberapa waktu yang lalu.

Teramati, menjelang pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kuningan yang akan berlangsung 15 September 2013, dalam beberapa bulan terakhir sejumlah ruas jalan di Kuningan sudah banyak diwarnai pemancangan baliho dan spanduk sosialisai calon pasangan peserta pemilu tersebut. Termasuk juga baliho sejumlah calon anggota legislatif untukk pemilu 2014.

Sebagian di antaranya baliho-baliho yang terpampang di pinggir ruas jalan itu dipasang dengan cara dipaku langung pada batang pohon. Selain itu banyak juga yang dipancang menggunakan tiang potongan bambu dan kayu, tetapi bingkai dan tiang pancangnya tetap diperkuat dengan cara dipaku pada batang pohon.

Menyikapi kenyataan tersebut, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Aktivitas Anak Rimba (LSM AKAR) Kuningan Maman Mejique (47), menyatakan pihaknya sangat prihatin.

"Kami mohon pihak apa pun, yang hendak memancang atribut kampanye pemilu atau reklame di pinggir jalan jangan seenaknya memanfaatkan dan memaku batang pohon seperti itu," ujar Maman Mejique, mengimbau melalui "PRLM", Senin (12/8/2013).

Selain itu, Ketua dari LSM peraih anugerah Kalpataru tersebut meminta kepada para pihak terkait di Pemkab Kuningan, segera melakukan tindakan tegas menyetop perusakan pohon tersebut.

Bila perlu, ujarnya, para pihak yang terkait dengan urusan lingkungan hidup dan ketertiban di Pemkab Kuningan, segera turun tangan mencabut semua atribut yang dipaku di pohon-pohon tersebut.

"Semestinya perusakan pohon dengan cara dipaku begitu, jangan dibiarkan terjadi di Kuningan. Terlebih Kuningan kan, sudah memproklamirkan sebagai kabupaten konservasi," ujar Maman.

Dimintai tanggapan mengenai hal itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kab. Kuningan Deni Hamdani, juga membenarkan bahwa akhir-akhir ini di Kuningan telah bermunculan kembali baliho-baliho yang dipaku pada pohon di tepi jalan.

Tidak hanya itu (yang dipaku pada pohon), berdasarkan pemantauan kami di lapangan, akhir-akhir ini banyak juga alat peraga seperti spanduk atau banner dan baliho yang dipasang tanpa mengikuti peraturan lingkungan dan ketertiban yang berlaku di Kab. Kuningan. "Misalnya ada yang dipasang pada tiang telefon, tiang listrik, serta di pohon-pohon perindang jalan," kata Deni Hamdani, Senin (12/8/2013).

Menyikapi hal itu, Satpol PP Kab. Kuningan Senin (12/8/2013) telah menerbitkan dan mengirimkan dua surat masing-masing untuk para Camat dan para Ketua Tim Pemenangan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kuningan.

Melalui dua surat tersebut Satpol PP intinya meminta bantuan agar pihak kecamatan dan tim pemenangan calon tersebut, membongkar atribut yang pemasangannya melanggar aturan.

"Termasuk di antaranya membongkar atribut yang dipasang dengan cara memaku pohon," ujar Deni, seraya menujukkan foto copy surat tersebut yang ditandatangani olehnya dan telah disebarkan pihaknya Senin (12/8/2013).

Melalui surat yang ditandatangani Deni Hamdani tersebut, Satpol PP Kab. Kuningan memberikan batas waktu penertiban oleh pihak kecamatan dan tim pemenangan pasangan calon itu hingga tanggal 26 Agustus 2013.

"Apabila lewat batas waktu itu, masih terdapat atribut yang terpasang pada tempat-tempat yang melanggar peraturan, termasuk yang dipaku pada pohon, kami akan turun tangan menertibkan atribut-atribut yang bersangkutan," kata Deni.(A-91/A-89)***

Baca Juga

sensus ekonomi, kepala BPS, Suryamin

Jika Petugas Sensus Memungut Biaya, Laporkan!

GARUT, (PR).- Sebanyak 340.000 seluruh petugas sensus BPS mulai melaksanakan sensus ekonomi serentak se-Indonesia sejak 1 Mei sampai dengan 31 Mei 2016. Sementara jumlah petugas sensus di Kabupaten Garut sebanyak 2.747 orang yang disebar ke seluruh wilayah.

JULIA Perez belajar bahasa Palembang untuk kepentingan film "Gending Sriwijaya".*

13 Lagu Dangdut Ini Dilarang Disiarkan di Jawa Barat!

BANDUNG, (PR).- Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat menerbitkan Surat Edaran yang isinya melarang 13 lagu dangdut disiarkan di televisi dan radio lokal Jawa Barat. Selain itu, 11 lagu dangdut lainnya hanya boleh disiarkan pada malam hari, mulai pukul 22.00-05.00 WIB.

Harga Tanah di Patimban Langsung Melonjak

SUBANG, (PR).- Harga lahan di Desa Patimban Kecamatan Pusakanagara Kabupaten Subang semakin melonjak, menyusul adanya kepastian rencana pembangunan pelabuhan internasional. Apabila sebelumnya lahan tambak per hektare tak lebih dari Rp 150 juta, kini harganya sudah dipatok di atas Rp 300 juta.