Headlines

Kudeta Mesir, Pelajaran Agar Pemimpin Tidak Semena-Mena

BANDUNG, (PRLM).-Kejatuhan mantan Presiden Mesir Muhammad Mursi memberi pelajaran penting untuk Indonesia bahwa pemimpin yang dipilih secara demokratis sekalipun tidak boleh semena-mena atau otoriter.

Pemimpin tidak boleh memonopoli kekuasaan tetapi harus konsisten mengamban amanat demokrasi untuk kepentingan rakyat. Hal ini dikemukakan Pengamat Politik Timur Tengah Zuhairi Misrawi, Sabtu (6/7/2013).

“Kalau dukungan rakyat disia-siakan, pemimpin akan menghadapi tuntutan massa yang sangat besar dan digulingkan secara tidak terhormat. Bagi Indonesia misalnya, pemimpin harus mengemban amanah rakyat dan mengambil mandat yang disampaikan dalam Pancasila,” kata Zuhairi.

Kudeta pada Mursi yang dimotori anak-anak muda menurut Zuhairi terjadi karena berbagai kegagalan Mursi dalam setahun memimpin Mesir.

Hal ini terlihat jelas pertama, dengan tidak adanya jaminan tentang keamanan sehingga dalam setahun terakhir banyak perampokan dan pembunuhan. Kedua pada bidang ekonomi terjadi krisis bahan bakar gas, bensin, listrik, dan mahalnya harga sembako.

Kesalahan ketiga, dalam bidang politik Mursi mengeluarkan dekret yang melanggar kewenangannya sebagai presiden yang dipilih secara demokratis. Keempat, Mursi membuat konstitusi yang bersifat prematur atau dipaksakan.

“Konstitusi ini lahir tanpa meminta pendapat berbagai pihak rakyat Mesir walau pada akhirnya konstitusi itu menang dalam refrendum tetapi itu prematur,” kata Zuhairi.

Puncak kesalahan Mursi dinilai Zuhairi terlihat saat detik-detik terakhir penggulingan Mursi, dia masih mengangkat sejumlah gubernur dari fraksi Ikwanul Muslimin.

Padahal Mesir sedang dalam transisi menuju demokrasi sehingga membutuhkan konsensus nasional dan perlu melibatkan berbagai kelompok di Mesir.

Pengangkatan ini menurut Zuhairi membuat Mursi dianggap tidak punya itikad baik dan tidak mementingkan kepentingan nasional tetapi kepentingan kelompoknya sendiri.

“Ikwanul Muslimin ini terlihat hegemoni dan monopoli sekali. Inilah yang menyebabkan Mursi dijatuhkan dengan tragis bahkan dengan demontran besar yang mencapai 17 juta orang yang turun ke jalan,” katanya.

Hal yang menarik menurut Zuhairi dalam penggulingan ini adalah gerakan kudeta yang yang digerakkan anak muda dan dimotori gerakan tamarhut. Gerakan ini menurut Zuhairi merupakan gerakan pembangkangan sipil, gerakan pemberontakan menarik dukungan pada Mursi.

Petisi juga ditandatangani oleh 26 juta penduduk Mesir. Padahal, Zuhairi mengatakan suara Mursi dalam pemilihan tercatat sekitar 6 juta suara dan menjadi 11 juta suara dalam putaran kedua. Ini petisi itu pun punya legitimasi untuk menarik dukungan dari Mursi. (A-199/A-89)***

Komentari di Facebook !
Customize This