Bupati Cirebon Dedi Supardi Terancam Dipecat dari PDIP

POLITIK

SUMBER, (PRLM).- Bupati Cirebon Dedi Supardi terancam dipecat dari statusnya sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Pasalnya, Dedi dinilai tidak mematuhi instruksi partai untuk mendukung Sunjaya Purwadi Sastra-Tasiya Soemadi Al Gotas sebagai pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati yang mendapat rekomendasi dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP.

Seperti diketahui, Dedi sebenarnya masih berjalan di koridor saat istrinya Sri Heviyana mendaftarkan diri sebagai bakal calon bupati ke DPC PDIP Kabupaten Cirebon. Namun Heviyana akhirnya gagal maju dari PDIP, karena rekomendasi jatuh ke tangan Sunjaya-Tasiya.

Keluarnya rekomendasi Sunjaya-Gotas tersebut, lantas membuat Heviyana berubah jalur dan menggandeng Rakhmat dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

Heviyana-Rakhmat sendiri sudah resmi terdaftar sebagai pasangan balon bupati dan wakil bupati yang diusung koalisi Partai Hanura bersama empat parpol non parlemen lain dengan jumlah dukungan sekitar 16,27 persen suara.

Tasiya sebagai Ketua DPC PDIP Kabupaten Cirebon dengan tegas menyatakan kemungkinan dipecatnya Dedi sebagai kader PDIP.

“Dari aturan internal sudah jelas bahwa setiap kader yang tidak mematuhi instruksi pimpinan dan tidak mendukung bakal calon yang direkomendasi DPP, maka sanksinya terancam dipecat sebagai kader,” ujarnya.

Menurut Tasiya, wacana senada juga sudah dilontarkan Ketua DPD PDIP TB. Hasanudin saat menghadiri deklarasi dan menghantarkan pasangan Sunjaya-Tasiya ke KPU Kabupaten Cirebon beberapa waktu lalu.

Sementara itu calon bupati dari PDIP, Sunjaya Purwadi berharap para bakal calon yang tidak mendapat rekomendasi tetap mendukung pasangan yang mendapat rekomendasi.

“Sesuai dengan kesepakatan awal saat mendaftarkan diri ke PDIP, siapapun yang mendapat rekomendasi harus didukung oleh calon lain yang tidak mendapat rekomendasi,” katanya.

Seperti diketahui, PDIP Kabupaten Cirebon memang sempat dipadati sejumlah calon kuat yang mendaftarkan diri ke parpol berlambang banteng tersebut.

Selain Sunjaya, Tasiya dan Heviyana, rektor Unswagati Djakaria Machmud, Tarmadi dan sejumlah nama lain juga sudah memajang foto mereka yang didampingi lambang PDIP atau Ketua DPP PDIP Megawati Soekarno Putri dalam baliho dan spanduk sosialisasi.

Meski demikian, pascaturunnya rekomendasi DPP, para calon tersebut terkesan tak acuh dengan pengusungan Sunjaya-Tasiya. Namun, Sunjaya sendiri mengaku sudah melakukan pembicaraan dengan Djakaria untuk tetap mendukung calon dari PDIP.

Menurut Sunjaya, masalah dukungan pribadi adalah hak asasi setiap orang. Namun jika sudah ada komitmen dengan parpol, seharusnya semua pihak mematuhi dan memegang komitmen mereka untuk tetap berada di PDIP dengan segala kekurangan dan kelebihannya. (A-178/A-89)***

Baca Juga

PDIP Salahkan Seskab Soal Utang IMF

POLITIK

JAKARTA, (PRLM).- Ada tidaknya hutang Indonesia kepada IMF (international monetary fund) menjadi‎ polemik berkepanjangan. Partai pendukung Pemerintah, PDIP, menyalahkan pejabat di sekitar Presiden, khususnya Sekretaris Kabinet Andi Wijayanto atas kesalahan pernyataan Presiden Jokowi.

Pimpinan DPR Jadi Panggil KPU

POLITIK

JAKARTA, (PRLM).- Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat memanggil Komisi Pemilihan Umum pada Senin (4/5/2015) mendatang. Bersama Komisi II dan Mendagri, mereka akan membahas rekomendasi panja Komisi II.

UU Pilkada ‎Bisa Pecahkan Rekor Dunia

POLITIK

JAKARTA, (PRLM).- Apa yang menarik dari Undang-Undang No. 8/2015 tentang Pemilihan Kepala Daerah? Jawabannya barangkali adalah UU ini bakal memecah rekor dunia.

Muncul Kegaduhan Sebelum Pembukaan Kongres Partai Demokrat

POLITIK
Muncul Kegaduhan Sebelum Pembukaan Kongres Partai Demokrat

SURABAYA, (PRLM).- Kendati Kongres Partai Demokrat (PD) baru dibuka Selasa (12/5/2015) malam , namun kegaduhan politik partai sudah terjadi sejak Selasa siang. Kegaduhan tersebut dipicu oleh bocornya rancangan tata tertib kongres kepada sejumlah peserta.