Headlines

Rudat Akrobat Hasil Program Pewarisan Kesenian Tradisional

RETNO HY/"PRLM"
RETNO HY/"PRLM"
MIMI Rubiyah (56) seorang seniman Rudat Akrobat Bintang Wisata mengangkat sepeda motor yang ditupangi dengan kekuatan dua kakinya pada Evaluasi Program Pewarisan Kesenian Tradisional Rudat Akrobat dari Kamp. Bolang, Desa Jatisura, Kec. Cikedung, Kab. Indramayu bertempat di halaman Kantor Kecamatan Cikedung Kab. Indramayu, Selasa (18/6).*

INDRAMAYU, (PRLM).- Kepedulian pemerintah provinsi Jawa Barat memberikan perhatian lebih kepada pemerintah daerah dalam pelestarian seni budaya. Pelestarian seni budaya tradisi di daerah menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menjaga dan mempertahankan warisan budaya sekaligus perekonomian para pelakunya.

“Selama ini masih ada anggapan kalau pemerintah kurang serius dalam menangani pelestarian dan pengembangan seni tradisi. Tapi kalau menyaksikan langsung keberhasilan pelaksanaan Program Pewarisan yang dilakukan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat melalui Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat bersama Dinas Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Indramayu, kiranya anggapan tersebut tidak semuanya benar,” ujar Kadisparbud Jabar Drs. Nunung Sobari M.M., dalam sambutannya pada Evaluasi Program Pewarisan Kesenian Tradisional Rudat Akrobat dari Kamp. Bolang, Desa Jatisura, Kec. Cikedung, Kab. Indramayu bertempat di halaman Kantor Kecamatan Cikedung Kab. Indramayu, Selasa (18/6/13).

Ditegaskan Nunung, dalam upaya penyelamatan seni budaya tradisi sekaligus (seniman seniwati) pelakunya dilakukan melalui program pewarisan, revitalisasi dan rekonstruksi.

“Sejauh ini kesenian-kesenian melalui program tersebut sudah mulai kembali tumbuh dan berkembang, kini tinggal keseriusan pelaku seninya dan juga dukungan pemerintah daerah,” ujar Nunung.

Sementara kesenian Rudat Akrobat yang merupakan kesenian pesantren yang dibawa (alm) Ki Saleh salah seorang santri asal Pesantren Tambi Indramayu pimpinan dari Kiai Samad sekitar tahun 1968.

Sepeninggal Ki Saleh kesenian tidak berkembang karena tidak ada panutan dan baru sekitar tahun 2010, Satori (43) salah seorang putra Ki Saleh berniat untuk menghidupkan kembali dan baru pada tahun 2013 niatnya tercapai setelah dilakukan Program Pewarisan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat melalui Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat bersama Dinas Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Indramayu. (A-87/A_88)***

Komentari di Facebook !