Karya Panggung Seniman Daerah Banyak Memberikan Warna

Dulu Gending Karesmen, Kini Kabaret atau Drama Musikal

SENI BUDAYA
SENIMAN Bambang Arayana Sambas (kanan) saat memaparkan makalahnya didampingi dramawan Rosyid E Abby (kiri) pada Seminar Nasional Drama Musikal bertajuk “Drama Musikal di Tengah-tengah Seni Pertunjukan Teater Lainnya”, bertempat di Gedung Kwartir Pramuka K
RETNO HY/PRLM
SENIMAN Bambang Arayana Sambas (kanan) saat memaparkan makalahnya didampingi dramawan Rosyid E Abby (kiri) pada Seminar Nasional Drama Musikal bertajuk “Drama Musikal di Tengah-tengah Seni Pertunjukan Teater Lainnya”, bertempat di Gedung Kwartir Pramuka Kota Bandung (Taman Pramuka), Sabtu (15/6/13).*

BANDUNG, (PRLM).- Karya-karya panggung seniman daerah banyak memberikan warna terhadap perkembangan seni panggung saat ini. Penggarapan drama musikal tidak terlepas dari peran sutradara atau pengarah adegan dengan penata musik.

“Entah karena tidak tahu dan tidak mengenal atau memang melupakan peran dari tokoh-tokoh terdahulu, generasi muda saat ini kurang begitu memahami sejarah seni drama seperti kabaret atau operet yang saat ini dikenal dengan drama musikal. Padahal sebelum itu sudah ada drama musikal bernama gending karesmen,” ujar Bambang Arayana Sambas dalam paparannya pada Seminar Nasional Drama Musikal bertajuk “Drama Musikal di Tengah-tengah Seni Pertunjukan Teater Lainnya”, bertempat di Gedung Kwartir Pramuka Kota Bandung (Taman Pramuka), Kota Bandung, Sabtu (15/6/13).

Bambang Arayana mencontohkan sejumlah karya dan tokohnya, seperti sebuah Rinengga Sari (Gending Karesmen) “Sarkam Sarkim” (1926), karya Raden Machjar Angga Kusumadinata dan seniman Memed Sastrahadiprawira dengan karyanya Dalem Cikundul (1927) dan Gending Karesmen fenomenal “Lutung Kasarung” karya RTA. Soenarya.

“Ini memiliki kesamaan, hanya saja latar belakang cerita dan konsep garapan saja yang membedakan. Namun toh generasi muda lebih suka drama musikal karena lebih terkesan modern dan kebarat-baratan,” ujar Bambang Aryana, yang mendukung upaya penggarapan drama musikal ke depan oleh generasi muda lebih mengangkat isu atau cerita kelokalan. (A-87/A_88)***

Baca Juga

Aksi Kamisan, Melawan Ketidakadilan dengan Berkesenian

SENI BUDAYA
Aksi Kamisan, Melawan Ketidakadilan dengan Berkesenian

Tembang Cianjuran Harus Mampu Menjawab Kondisi Kekinian

SENI BUDAYA
Tembang Cianjuran Harus Mampu Menjawab Kondisi Kekinian

BANDUNG, (PRLM).- Generasi muda sulit untuk menerima dan melaksanakan masa lalu maupun tradisi pada jaman sekarang. Kesenian Tembang Sunda Cianjuran harus mampu menjawab dan mampu hadir dialam kekinian.

Cepot akan Ber-Imlek-an di Kota Solo

SENI BUDAYA

SOLO, (PRLM).- Pada perayaan Tahun Baru Imlek 2567 atau tahun Masehi 2016 ini, tokoh Cepot dalam wayang golek tradisional Pasundan akan "menyemarakkan" Kota Solo.

Menikmati Seni Main-main Eko Nugroho

SENI BUDAYA

JAKARTA, (PRLM).- Saat saya membuka pintu Galeri Salihara, Jakarta, pemandangan piramida setinggi tiga meter yang terbentuk dari puluhan tabung gas ukuran 12 kilogram langsung menyambut.