Pemotongan Kuota Haji Berdasarkan "Urut Kacang"

BANDUNG RAYA

BANDUNG,(PRLM).-Pengurangan kuota haji seluruh dunia termasuk Indonesia sebesar 20 persen berdampak kepada haji khusus (haji plus). Dari kuota haji plus sebesar 17.000 orang akan dikurangi sebanyak 20 persennya atau 3.400 orang.

"Dari 17.000 orang kuota haji plus itu sebanyak 800 kuota untuk kuota pembimbing sehingga kuota haji plus sebenarnya 16.200 orang," kata Ketua Dewan Penasihat Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh), H. Rustam Sumarna, di Khalifah Tour, Sabtu (15/6).

Untuk teknis pengurangan calhaj reguler dan calghaj plus itu, kata Rustam, kemungkinan besar berdasarkan nomor antrian di Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat).

"Istilahnya urut kacang yakni para pendaftar haji yang lebih dulu mendaftar akan diberangkatkan, sedangkan nomor kuota haji di belakang akan dikurangi," ucapnya.

Sedangkan mengenai lobi kepada pemerintah Arab Saudi, kata Rustam, kurang efektif karena pemerintah Arab Saudi biasanya teguh pada kebijakan. "Apalagi melihat kondisi Masjidilharam yang memang sedang terkena pengembangan besar-besaran sehingga daya tampungnya berkurang," katanya.(A-71/A-107)***

Baca Juga

Tim Gabungan Gerebek Rumah Terduga Pelaku Bom Tahun Baru

BANDUNG RAYA
Tim Gabungan Gerebek Rumah Terduga Pelaku Bom Tahun Baru

Gubernur Minta Warga Jabar Waspadai Hal Mencurigakan

BANDUNG RAYA

BANDUNG, (PRLM).- Gubernur Jabar Ahmad Heryawan memin‎ta waspada agar warga Jabar berhati-hati dan waspada karena di wilayah hukum Jabar aksi teror masih mengancam.

Nenek Oyoh tidak Disidang, Tapi Dituntut Bersalah

BANDUNG RAYA

BANDUNG, (PRLM).- Ny. Oyoh (93) bersama anaknya Amin Mustofa dituntut bersalah oleh jaksa penuntut umum Mumuh Ardiansyah dalam kasus pemalsuan surat tanah dan rumah di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Ny.

Kecamatan Saguling Akhirnya Punya Kantor

BANDUNG RAYA

NGAMPRAH, (PRLM).- Setelah empat tahun mengontrak, Kecamatan Saguling akhirnya memiliki bangunan permanen sebagai kantor. Pembangunan kantor kecamatan yang dilakukan selama dua tahun dengan biaya sekitar Rp 3 miliar itu tuntas pada akhir 2015.