Industri Rumahan Kerupuk Jengkol Terpukul Kenaikan Harga Jengkol

SOREANG, (PRLM).- Akibat harga bahan baku pembuatan kerupuk jengkol meroket sangat tajam, hingga sempat mencapai Rp 65 ribu per kilogram, sejumlah industri rumahan kerupuk jengkol di Kabupaten Bandung, terancam gulung tikar.

Salah satunya pemilik industri rumahan kerupuk jengkol yang terancam gulung tikar tersebut adalah kerupuk jengkol dengan merk dagang tiga sudut milik Anih (55), warga Kampung Cihamerang, Desa Batukarut, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung.

Anih mengatakan bahwa sejak naiknya harga bahan dasar kerupuk jengkol tersebut, dia mengalami kerugian karena harga jual kerupuk jengkol mentah hanya Rp 11 ribu per kilogramnya.

"Jika kami naikkan para pelanggan akan menghentikan pembelian, dan nantinya para pekerja tak ada pekerjaan lain. Jika dilanjutkan, perusahaan akan merugi dan terancam gulung tikar," kata dia saat diwawancarai di kediamannya, Jumat (7/6/2013).

Anih berharap, agar pemerintah segera menekan kenaikan harga jengkol tersebut, karena, dua minggu lalu harga jengkol paling tinggi hanya, berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram.

"Jika harga jengkol tidak kembali ke harga semula, maka industri kami akan gulung tikar. Kenaikan ini terjadi, setelah pemerintah mengumumkan akan terjadinya kenaikan harga bahan bakar minyak pada pertengahan Juni ini" ujar Anih, yang telah turun temurun dalam memproduksi kerupuk ini. (A-211/A-88)***

Baca Juga

Komitmen Pertamina Geothermal Energy Sediakan Energi Listrik

Penjualan Asset PGE Akan Rugikan Negara

JAKARTA, (PR).- Pengamat ekonomi politik Salamuddin Daeng mengatakan rencana Kementerian BUMN yang akan memindahkan Pertamina Gertamina Geothermal Energy (PGE) kepada perusahaan Listrik Negara (PLN) harus dipertimbankan secara matang. Ia menilai, penjualan asset PGE itu akan merugikan negara.

Akuisisi PGN Bisa Merusak Iklim Investasi

JAKARTA, (PR).- Rencana pembentukan holding BUMN migas dengan adanya change of controlling shareholder atau perubahan di pemegang saham mayoritas dinilai bisa merusak iklim investasi Indonesia. Pada gilirannya, hal ini menciptakan ketidakpastian berinvestasi di Indonesia.

Sektor Manufaktur Stagnan 15 Tahun

JAKARTA, (PR).- Rencana pemerintah membangkitkan sektor manufaktur yang stagnan selama 15 tahun cukup berat. Pemerintah harus melakukan reformasi di segala bidang agar sektor tersebut dapat mendongkrak perekonomian domestik yang lesu.