Headlines
Jumlah Pemain Harus Ganjil

Masyarakat Susupu Mempertahankan Tradisi "Bambu Gila"

ANWAR EFFENDI/"PRLM"
ANWAR EFFENDI/"PRLM"
ANAK-anak di wilayah Susupu Kabupaten Halmahera Barat sudah bisa memainkan tradisi "Bambu Gila".*

HALMAHERA BARAT, (PRLM).- Era globalisasi yang begitu deras, tanpa disadari telah mengikis sebagian tradisi-tradisi yang ada di sejumlah daerah Indonesia. Akibatnya anak-anak yang lahir di zaman sekarang, sudah lupa atau bahkan tidak mengenal tradisi yang dulu dilakukan para orangtuanya. Padahal, tradisi yang dulu berkembang, banyak mengandung makna kehidupan dan sangat menyatu dengan alam.

Sesuatu yang luar biasa jika tradisi "Bambu Gila" sampai saat ini masih bertahan di Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara. Bahkan tradisi yang biasa dilakukan para orangtua di sana, justru sekarang berkembang menjadi "permainan" yang digemari anak-anak. Walau begitu, memang tetap ada "kelas-kelas"-nya tradisi "Bambu Gila" yang dilakukan para orangtua dibandingkan yang dimainkan anak-anak.

Di Halmahera Barat sendiri, tidak semua warganya bisa memainkan tradisi "Bambu Gila". Tradisi itu lebih dikenal oleh masyarakat Pantai Susupu Kecamatan Sahu. Di pantai itu pula, tahun lalu pernah digelar permainan "Bambu Gila" secara massal. Kegiatan tersebut mampu menyedot perhatian wisatawan baik nusantara maupun mancanegara. Sayangnya, permainan itu tidak rutin digelar untuk menyambut wisatawan.

Salah seorang tokoh masyarakat Susupu, M. Syarief Ali mengatakan, sebagian besar masyarakat Susupu bisa memainkan tradisi "Bambu Gila". Beberapa tahun ke belakang, memang ada upaya melestarikan tradisi itu, dengan menurunkan "ilmu" yang dimiliki orangtua kepada anak-anak. Tidak heran jika sekarang, sudah banyak anak-anak yang bisa memainkan tradisi "Bambu Gila". Hanya, untuk anak-anak kelasnya hanya sebatas permainan.

Tradisi "Bambu Gila" itu sendiri berupa permainan mengarahkan sebatang bambu. Seorang pawang yang bertugas mengarahkan bambu, bisa ke depan atau belakang, naik turun, kalau mau bisa juga ke kiri atau ke kanan. Sementara, yang berjaga memegang bambu hanya bisa mengikuti gerakan bambu yang diarahkan sang pawang. Susah bagi pemegang bambu untuk mempertahankan posisi ke belakang, jika sang pawang mengarahkan bambu ke depan. Semakin kuat pemegang bambu mempertahankan posisi, semakin kencang pula gerakan bambu.

"Cara yang terbaik bagi yang memegang bambu, yakni mengikuti gerakan bambu yang diarahkan sang pawang. Kalau melawan gerakan sang pawang, maka tenaga pemegang bambu akan terkuras. Kalau sang pawang iseng, bisa saja bambu diturunkan ke bawah, dan semua pemegang bambu akan terjerembab di pasir pantai," tutur Syarief.

Aturan permainannya, beberapa orang pemegang bambu harus menjaga bambu tersebut sesuai gerakan sang pawang. Bambu nantinya akan diarahkan oleh sang pawang maju mundur, ke kiri dan ke kanan. Jika pemegang bambu sudah terlihat kelelahan, biasanya sang pawang menghentikan permainan.

Menurut Syarief, jangan coba-coba yang bertugas memegang bambu melepaskan bambu saat permainan berlangsung. Kalau itu terjadi, nanti bambu akan berputar-putar sendiri. Dalam kondisi seperti itu, disebutlah "Bambu Gila". Itu akan lebih merepotkan sang pawang untuk menghentikan kegilaan bambu.

Tradisi permainan "Bambu Gila" bisa dilaksanakan dengan ketentuan pemegang bambu harus ganjil dan disesuaikan dengan ruas (buku) bambu yang ganjil pula. Bisa dimulai dengan tiga orang, lima orang, tujuh orang, sembilan orang dan tidak terhingga asal ganjil.

"Permainan 'Bambu Gila' sebenarnya bisa dimainkan siapa saja. Tua muda, dewasa anak-anak, lelaki maupun perempuan. Hanya semua orang yang akan bermain harus dalam suci. Misalnya, perempuan yang sedang haid tidak diperkenankan terlibat. Demikian juga bagi mereka yang sudah dewasa, jika baru melakukan hubungan intim, harus mandi besar dulu sebelum melakukan permainan 'Bambu Gila'. Itu syarat utamanya," jelas Syarief.

Selain sebatang bambu dengan jumlah ruas yang ganjil, permainan "Bambu Gila" juga membutuhkan api (cenderung bara) dan asap. Semakin banyak bara dan asap yang digunakan, bakal meningkatkan kekuatan gerakan bambu. Bara dan asap itu akan dikendalikan oleh seorang yang bertugas sebagai pawang.

Artinya seorang pawang bisa saja menggunakan sebatag rokok yang menyala, karena benda itu mengandung unsur bara dan asap. Namun, jika anak-anak yang memainkan "Bambu Gila", biasanya unsur bara dan asap menggunakan pelepah pohon kelapa yang dibakar lebih dahulu. Sementara pendahulu masyarakat Susupu, seringnya membakar kemenyan untuk mendapatkan unsur bara dan asap.

Permainan "Bambu Gila" bisa dimulai dengan pemegang bambu bersiap-siap menghadapi pawang yang akan membacakan mantera. Sebelumnya sang pawang sudah membakar pelepah pohon kelapa. Sambil mengucapkan mantera, sang pawang mengasapi bambu dari satu ujung ke ujung lainnya, dengan jumlah tiga kali balik.

Setelah itu, sang pawang akan mengucapkan kata "baramasowen". Syarief menjelaskan, kata "baramasowen" bukanlah mantera, itu hanya penyemangat saja. Tapi "baramasowen" bisa juga diartikan memanggil kekuatan bara. Sambil mengucapkan kata "baramasowen", sang pawang mulai mengarahkan bambu sekehendaknya. Saat sang pawang mengucapkan kata "baramasowen", para pemegang bambu harus menjawab "dadigogo" (jadilah).

Ketika didesak untuk menjelaskan mantera yang digunakan, Syarief tetap tidak mau mengungkapkan. Namun sekelompok anak-anak yang sedang bermain "Bambu Gila" keceplosan dengan mengatakan, bambu bisa digerakan dengan kekuatan ayat Alquran. Salah satu ayat Alquran yang dibacakan untuk menggerakan bambu itu, yakni surat Al-fil.

Saat dikonfirmasikan, Syarief tidak mengiyakan atau membantahnya. Menurut Syarief, bisa saja untuk kelas anak-anak mengamalkan surat Al-fil karena hal itu yang termudah. Bagi orang dewasa bisa beda lagi. Semakin tinggi kelas orang yang memainkan "Bambu Gila", kekuatan yang muncul pun bertambah besar.

Bowo, Afif, dan Glory wisatawan yang mencoba jadi pemegang bambu memang merasakan bagaimana kekuatan permainan "Bambu Gila". Semula mereka tidak percaya bambu yang digerakan oleh mantera sang pawang punya kekuatan. "Tenaga saya hampir habis untuk menahan pergerakan bambu itu. Mau tidak mau, akhirnya saya hanya mengikuti kemana bambu bergerak. Tapi itu juga cukup melelahkan," tutur Bowo.

Sementara Prisma, perempuan yang mencoba permainan "Bambu Gila" bersama anak-anak menyatakan kekagumannya terhadap anak-anak yang sudah bisa menggerakan bambu dengan kekuatan luar biasa. "Untung saya mainnya sama anak-anak, jadi tidak terlalu keras gerakannya seperti orang dewasa. Bagus juga kalau anak-anak sudah bisa memainkan, artinya tradisi ini akan berlangsung turun temurun. Asyik juga bermain di tepi pantai, menyatu dengan alam, bersuka ria untuk mempertahankan bambu. Sementara anak-anak di kota, sudah kehilangan permainan seperti ini," katanya.

Syarief mengungkapkan, saat ini "Bambu Gila" mungkin sekadar permainan. Padahal para pendahulu masyarakat Susupu, memanfaatkan mantera-mantera "Bambu Gila" untuk kepentingan yang lebih besar. Sebagaimana masyarakat tepi pantai, masyarakat Susupu sebagian besar bermatapencaharian sebagai nelayan. Nah, saat pembuatan perahu sudah selesai, seringkali masyarakat Susupu kesulitan untuk mendorong hingga ke pantai. Dipakailah mantera-mantera "Bambu Gila" untuk meringankan nelayan saat mendorong perahu. "Mantera-mantera itu juga sering dipakai nelayan Susupu untuk mengambil barang yang tenggelam di laut. Dengan mantera itu, nelayan Susupu dengan mudah mengambil kembali barang yang terjatuh ke laut," ujar Syarief.(A-147)***

TERKINI