Diungkap Prof Mary Louise Roberts

Ribuan Wanita Prancis Diperkosa Tentara AS Saat Pembebasan

LUAR NEGERI
WANITA Prancis menyambut tentara AS yang membebaskan dari pendudukan Nazi Jerman saat parade di Paris, Agustus 1944. Belakangan sejumlah wanita Prancis diperkosa oleh sejumlah tentara AS.*
AP/PRLM
WANITA Prancis menyambut tentara AS yang membebaskan dari pendudukan Nazi Jerman saat parade di Paris, Agustus 1944. Belakangan sejumlah wanita Prancis diperkosa oleh sejumlah tentara AS.*

PRLM - Ketika Prancis dibebaskan Amerika Serikat dari pendudukan Nazi tahun 1944, warga Prancis menyambut pasukan GI itu. Namun belakangan terungkap ribuan wanita Prancis menjadi korban pemerkosaan para tentara AS.

Hal serupa seperti yang dialami ribuan wanita Jerman yang diperkosa pasukan Stalin saat pertempuran di Berlin di akhir perang dunia kedua (PD II).

Kasus pemerkosaan yang dialami wanita Prancis itu diungkap dalam buku karya Prof. Mary Louise Roberts berjudul "Apa yang Dilakukan Tentara; Seks dan GI Amerika pada Perang Dunia II Prancis".

Satu ilustrasi menggambarkan seorang pelacur bernama Elisabeth yang melayani pria kesepuluh petang itu di Paris, yaitu prajurit tampan asal AS. Selama empat tahun sebelumnya, dia biasa melayani tentara Jerman.

Namun setelah Pasukan AS membebaskan pendudukan NAzi pada Agustus 1944, kini Elisabeth melayani pria asal Amerika.

Dia menunjukkan kode tiga jari kepada sang serdadu AS. Maksudnya tiga ratus francs. Serdadu itu menolak dan menawar 200 francs.

Elisabeth bergeming. "Tiga ratus atau tidak (dilayani) sama sekali," tegasnya.

Pria itu langsung merangsek, dan Elisabeth tak mendapat apa-apa. Bahkan uang dan perhiasan malah diambil sang serdadu dan digunakan mentraktir pelacur lain.

Dalam bukunya, Professor Mary Louise Roberts yang menjadi guru besar di Universitas Wisconsin berargumen bahwa GI Amerika melakukan pemerkosaan terhadap ribuan wanita selama perang. Dan yang lebih mengejutkan adalah banyak dari korbannya adalah wanita Prancis.

Sebagai Profesor Roberts mengatakan, "Buku saya berusaha untuk menghilangkan mitos lama tentang GI yang dianggap sebagai makhluk jantan yang selalu berperilaku baik, ternyata GI berhubungan seks di mana saja dan di mana-mana."

Secara total, diperkirakan bahwa sekitar 14.000 perempuan diperkosa oleh tentara Amerika di Eropa Barat dari 1942 sampai 1945. Di Prancis, 152 tentara Amerika diadili untuk perkosaan, di antaranya 29 digantung.

Tapi statistik tidak mengungkapkan cerita lengkap. Ada diragukan lagi ribuan pemerkosaan di Perancis, banyak yang tidak dilaporkan oleh korban yang menghindari stigma yang sangat tidak adil bahwa perkosaan dilakukan saat itu.

Tapi mengapa Amerika memperkosa sekutu mereka? Untuk rata-rata GI, Prancis diangagp sebagai sebuah 'petualangan erotis' dalam ekspedisi militer, dan itulah perang. Sebagian 'dijual' sebagai iming-iming untuk wajib militer sebagai kesempatan untuk bertemu perempuan Prancis tang menarik.

Banyak ayah dari para prajurit itu telah berada di Perancis selama Perang Dunia I, dan kembali ke Amerika dengan cerita-cerita soal longgarnya wanita Prancis. (A-88/dailymail)***

Baca Juga

Putra Pejabat Jadi Tersangka Penyerangan Kampus

LUAR NEGERI

NAIROBI, (PRLM).- Pihak berwenang Kenya telah mengidentifikasi salah seorang tersangka militan bersenjata al-Shabab yang membantai 148 orang di sebuah universitas, Garissa University College, sebagai putra seorang pejabat pemerintah Kenya.

Warga Aden Terancam Kelaparan

LUAR NEGERI

ADEN, (PRLM).- Warga Yaman, khususnya di Aden, dilaporkan mulai terancam kelaparan. Persediaan pangan semakin menipis. Begitu juga dengan persediaan air dan listrik.

Afghanistan Gagal Lindungi Hak-hak Perempuan

LUAR NEGERI

KABUL, (PRLM).- Kelompok HAM Amnesty International mengatakan pemerintah Afghanistan tidak melakukan apapun untuk menghentikan tren meningkatnya kekerasan, penganiayaan seksual dan pembunuhan yang menargetkan aktivis hak-hak perempuan di negara itu.

Carter Tegaskan Komitmen AS pada Keamanan Jepang

LUAR NEGERI

TOKYO, (PRLM).- Menteri Pertahanan Amerika Ashton Carter mengimbau agar Jepang menahan diri dalam sengketa teritorial dengan China. Komentar menteri pertahanan itu disampaikan ketika ia memulai lawatannya yang pertama ke Asia di Tokyo, Rabu (8/4/2015).