Harga Elpiji 3 Kg di Kabupaten Bandung Naik

EKONOMI

SOREANG,(PRLM).- Harga gas elpiji tiga kilogram di sejumlah kawasan di Kabupaten Bandung mengalami kenaikan, akibatnya sejumlah warga mengeluhkan kenaikan ini karena dinilai sangat memberatkan.

Hero (35), salah seorang sub agen elpiji di Kampung Cijeruk, Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang, menuturkan kenaikan harga elpiji sudah berlangsung sekitar satu bulan lebih. Ia pun tidak mengetahui secara pasti penyebab kenaikan harga tersebut.

"Saya ngejual elpiji yang tiga kilo dengan harga Rp 15.000. Kalau yang pengecer kurang tahu juga ngejuanya berapa, Macam-macam juga sih mereka ngejualnya," ujar Hero, Senin (13/5/2013).

Selama ini, kata Hero, untuk pasokan elpiji di wilayahnya tidak mengalami kekurangan. Walau harga naik tapi daya beli masyarakat tetap tinggi. Memang ada sebagian warga yang mengeluhkan kenaikan harga ini. Namun pihaknya tidak bisa berbuat banyak mengenai kenaikan harga.

Selain di Bojongsoang, kenaikan harga elpiji tiga kilogram juga terjadi di Kecamatan Katapang. Di beberapa pengecer elpiji, harga elpiji sudah mencapai Rp 18.000. Padahal biasanya harga elpiji hanya berkisar Rp 13.000 sampai Rp 14.000.

Hendrik Kaparyedi (25) salah seorang warga di Kecamatan Pacet menjelaskan menjelaskan kenaikan harga ini sudah berlangsung sejak beberapa minggu lalu. Walau belum ada pengumuman dari pemerintah mengenai kenaikan harga, namun harga elpiji sudah beranjak naik di tingkat pengecer.

"Saya dapat dari agennya juga dengan harga Rp 15.000. Jadi memang sudah naik. Memang belum ada pengumuman soal kenaikan harga. Tapi kalau di pasaran sudah banyak yang naik ya mau gimana lagi," ujar Hendrik saat diwawancarai pada Senin (12/5/2013).

Sementara itu, menurut Kepala PT Iswana Migas, agen distributor yang menyuplai elpiji se-Bandung Raya, Tua Siagian mengatakan, tidak ada kelangkaan gas elpiji tiga kilogram di wilayah Bandung. Distribusi untuk gas tiga kilogram sampai saat ini masih lancar. Untuk kuota di wilayah Bandung Raya tidak mengalami perubahan yaitu 222.000 per hari.

"Yang dikurangi Pertamina itu ialah gas 12 kilogram. Jadi kondisi tabung gas tiga kilogram terjepit. Distribusi tersebut dikurangi karena pemerintah tidak memberikan subsidi sehingga pertamina merasa berat," ujar Siagian.

Akibat pengurangan distribusi gas 12 kilogram ini kata Siagian, membuat kebutuhan gas tiga kilogram meningkat. Hal ini membuat masyarakat yang menggunakan gas 12 kilogram beralih ke tabung tiga kilogram.

Ia mengatakan sudah melaporkan kondisi tersebut ke Pertamina dan ESDM Provinsi Jawa Barat. Namun ia sudah mengimbau kepada sub agen agar melayani kebutuhan masyarakat terlebih dahulu. (A-211/A-26)***

Baca Juga

Rendeman Tebu Masih Rendah

EKONOMI

BANDUNG,(PRLM).- Rendeman tebu di wilayah Jawa mengalami penurunan yang saat ini rata-rata hanya mencapai 5%. Kondisi ini secara nasional dapat menurunkan produksi gula yang akan menggoda pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan impor gula dalam 3 bulan mendatang.

Kepala BPS: Inflasi Juni 0,54 Persen, Pengendalian Harga Cukup Berhasil

EKONOMI

JAKARTA, (PRLM).- Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin, menyampaikan bahwa pada Juni 2015 terjadi inflasi sebesar 0,54 persen, dengan demikian tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Juni 2015) sebesar 0,96 persen, sementara inflasi tahun ke tahun (Year on Year) sebesar 7,26 persen.

Permintaan Kelapa Meningkat

EKONOMI
Permintaan Kelapa Meningkat

Luas Panen Naik, Produksi Padi Meningkat

EKONOMI
PETANI Kabupaten Bandung menjemur gabah hasil panen beberapa waktu lalu. Tahun ini, produksi padi Jawa Barat diramalkan naik 3,21 persen.*

BANDUNG, (PRLM).- Angka Ramalan I yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi produksi padi, jagung dan kedelai Jawa Barat 2015 mengalami kenaikan.