Keluarga Teroris WM Merasa Kaget

SOREANG,(PRLM).- Pihak keluarga terduga teroris WM yang ditangkap di kawasan Cipacing Sumedang, tak habis pikir salah satu anggota keluarganya terlibat terorisme, meski begitu pihak keluarga menyerahkan sepenuhnya hal ini pada hukum yang berlaku di Indonesia.

"Kami sebagai orangtua, jelas merasa shock dan kaget, anak kami terduga sebagai teroris. Bahkan isteri dan menantu saya sampai pingsan melihat poemberitaan ditelevisi," ujar Ade Suherman (53) orangtua dari WM yang ditemui dikediamannya di Jalan Cikoneng. Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung pada Jumat (10/5/2013).

Ade menjelaskan bahwa WM merupakan anak pertama dari enam bersaudara. Sejak kecil dia dibesarkan di Bojongsoang, dan sekolah di SD Bojongsoang. Namun setelah lulus, langsung di sekolahkan di Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur selama lima tahun. Setelah itu, dia kemudian melanjutkan sekolah ke IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurusan sastra inggris sampai lulus.

"Dia kemudian melanjutkan kuliah S2 di IAIN Gunung Djati Fak Hukum. Namun hanya sampai satu semester, dia malah berhenti dan memilih jualan pakaian," katanya.

Ade mengaku, terakhir bertemu dengan anaknya ini sekitar bulan Februari saat akan umrah. Saat itu, WM diajak keluarga untuk pergi umroh.

"Tapi dia memilih tidak ikut umroh, malah pergi keluar kota untuk pengajian," katanya.

Saat ditanya apakah mengenal BS alias Angga? Ade mengaku pernah bertemu satu kali dengan BS ketika diajak WM ke rumahnya, beberapa tahun lalu, sebelum Abu Bakar Baasyir ditangkap polisi Bahkan, kata Ade, BS pun menawarkan mendatangkan Abu Bakar Baasyir untuk memberikan ceramah di pesantren yang dipimpin dirinya.

"Jelas saya tolak, karena pesantren saya bukan pada pengajian yang mendatangkan jemaah, tetapi lebih pada pendidikan islam," katanya.

Namun demikian, Ade tidak membantah apabila WM pernah menjadi anggota pengajian Jamaah Islamiyah (JI).

"Namun ketika Baasyir ketangkap polisi, anak saya berhenti jadi anggota JI, dan lebih memilih pengajian sendiri datang ke pesantrean-pesantren," ujarnya.

Ade pun berencana, akan menjadikan WM sebagai pemimpin pada pesantren yang dipimpinnya. Namun kata dia, WM menolak dan lebih memilih menuntut ilmu ke berbagai daerah, terutama di daerah Tasikmalaya dan Ciamis.

"Tetapi pada kenyataannya, WM malah bertemu lagi dengan BS dan terlibat dalam kegiatan radikal dan menjadi terduga teroris," kata Ade yang juga Ketua dewan pembina fatwa MUI pusat, bidang siasah sultoniah (politik kenegaraan).

Ade mengaku tidak tahu menahu dengan keguatan WM selama ini. "Kalau tahu, tentunya akan saya larang dari dulu. Apalagi saya sebagai Ketua dewan pembina fatwa MUI pusat, bidang siasah sultoniah (politik kenegaraan)," ucapnya.

"Biarlah yang terjadi biarkan terjadi, dan bisa menjadi pelajaran bagi anak saya dan siapapun," katanya. (A-211)***.

Komentari di Facebook !