Perolehan Suara BN Merosot Tajam

KUALA LUMPUR, (PRLM).- Kendati tampil sebagai pemenang, keberhasilan BN dalam pemilu 2013 ini merupakan yang terburuk dalam sejarah partai tersebut sejak menjadi petahana pada tahun 1957.

Dalam hal ini, raihan suara BN terus merosot sejak pemilu 2008 dan puncaknya pada pemilu 2013 ini. Dibandingan dengan perolehan suara pada 2004 dimana petahana berhasil memperoleh kemenangan lebih dari 90 persen suara, maka pada pemilu 2004 dan 2013, perolehan suara partai petahana semakin mengecil.

Penyebabnya adalah dukungan warga CHina terhadap BN merosot tajam. Berdasarkan hasil pemilu yang diumumkan pada Senin (6/5/13), seperti dikutip Kantor berita Inggris, Reuters, BN pimpinan PM Najib berhasil memenangkan 133 kursi legislatif dari total 222 kursi.

Jumlah ini menurun sedikit ketimbang hasil pemilu 2008 saat BN mendapatkan 140 kursi. PM Najib Rajab sempat kaget dengan hasil pemilu itu karena tak mengira suara dari etnik Cina merosot signifikan ketimbang pemilu sebelumnya.

"Saya sadar ada penurunan suara tetapi tak menyangka sebesar ini. Kendati demikian, faktanya BN tetap unggul, ujar Najib.

Sementara rivalnya, Pakatan Rakyat yang dipimpin Anwar Ibrahim (65), kendati kalah, kursi yang didapatkan bertambah, dari 82 kursi pada pemilu 2008 menjadi 89 kursi pada pemilu 2013. (A-133/A-26).***

Baca Juga

10 Hal Seputar Kebijakan Imigran Trump yang Harus Diketahui

PRESIDEN Amerika Serikat DonaldĀ Trump menangguhkan program pengungsi AS selama 120 hari. Ia juga melarang imigran dari tujuh negara muslim masuk ke AS, yaitu Suriah, Irak, Iran, Libya, Somalia, Sudan, dan Yaman.

Kebijakan Donald Trump Langgar Prinsip Deklarasi Umum HAM

JAKARTA, (PR).- Anggota Komisi I DPR Arwani Thomafi mengatakan, kebijakan Presiden AS Donald Trump yang melarang masuknya warga dari tujuh negara, yakni Suriah, Iran, Irak, Yaman, Libya, Somalia, dan Sudan, melanggar prinsip-prinsip Deklar

Pelelangan Salinan Dokumen Brexit Dikecam Publik

LONDON, (PR).- Inggris saat ini belum resmi keluar dari Uni Eropa, tetapi prosesnya saat ini sudah dilakukan setelah mayoritas anggota parlemen menyetujui kebijakan Perdana Menteri Theresa May untuk mempercepat proses Brexit.