Otoritas AS Tetapkan Tiga Tersangka Baru Kasus Bom Boston

LUAR NEGERI

WASHINGTON, (PRLM).-Dua pekan pascatragedi Bom Boston, otoritas AS, Rabu (1/5) atau Kamis (2/5) WIB kembali menetapkan tiga tersangka baru.

Ketiganya adalah kawan Dzhokhar Tsarnaev (19), tersangka pengeboman pada 15 April 2013 lalu yang menewaskan tiga orang dan melukai 260 lainnya itu.

Otoritas Kepolisian Boston pertama kali menyampaikan kabar penangkapan itu lewat akun resmi twitter mereka pada Kamis dini hari WIB.

Ketiga orang yang ditangkap itu bernama Azamat Tazhayakov, Dias Kadyrbayev dan Robel Phillipos. Semuanya berumur 19 tahun dan merupakan kawan Tsarnaev.

Dua nama pertama merupakan warga Kazakhstan yang datang ke AS untuk tujuan studi dan nama terakhir, warga AS.

Menurut polisi seperti dikuti Kantor Berita Reuters, ketiganya didakwa bersalah karena dengan sengaja telah menghilangkan barang bukti dan juga mempersulit penyidikan.

Polisi juga menegaskan, dakwaan untuk ketiganya itu terkait dengan peran mereka setelah ledakan bom terjadi, bukan dalam hal perencanaan bom Boston. (A-133/A-89)***

Baca Juga

'Hantu' Gentayangan di Sekolah, Sejumlah Murid Pingsan

LUAR NEGERI

NEW DELHI, (PRLM).- Para murid di sebuah sekolah di negara bagian Bengal Barat, India, mengatakan ada hantu yang gentayangan di sekolah mereka.

Yunani Ajukan Pinjaman 32,4 Miliar Dolar dari Dana Darurat Eropa

LUAR NEGERI

ATHENA, (PRLM).- Pemerintah Yunani meminta pinjaman setelah gagal membayar utangnya sebesar 1,8 miliar dolar kepada Dana Moneter Internasional (IMF).

Yunani meminta pinjaman 32,4 miliar dolar dari Dana Darurat Eropa selaku upayanya terakhir untuk tetap berada dalam zona Euro.

UNESCO: Barang Antik Jarahan ISIS Muncul di Inggris

LUAR NEGERI

LONDON, (PRLM).- Direktur Jenderal UNESCO, Irena Bukova menyatakan kepada BBC bahwa barang antik yang dijarah oleh kelompok yang menamakan diri Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS, berakhir di tangan kolektor di Inggris.

Prancis Tolak Permintaan Suaka Pendiri Wikileaks

LUAR NEGERI

PARIS, (PRLM).- Pemerintah Prancis menolak suaka politik yang diajukan pendiri situs pembocor rahasia Wikileaks, Julian Assange. Alasannya, dia "tidak sedang menghadapi bahaya yang mengancam jiwanya".