Headlines

Sensus Pertanian Secara Nasional Telan Biaya Sebesar Rp 1,3 Triliun

BANDUNG, (PRLM).-Sensus pertanian dimulai secara serentak di tingkat nasional selama bulan Mei ini. Di Jawa Barat sendiri sensus pertanian memakan biaya hingga sekitar Rp 180 miliar, sedangkan secara nasional, sensus pertanian tahun ini memakan biaya sekitar Rp 1,3 triliun.

Ketua Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Gema Purwana, mengatakan, dana itu akan digunakan untuk keperluan, mulai dari biaya pelatihan petugas, honor, serta biaya administrasi. Dia mengatakan, anggaran yang dikeluarkan paling besar dialokasikan untuk pengerahan petugas sensus.

Di Jabar sendiri terdapat sekitar 40.000 petugas yang direkrut untuk melakukan sensus pertanian. “Setiap petugasnya akan diberikan honor sekitar Rp 2 juta. Itu mencakup biaya transport dan upah,” ujarnya pada saat penyampaian laporan bulanan di kantor BPS Jabar, Jln. PHH. Mustopha, Rabu (1/5).

Petugas sensus tersebut, menurutnya, akan melakukan sensus di 19 kabupaten dan 7 kota di Jabar. Adapun jumlah responden sensus pertanian di Jabar secara totalnya berjumlah 3,3 juta rumah tangga.

“Wilayah yang paling banyak potensi pertaniannya dalam sensus pertanian tahun ini adalah wilayah kabupaten, seperti Kabupaten Bandung, Kabupaten Bogor, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Garut,” tuturnya.

Secara nasional, dia menjelaskan, sektor pertanian berperan penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Pasalnya, sektor tersebut memberikan kontribusi terbesar kedua (14,7%) setelah industri (24,3%) dalam Produk Domestik Bruto Indonesia tahun 2011.

“Dari 112,8 juta penduduk Indonesia yang bekerja pada Februari 2012, sektor pertanian menyerap tenaga kerja terbanyak, yakni sebesar 36,52%,” ujarnya.

Kepala Bidang Statistik Produksi, H. Ruslan, mengatakan, sensus pertanian memiliki tahapan yang panjang. Setelah sensus pada bulan Mei rampung, pengolahan data akan dilakukan selama bulan Juni-Agustus.

“Diperkirakan September atau Oktober tahun ini seluruh data base hasil sensus pertanian bisa selesai secara nasional,” tuturnya.

Dia menjelaskan, sensus pertanian 2013 mencakup seluruh usaha pertanian di subsektor tanaman pangan, hortikultura (sayuran, buah-buahan, tanaman hias, dan tanaman obat), perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan.

“Sensus itu dilakukan baik pada rumah tangga, perusahaan, pesantren/seminari, lembaga permasyarakatan, barak militer, hingga kelompok usaha bersama,” katanya.

Dia menambahkan, UU No 16 Tahun 1997 tentang Statistik mengamanahkan BPS melaksanakan statistik dasar, yaitu sensus penduduk, sensus pertanian, dan sensus ekonomi yang masing-masing diselenggarakan setiap sepuluh tahun sekali.

“Sensus pertanian yang diselenggarakan pada tahun ini merupakan sensus yang keenam kalinya,” ujarnya.

Mengomentari sensus di sektor peternakan sapi, dia mengatakan, pada tahun ini pihaknya akan mengumpulkan data mengenai jumlah sapi secara keseluruhan yang terdapat pada rumah tangga. Parameter yang digunakan adalah jumlah ternak menurut kelompok umur, pemakaian pakan, dan parameter mutasi ternak.

Berdasarkan sensus yang dilakukan terakhir kali pada tahun 2011, jumlah ekor sapi yang terdata sebanyak 14,9 juta ekor sapi.

Dari jumlah tersebut, populasi terbanyak berasal dari kawasan timur Indonesia, seperti Jatim dan NTT. "Sedangkan wilayah barat Indonesia mayoritas merupakan konsumennya," ujarnya.

Data tersebut juga dipakai sebagai rujukan dalam program swasembada sapi pada 2014 nanti. Akan tetapi, dia mengatakan, jumlah populasi pada tahun 2011 ternyata sebagian besarnya berasal dari rumah tangga.

Dimana jumlah sapinya tidak terlalu banyak, yakni hanya berkisar 2-3 ekor sapi, dan itu pun, menurutnya, sebagian besarnya bukan sapi untuk penggemukan.

“Oleh sebab itu, pada sensus tahun ini akan dilihat kembali bagaimana pertumbuhan di sektor peternakan sapi, dan melihat proyeksinya berkaitan dengan program swasembada sapi nanti,” tuturnya. (A-204/A-89)***

Komentari di Facebook !