Temu Misti Pelestari Tarian Gandrung Banyuwangi

SENI BUDAYA

BANYUWANGI, (PRLM).- Temu Mistyi menari gandrung sejak masih berusia 15 tahun. Perempuan kelahiran Banyuwangi, 20 April 1953 ini menari dan menembang dari malam hingga pagi seperti tak mengenal lelah. Kini, meski sudah tak lagi muda, ia tetap menari. Kecintaannya pada tari khas Banyuwangi itu juga membuatnya masih terus melatih anak-anak muda menari Gandrung.

Tahun lalu, dia juga dipercaya oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi untuk melatih 24 remaja menari gandrung. Upaya Temu ternyata tidak sia-sia. Setidaknya, satu dari 24 muridnya itu kini menjadi penari gandrung profesional.

Selain tubuh gemulai, Temu dianugerahi suara emas yang tidak dimiliki gandrung lain. Melengking tinggi dengan cengkok Using khas. Ia juga satu-satunya yang mampu mengkolaborasikan suara gending gandrung dengan lagu Banyuwangi modern. Para peneliti, menyebut suara gandrung Temu, adalah sebuah eksotisme timur.

Dia mempertahankan pakem Gandrung di tengah bermunculannya penari Gandrung lain yang identik sebagai hiburan para pemabuk. Meski tak lulus Sekolah Rakyat, tapi ia tahu betul bagaimana menjaga dan merawat eksistensi Gandrung di tengah gempuran budaya modern.

Namun Temu tak bisa seratus persen mengandalkan penghasilan dari upah manggung. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ia memilih bertani. Tak hanya itu, karena hasil panen tidak mampu digunakan menutup seluruh kebutuhan hidupnya, Temu juga beternak ayam kampung.

Gandrung merupakan salah satu kesenian khas dari Banyuwangi. Di awal kemunculannya, sekitar tahun 1900-an, penari gandrung adalah laki-laki. Gandrung dengan gending-gendingnya, dimainkan sebagai bentuk perlawanan masyarakat Banyuwangi terhadap kolonialisme bangsa barat. Gandrung dengan penari perempuan baru muncul pada 1895, setelah Islam masuk dan melarang laki-laki menjadi penari.

Ada beberapa penari perempuan dengan pakaian khas yang akan menari dan menyanyi diringi dengan 5 sampai 7 penabuh gending laki-laki. Mereka juga akan menari bersama-sama para tamu dan juga ada tradisi “nyawer” di antara penari Gandrung dan para tamu. Gandrung biasanya tampil di hajatan seperti sunatan dan perkawinan.

Sebagai seorang maestro, Temu mengawali karir di kelompok kesenian Gandrung Sopo Ngiro yang dirintis sejak tahun 1980-an. Dia lahir di Dusun Kedaleman Desa Kemiren yang terkenal sebagai basis seni Banyuwangi.(A-147)***

Baca Juga

Aksi Kamisan, Melawan Ketidakadilan dengan Berkesenian

SENI BUDAYA
Aksi Kamisan, Melawan Ketidakadilan dengan Berkesenian

Karya Lucian Freud Terjual Sampai Rp 312 Miliar

SENI BUDAYA

LONDON, (PRLM).- Satu lukisan potret karya Lucian Freud terjual sekitar Rp 312 miliar, jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan.

Cepot akan Ber-Imlek-an di Kota Solo

SENI BUDAYA

SOLO, (PRLM).- Pada perayaan Tahun Baru Imlek 2567 atau tahun Masehi 2016 ini, tokoh Cepot dalam wayang golek tradisional Pasundan akan "menyemarakkan" Kota Solo.

Dewan Kebudayaan Perjuangkan Membangun Kampung Seni di Pamulihan

SENI BUDAYA

SUMEDANG, (PRLM).- Dewan Kebudayaan Kabupaten Sumedang tengah memperjuangkan membangun kampung seni di Desa/Kecamatan Pamulihan. Sebab, Desa Pamulihan merupakan sentra kerajinan rakyat di Kabupaten Sumedang.