Headlines

Tantangan Perempuan di Jabar Masa Kini

BANDUNG, (PRLM).- Perempuan masih menghadapi berbagai tantangan yang signifikan pada masa kini baik tantangan yang berasal dari diri maupun tantangan dari luar dirinya. Banyak perempuan yang masih tidak memiliki konsep diri. Padahal ini sangat memengaruhi paradigma dan cara berpikirnya.

“Seringkali perempuan tidak dapat memiliki konsep diri secara utuh tentang apa yang harus dilakukan oleh perempuan sebagai individu, anak, istri, ibu, anggota masyarakat, dan peran atau posisinya yang lain. Persoalan intelektualitas, minimnya pengetahuan, dan pendidikan yang dimiliki perempuan kemudian sangat menentukan kemampuan analisis dan rasionalitasnya,” kata Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Netty Prasetyani di Kota Bandung, Senin (22/4/13).

Netty juga mengatakan tantangan dari sisi mentalitas juga masih ditemukan. Dia menilai masih ada lack of self confidence (kurang percaya diri). Hal ini menjadi kendala bagi perempuan untuk berkiprah dan menjalankan peranannya.

Sementara itu, dari sisi manajerial, perempuan juga terkadang menghadapi situasi yang mengharuskannya untuk menjalankan berbagai peran (multitasking) di tengah keterbatasan. Netty mengatakan perempuan yang tidak memiliki kemampuan manajerial akan kesulitan membagi waktu dan mengelola masalah. Faktor lain, daya dukung orang lain juga terkadang menjadi kendala bagi perempuan untuk berkiprah terutama dukungan dari suami sebagai kepala rumah tangga

Netty berharap perempuan di Jabar ke depan semakin terbangun pengetahuannya baik melalui ruang formal maupun informal. “Pengetahuan itulah yang akan mengarahkan perempuan melakukan pilihan dan mengambil tindakan yang tepat dalam menjalankan peran besarnya sebagai istri, ibu, dan guru peradaban. Semangat dari filosofi “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang diinspirasi dari Raden Ajeng Kartini masih sangat relevan dalam hidup perempuan sekarang,” kata Netty yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A).

Filosofi Habis Gelap Terbitlah Terang menurut Netty bermakna ada perubahan keadaan atau kondisi dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak atau kurang baik menjadi baik. Maksudnya, selalu ada perubahan ke arah yang lebih baik. “Jadi sampai hari ini filosofi ini masih berlaku dan relevan karena kehidupan ini sejatinya semakin hari harus semakin baik. Implementasinya bermacam-macam tergantung ruang, peran, dan pelakunya,” katanya.

Dalam sektor struktural atau formal, Netty mengatakan harus ada yang terus memperbaiki kebijakan, peraturan, program, dll. Sementara itu dari sektor kultural, komunitas, atau masyarakat, harus adajuga yang menyelenggarakan komunikasi, informasi, edukasi, sosialisasi, monitoring, evaluasi, pendampingan, dan pembinaan.

Peran pemerintah untuk mendukung penyelesaian masalah yang dihadapi perempuan menurut Netty masih belum optimal. Pemahaman atau perspektif para kepala-kepala daerah tentang isu-isu gender tidak merata. “Sehingga kebijakan, program, dan dukungan anggaran untuk menyelesaikan permasalahan perempuan masih minim. Termasuk kemampuan birokrat menerjemahkan dan mengimplementasikan program masih perlu ditingkatkan,” katanya. (A-199/A-108)***

Customize This