Headlines

Karakter Generasi Muda dalam Bahaya

SOLO, (PRLM).- Sejarawan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof. Dr. Anhar Gonggong mengamati, karakter dan budaya generasi muda Indonesia sekarang dalam bahaya, akibat merebaknya arus budaya luar dengan berbagai nilai yang kita terima. Kalau tidak ada upaya memperkuat jatidiri bangsa, kita tidak akan mengenal diri sendiri, karena karakter kita sudah tergerus budaya asing.

“Saksikan saja anak muda kita sekarang yang lagi gandrung dengan musik Korea. Jangan lupa, musik itu dalam proses tertentu merasuk lewat bahasa dan tingkah laku yang membentuk karakter . Ini sering dilupakan orang,” ujar guru besar sejarah itu kepada wartawan di Solo, Sabtu (20/4/13). Sebelumnya, Prof. Anhar Gonggong menjadi pembicara dalam seminar “Bahasa Daerah Sebagai Sumber Kearifan Bangsa”, di kampus UNS, Kentingan.

Menilik sejarah Indonesia sejak sebelum merdeka, menurut sejarawan itu, bahasa lokal telah lebih dahulu menjadi alat komunikasi. Hal itu berarti, proses mengindonesia sebenarnya baru 37 tahun, karena sebelumnya yang digunakan berkomunikasi adalah bahasa lokal ditambah bahasa Belanda.

“Jadi, bahasa lokasl sebenarnya tidak sekadar bahasa komunikasi, tapi juga menjadi bahasa ilmu dan bahasa kekuasaan. Selama pemerintahan Pak Harto, bahasa Jawa dan bahasa Indonesia menjadi bahasa kekuasaaan dengan pertumbuhannya. Coba perhatikan kalau Presiden Suharto pidato,” ujar Prof. Anhar Gonggong.

Dalam kaitan pentingnya persoalan karakter bangsa, sejarawan itu menekankan, sebenarnya pengertian pendidikan karakter harus dipahami betul. Ketika seseorang memasuki lembaga pendidikan, katanya, dia seharusnya diterima bukan karena kecerdasan otaknya semata, tetapi juga hati sanubari yang merefleksikan karakternya.

Prof. Anhar Gonggong menyarankan, anak-anak sampai tingkat sekolah menengah perlu tetap belajar bahasa ibu dan harus ada usaha agar bahasa lokal tetap menjadi bagian dari proses pemahaman diri. Kalau di rumah saja anak-anak sudah tidak berproses seperti itu, dapat digambarkan karakter ke-Indonesiaan kita di masa depan seperti apa. Dia prihatin, para pengambil kebijakan sering melupakan hal itu, seakan-akan pendidikan anak cukup jika anak didik diberi ilmu.

“Apalagi penyakit kita, ilmu yang diberikan kepada anak-anak biasanya dipikirkan secara pragmatis. Alasannya, tujuannya agar anak didik memiliki kemampuan bersaing dengan bangsa lain,” sambungnya.

Pada bagian lain, sejarawan UNJ itu mengemukakan, masuknya bahasa daerah sebagai muatan lokal dalam kurikulum 2013 hanya usaha minimal agar bahasa lokal tidak punah. Di depan seminar, Prof. Anhar menyebutkan, di Indonesia sebenarnya memiliki 726 macam bahasa daerah. Namun sebagian bahasa lokal itu telah musna karena penuturnya semakin berkurang. Di Maluku Utara, semula ada 38 bahasa lokal namun kini dilaporkan empat bahasa daerah sudah hilang.

Dalam pandangan Prof. Anhar, pengajaran bahasa daerah agar cakupannya lebih luas bisa lewat seni. Sebab, orang tak mungkin berseni tanpa menggunakan bahasa. Demikian pula dengan kegiatan lain, seperti agama yang menggunakan bahasa, menari dengan bahasa dan adat-istiadat juga dengan bahasa.

Permasalahan bahasa daerah, kata sejarawan asal Sulawesi itu, sejak sebelum kemerdekaan sampai sekarang selalu ada. Di awal kemerdekaan, Bung Karno dan Ki Hajar Dewantoro adalah dua tokoh yang tidak mau menjadikan bahasa Jawa sebagai bahasa nasional. Alasannya, bahasa Jawa sulit dipahami.

“Celakanya, sekarang banyak pemimpin di Indonesia merasa rendah diri kalau tidak menyisipkan bahasa asing dalam percakapan atau pidatonya,” tutur Prof. Anhar lagi.(A-103/A-108)***