LPS Koperasi Tingkatkan Kepercayaan Masyarakat

EKONOMI

BANDUNG, (PRLM).- Pjs. Ketua Umum Dewan Koperasi Nasional (Dekopin) Wilayah Jawa Barat, Rully Indrawan, menilai, keberadaan lembaga penjaminan simpanan (LPS) koperasi seharusnya bisa mulai berjalan pada tahun ini. Pasalnya, UU yang mengatur tentangnya, yakni UU Koperasi No. 17/2012, telah digulirkan semenjak tahun lalu.

Dengan demikian, pemerintah perlu segera mengatur sarana dan prasarana pendukungnya, seperti peraturan pemerintah. Menurutnya, ketiadaan LPSK dalam koperasi selama ini membuat masyarakat lebih banyak yang memilih menyimpan dananya di bank. Sementara pada saat bersamaan, banyaknya masyarakat yang lebih memilih menyimpan dananya di bank berpengaruh terhadap kekuatan modal koperasi.

“Di sisi lain, banyaknya anggota koperasi selama ini turut dipengaruhi juga oleh skala pendapatan anggota yang umumnya ada di strata ekonomi kelas menengah ke bawah,” tuturnya saat dihubungi “PRLM”, Minggu (14/4/2013).

Dia mengatakan, Undang-Undang Koperasi No. 17/2012 yang salah satu poinnya mengatur mengenai lembaga penjaminan simpanan diharapkan menjadi stimulus masyarakat untuk menabung di koperasi, sehingga kedepannya lembaga koperasi tidak mengalami kendala memperoleh dana murah. “Dengan adanya UU tersebut, diharapkan ke depannya koperasi mendapatkan kepercayaan mengelola dana masyarakat, sehingga modal koperasi bisa lebih kuat,” ujarnya.

Peneliti Departemen Pendidikan dan Studi Kebanksentralan BI, Ascarya, menyebutkan, bahwa sulitnya koperasi mencari dana murah adalah karena mayoritas masyarakat selama ini kadung menganggap bank sebagai satu-satunya lembaga keuangan, sehinggga dana masyarakat terkonsentrasi di bank.

“Khusus untuk aspek funding, alih-alih mengumpulkan dana dari masyarakat, mereka malah mencari dana ke bank. Itu membuat dana yang didapatkan oleh koperasi menjadi mahal, karena bank sendiri orientasinya adalah mencari profit,” ujarnya.

Kesulitan mencari dana murah, menurutnya, menjadi salah satu faktor yang membuat efisiensi koperasi saat ini rendah. Berdasarkan penelitiannya pada periode 2007-2011, tingkat efisiensi koperasi berada di tingkat 39%.

Untuk mengatasi hal tersebut, Ascarya menilai, diperlukannya lembaga pengayom koperasi yang karakteristiknya dapat berfungsi seperti bank sentral bagi perbankan. Hal itu untuk membantu koperasi bila mengalami kesulitan, baik dalam penyaluran pinjaman atau mengumpulkan simpanan. "Selama ini belum ada lembaga sentral khusus untuk koperasi seperti itu," tuturnya. (A-204/A-147)***

Baca Juga

20 Wirausaha Diseleksi Untuk Ikut Inkubator Bisnis

EKONOMI

CIMAHI, (PRLM).-Technopreneur Camp menjadi ajang seleksi wirausaha muda untuk memasuki program inkubator bisnis di Kota Cimahi.

Mereka akan dibina untuk menghasilkan usaha yang tangguh dan mampu bertahan hingga membuka peluang kerja bagi masyarakat lain.

Penjahit Tas Mukena, Mencoba Peruntungan Jelang HUT Kemerdekaan RI

EKONOMI

TASIKMALAYA, (PRLM).- Tradisi Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tercinta yang selalu diperingati setiap tanggal 17 Agustus merupakan surga bagi para penjual bendera maupun atribut merah putih.

Angkutan Pupuk Cilacap - Gombong Beralih ke Kereta

EKONOMI

PURWOKRTO, (PRLM).- Pengangkutan pupuk dari PT Pupuk Sriwijaya di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah menuju Gombong, Ceper di Jateng, dan Maguwo DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) dialihkan dengan menggunakan kereta api.

Pasokan Terbatas, Harga Daging Ayam Masih Mahal

EKONOMI
SEORANG pegadang daging ayam sedang melayani pembeli yang antrE di Pasar Cigasong, Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka. Pasokan dading ayam broiler ke Pasar Majalengka belum normal, sejumlah pedagang tidak biSa memenuhi kebutuhan konsumen.*

MAJALENGKA,(PRLM).- Pasokan daging ayam ke Pasar Majalengka belum normal kembali sejak Lebaran lalu. Sejumlah pedagang hanya mendapatkan barang dalam jumlah terbatas sehingga tak heran harga jualpun masih cukup mahal mencapai Rp 40.000 per kg.