Muhammadiyah dan NU Minta Polri Evaluasi Kinerja Densus 88 Antiteror

JAKARTA, (PRLM).-Dua organisasi masyarakat keislaman Muhammadiyah dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengingatkan kepolisian khususnya Densus 88 Antiteror agar tidak merusak simbol dan atribut keagamanan saat melakukan penggerebekan terorisme. Bahkan, Muhammdiyah dan PBNU meminta kepolisian mengevaluasi kinerja Densus 88.

"Berhentikan merusak simbol-simbol agama terutama agama Islam melalui intervensi terorisme. Tolong jangan merusak mengenai atribut umat Islam saat penggerbekan," ucap Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhamadiyah Din Syamsudin saat membuka diskusi publik bertema Memberantas Terorisme Tanpa Teror dan Melanggar HAM di kantor PP Muhamadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (11/4).

Din menambahkan, jika perusakan simbol agama dilakukan maka bukan tidak mungkin masyarakat yang mengetahui aksi penggrebekan itu justru menjadi simpati dengan aksi teror ketimbang pemberantasannya.

"Sekali melakukan serangan dari itu jadi bisa terpengaruh dan menimbulkan kebencian (aksi penggrebekan teror)," katanya.

Tak hanya itu, Din juga mengingatkan agar Densus 88 dapat mengindari anak-anak dalam melakukan penggrebekan aksi teror. Dikatakan dia, jika ini juga terjadi bukan tak mungkin menimbulkan kerusakan psikologi anak tersebut.

"Saya mendapat informasi, di Poso anak-anak melihat ibu-ibu dan bapaknya di bantai, itu menjadi anak camp yang menimbulkan dendam kesumat itu, ini juga harus bisa dihindari," tuntasnya.

Hal senada dikatakan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Slamet Effendy Yusuf. Ia pun kemudian sepakat agar ada evaluasi kinerja Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror dalam melakukan pemberantasan aksi terorisme di Indonesia. "Densus harus mengoreksi diri dan siap dikoreksi oleh pimpinannya," kata Slamet.

Dia menambahkan, evaluasi itu dapat dimulai mengenai sistem operasi penggerebekan teroris hingga motif dibalik penggerebekan yang dilakukan oleh Densus 88.

"Harus ada koreksi menyeluruh, termasuk operasi Densus selama ini. Apakah lepas dari sana tidak ada motif kesukuan keagamaan, saat melakukan operasi seperti itu," katanya.

Sementara itu, Ketua Presidium Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) Ratna Sarumpaet mempertanyakan siapa otak dibalik terbentuknya Densus 88 itu.

"Siapa dibelakang mereka, siapa otak yang menggerakan mereka, itu yang penting," tegasnya.

Dalam diskusi tersebut, Ratna sempat menunjukan sebuah keping video berisi kekerasan yang diduga dilakukan oleh Densus 88.

Dia mengaku mendapatkan video tersebut dari Belanda, dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar bisa dimengerti oleh masyarakat Indonesia. Video tersebut sudah dia sebar ke sejumlah tempat termasuk pesantren dan gereja-gereja.

Bantahan kemudian dilontarkan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar. Boy menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh anggota Densus 88 adalah murni untuk menegakan hukum, bukan atas didasari kebencian terhadap umat agama tertentu.

"Yang dilihat petugas adalah perbuatan yang dilakukan bukan dalam konteks agama. Kalau pelaku melakukan perbuatan melakukan peledakan, membuat bom itu yang kami tindak," tuturnya. (A-194/A-89)***

Komentari di Facebook !