Headlines

Ratusan Mahasiswa Universitas Islam 45 Demo Tuntut Kampusnya Jadi PTN

RIESTY YUSNILANINGSIH/"PRLM"
RIESTY YUSNILANINGSIH/"PRLM"
MAHASISWA Universitas Islam 45 Kota Bekasi berdemonstrasi di depan ruang rektorat kampus, Rabu (3/4). Mahasiswa menuntut perubahan status Unisma menjadi negeri karena saat ini biaya kuliah yang dibayar tidak sebandinding dengan fasilitas yang diterima dan penurunan kualitas yang terjadi.*

BEKASI, (PRLM).-Semakin tingginya biaya pendidikan yang tidak dibarengi dengan peningkatan fasilitas dan mutu layanan membuat mahasiswa Universitas Islam 45 menuntut kampusnya segera diproses menjadi perguruan tinggi negeri.

Tuntutan tersebut disampaikan melalui aksi demonstrasi yang digelar di depan kantor rektorat, Rabu (3/4). Sekitar 500 mahasiswa dari berbagai fakultas turut meramaikan aksi demonstrasi ini.

“Kami menuntut perubahan. Mahasiswa berhak mendapatkan fasilitas dan pengajaran yang sebanding dengan biaya yang sudah dikeluarkan. Bila yayasan tidak sanggup memenuhinya, biarkan status kampus berubah menjadi negeri,” ucap Ketua Senat FISIP Ayu Hazar dalam orasinya.

Penurunan kualitas pendidikan itu terlihat dari kualitas dosen pengajar yang bertugas saat ini. Menurut Ayu, banyak dosen yang kualifikasinya masih sekadar lulusan S1. Padahal standar minimal bagi dosen ialah lulus S2.

Didi Mulyawan selaku jenderal lapangan aksi menambahkan, penurunan kualitas serta fasilitas yang diterima mahasiswa tersebut bisa terlihat dari ketidaklengkapan laboratorium yang menjadi wahana uji coba.

Sebagai mahasiswa semester VIII Fakultas Pertanian, Didi merasakan betul kebutuhan akan laboratorium praktek yang memadai.

“Misalnya saja rumah kaca. Bangunannya sudah ada, tapi nasibnya terbengkalai sehingga tidak bisa dijadikan tempat melakukan praktikum. Lalu saat akan memanfaatkan lapangan unipreneur pun harus bayar sewa. Padahal tiap semesternya kami bayar biaya kuliah yang tidak sedikit,” katanya.

Ia menyebutkan, pada semester ganjil ini ia harus membayar Rp 3 juta. Nilai yang berbeda dengan kisaran maksimal sekitar Rp 7 juta harus dirogoh mahasiswa fakultas lain. Angka tersebut mengalami kenaikan bertahap dari tahun ke tahunnya.

“Ini yang membuat kampus Unisma berubah layaknya lembaga bisnis. Biaya yang tinggi, tidak sebanding dengan fasilitas yang diberikan dan tidak pernah pula disampaikan transparansi keuangannya,” katanya.

Menurut Didi, selain berjuang melalui saluran demonstrasi, pihaknya juga menyebar petisi seputar dukungan menjadikan Unisma sebagai perguruan tinggi negeri pada seluruh mahasiswa yang saat ini jumlahnya terdaftar hingga 5.800 orang. Petisi akan terus disebar untuk mendapatkan gambaran ril keinginan mahasiswa terhadap kampusnya.

Menanggapi tuntutan mahasiswa tersebut, Rektor Unisma Siti Nuraini mengatakan bahwa penurunan fasilitas tersebut tidak benar. Justru pihak kampus terus mengembangkan berbagai fasilitas penunjang perkuliahan semisal laboratorium yang ada.

Kemudian mengenai kualifikasi dosen, di antara dosen tetap yang bekerja di Unisma, hanya dua yang merupakan lulusan S1. Namun keduanya pun tengah bersiap melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 demi memenuhi standar kualifikasi dosen yang disyaratkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

“Jadi semua yang dituduhkan itu tidak benar adanya karena semua berproses. Mungkin saat ini memang belum terlihat hasil akhirnya seperti apa yang menjadi tuntutan mahasiswa,” katanya.

Sementara mengenai tuntutan perubahan status Unisma menjadi negeri, menurut Siti, pihak yayasan tidak keberatan dengan wacana tersebut. Akan tetapi prosesnya tidaklah mudah dan singkat.

Pembahasan mengenai status penegerian Unisma ini akan dibahas lebih lanjut pekan depan. Mahasiswa mengingini difasilitasi dialog yang melibatkan rektorat dan yayasan. (A-184/A-89)***

×
Customize This