Bupati Kuningan Meminta Masyarakat Menjaga Keutuhan Situs Batu Naga

TIGA orang perangkat Desa Jabranti, Kec. Karangkancana, Kab. Kuningan beristirahat sambil mengamati batu menhir berukirkan gambar diperkirakan buah karya budaya pada masa pra sejarah di puncak bukit Gunung Pojoktilu, sekitar desa tersebut, Selasa (21/3) y
NURYAMAN/PRLM
TIGA orang perangkat Desa Jabranti, Kec. Karangkancana, Kab. Kuningan beristirahat sambil mengamati batu menhir berukirkan gambar diperkirakan buah karya budaya pada masa pra sejarah di puncak bukit Gunung Pojoktilu, sekitar desa tersebut, Selasa (21/3) yang baru lalu.

KUNINGAN, (PRLM).- Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda meminta kepada pemerintah desa dan masyarakat sekitar Gunungtilu, menjaga keutuhan Situs Batu Naga di puncak bukit Pojok Tilu sebelah selatan Dusun Banjaran, Desa Jabranti, Kec. Karangkancana, Kab. Kuningan yang kini sedang diteliti oleh arkeolog. Pesan tersebut diungkapkan Aang kepada "PRLM" melalui telefon, Kamis (21/3/13) menanggapi adanya langkah penelitian arkeolog terhadap situs tersebut.

"Bapak (demikian Aang kerap menyebutkan dirinya-red.) sangat mendukung langkah penelitian arkeologi itu. Di samping itu, untuk mendukung proses penelitian serta pelestarian situs di gunung itu, bapak meminta kepada pemerintah dan masyarakat desa sekitar membantu menjaga keutuhan setiap benda dan kekayaan alam yang ada di kawasan gunung itu," kata Aang.

Di balik itu, Aang mengharapkan penelitian arkelogi terhadap situs di puncak gunung sekitar perbatasan antara wilayah Kab. Kuningan, Jawa Barat dengan Kab. Brebes dan Cilacap, Jawa Tengah itu bisa mengungkap fakta-fakta sejarah dan budaya masyarakat masa lalu.

Sementara itu, arkeolog dari Universitas Indonesia yang juga pendiri Masyarakat Arkeologi Indonesia (MARI) Dr. Ali Akbar, kepada "PR" menyebutkan, ukiran gambar ular naga dan gambar rupa lainnya pada batu menhir di puncak bukit tersebut, diperkirakan dibuat pada masa prasejarah. Ali Akbar yang baru-baru ini telah dua kali datang bersama tim arkeolog dari MARI ke lokasi tersebut, menyatakan batu menhir berukirkan gambar di gunung itu sangat berbeda dengan menhir-menhir yang telah ditemukan di Indonesia.

"Semua batu menhir yang telah ditemukan sebelumnya, biasanya dibentuk dulu dengan cara dipahat sesuai kebutuhan, lalu permukaannya dihiasi relief gambar atau tulisan. Sementara bentuk menhir yang ada di Gunung Pojok Tilu Kuningan itu, bukan hasil bentukan manusia tetapi bentukan alam," kata Ali Akbar.

Maksudnya, demikian Ali Akbar, batu bentukan alam yang dijadikan menhir itu dicari dan diperoleh manusia dari alam lalu dibawa dan ditempatkan di lokasi tersebut sesuai yang dibutuhkan.

"Saya yakin, dua batu menhir dengan bentuk hampir serupa yang terpasang berhadapan membentuk gapura atau gerbang di lokasi itu, bukan hasil bentukan manusia. Kecuali ukiran gambar-gambar pada batu menhir itu, jelas hasil karya manusia," tutur Ali Akbar, seraya menambahkan untuk mengungkap fakta-fakta arkelogi situs tersebut, pihaknya akhir-akhir ini tengah menghimpun referensi sejarah dan bertukar pendapat dengan sejumlah pakar budaya atau budayawan.

Di samping itu, untuk mengetahui pasti kapan situs di Gunung Pojok Tilu itu dibangun dan masa penggunannya, tim arkeolog dari MURI pada awal Maret 2013 telah mengambil sampel tanah dari kedalaman sekitar 50 cm di lokasi batu tersebut.

"Sampel tanah itu sekarang sedang diteliti di laboratorium Badan Tenaga Nuklir Nasional. Penelitian sampekl tanah itu, untuk mengetahui angka abstrak tahun berapa atau berapa tahun yang lalu menhir itu dipasang di tempat itu," kata Ali Akbar.(A-91/A-108)***

Baca Juga

Nana Supriatna Ditemukan Tewas Mengambang di Kolam

KUNINGAN, (PR).- Nana Supriatna bin Kemon (35) warga Lingkungan Ciketug, RT 4 RW 8, Kelurahan Winduhaji, Kecamatan Kuningan, Kabupaten Kuningan, ditemukan tewas mengambang telentang di kolam milik Ayuti (65) di lingkungan tersebut.

Janin Tujuh Bulan Ditemukan Tewas Mengambang

MAJALENGKA,(PR).- Janin berusia 7 bulan ditemukam tewas mengambang di sebuah saluran air di Blok Sinapulo, Desa Jatipamor, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka oleh petani setempat, Senin, 1 Agustus 2016.

Ratusan Guru Swasta Unjuk Rasa di Balai Kota

SUKABUMI, (PR).- Ratusan guru SMP dan SMA sederajat se-Kota Sukabumi, menggelar aksi unjuk rasa, Selasa 2 Agustus 2016. Para guru yang tergabung Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) menggeruduk kantor bupati di Balai Kota Sukabumi di Jalan Syamsudin.