Sepanjang 75 km Pantai Selatan Cianjur

Terindikasi Mempunyai Potensi Minyak Bumi

WILUJENG KHARISMA/"PRLM"
WILUJENG KHARISMA/"PRLM"
SUASANA sore di Pantai Jayanti, Cidaun, Kabupaten Cianjur beberapa waktu lalu. Jayanti merupakan pantai di pesisir selatan Cianjur. Sepanjang 75 km pantai Selatan Kabupaten Cianjur terindikasi kuat mengandung minyak bumi.*

CIANJUR, (PRLM).- Sepanjang 75 km pantai Selatan Kabupaten Cianjur terindikasi kuat mengandung minyak bumi. Namun, kandungan dan potensi tersebut hingga kini belum dioptimalkan karena terbentur peraturan pemerintah pusat soal penambangan.

Demikian disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Cianjur, Bachrudin Ali saat ditemui di ruang kerjanya, Kompleks Kantor Bupati Cianjur, Jalan Siti Jenab, Selasa (19/3).

Bachrudin mengatakan potensi sumber daya alam di Kabupaten Cianjur dinilai sangat mumpuni mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD). Sayangnya, potensi tersebut belum tergarap maksimal lantaran terbentur kewenangan peraturan pemerintah pusat.

"Kewenangan untuk pertambangan mineral berada di pusat, minyak bumi misalnya. Kami, pemkab hanya mendapatkan kompensasi pajak offshore. Padahal jika bisa digarap pemerintah daerah, pajaknya bisa mendongkrak PAD. Begitu juga di Kecamatan Pagelaran. Kita punya potensi tambang batu bara. Hanya saja belum tergali, karena fokus saat ini penambangan batu bara berada di Kalimantan. Mungkin jika nanti kandungan batu bara di Kalimantan habis, bisa saja beralih ke Cianjur," katanya.

Bachrudin mengaku, dari berbagai potensi pajak pertambangan, Kabupaten Cianjur hanya diberikan kewenangan mengelola pajak galian C. Selebihnya lebih diatur oleh pemerintah pusat, yang merupakan pertambangan bukan mineral.

"Memang pada akhirnya potensi-potensi pertambangan itu relatif belum optimal karena terbentur kewenangan pemerintah pusat," ujarnya.

Dibandingkan dengan Kabupaten Garut, Tasikmalaya, atau Ciamis, bentangan pesisir lepas pantai di pesisir selatan Cianjur lebih panjang. Jika Kabupaten Cianjur memiliki bentangan pesisir pantai sepanjang 75 kilometer, Pangandaran hanya 50 kilometer, dan Kabupaten Tasikmalaya hanya 40 kilometer.

"Panjangnya pesisir pantai selatan Cianjur mengindikasikan tersimpannya kandungan potensi minyak bumi. Potensi wilayah Selatan Cianjur masih banyak, termasuk geothermal. Namun sampai saat ini pun baru sebatas penelitian," tuturnya.

Sementara itu, pengelolaan pertambangan Galian C di Cianjur pun masih belum signifikan memberikan sumbangan PAD Cianjur.

Pasalnya, dari sebanyak 85 titik Galian C yang berijin, lebih dari separuh dari jumlah tersebut sudah habis masa ijinnya. Namun, beberapa titik Gallan C yang sudah habis masa ijinnya diduga masih melakukan penambangan.

Bahkan, penambangan Galian C lebih banyak berkontribusi terhadap kerusakan jalan dan kerusakan lingkungan daripad PAD dari sektor pajak yang didapat. Data dari Dinas Pajak Daerah, penerimaan pajak dari Pajak Mineral bukan Logam dan Batuan sekitar Rp 1,3 miliar.

"Tahun ini kami menaikan target rata-rata per sektor sebesar 5 persen untuk penerimaan pajak, termasuk sektor pertambangan. Dari kegiatan pertambangan yang ada dibanding pemasukan pajak memang masih banyak potensi pajak yang hilang," ucap Kepala Dinas Pajak Daerah, Dadan Harmila.

Dadan mengatakan hilangnya potensi pajak tersebut dikarenakan banyak tambang galian C yang tidak berijin dan ilegal.

"Meskipun ada kegiatan penambangan namun tidak ada ijin, kami tidak bisa menarik pajaknya, karena penarikan pajak didasarkan pada ijin legal yang dikelurkan Dinas Pertambangan dan Pengelolaan Sumberdaya Air," tuturnya. (A-186/A-89)***

Komentari di Facebook !