Solusi Kerap Tergenang Banjir

Panen Perdana Hasil Sawah Apung

JAWA BARAT
SAPJO (56) anggota kelompok tani Taruna Tani Mekar Bayu tengah memanen padi di sawah apung, Kamis (14/3/13).*
NURHANDOKO/PRLM
SAPJO (56) anggota kelompok tani Taruna Tani Mekar Bayu tengah memanen padi di sawah apung, Kamis (14/3/13).*

CIAMIS, (PRLM).- Sawah apung merupakan solusi tepat untuk mengatasi persawahan yang selama ini selalu terendam banjir di kawasan lumbung padi wilayah tatar Galuh Ciamis. Sawah apung yang ditanam oleh Taruna Tani Mekar Bayu di Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Ciamis tiga bulan lalu, sekarang sudah mulai dipanen.

Panen perdana sawah apung yang menjadi kebanggaan kelompok yang berlangsung Kamis (14/3/13), dilaksanakan sederhana. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis Nana Supriatna didampingi Camat Padaherang Dede Saeful Uyun serta Sekretaris Jenderal Ikatan Petani Pengendali hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) Kustiwa Adinata menyabit beberapa tanaman padi.

Berbeda dengan cara panen padi biasa, untuk mencapai lokasi sawah apung petani harus naik perahu atau berjalan kaki menembus banjir dengan ketinggian air mencapai 70 sentimeter. Setelah tanaman dipanen, mereka harus membawa tanaman tersebut ke daratan untuk dipisahkan dari tangkainya.

Secara fisik tanaman padi sawah apung dengan model SRI (System of Rice Intensification) atau menanam padi satu per satu, tidak berberda dengan tanam secara konvensional atau yang biasa. Bedanya pada sawah apung tanaman padi ditanam di atas rakit bambu, yang diberi media serabut kelapa serta tanah sawah di sekitar tempat tersebut.

Ketua Taruna Mekar Bayu Desa Ciganjeng Kecamatan Padaherang, Kabupaten CiamisTahmo Cahyono (38) lokasi sawah apung yang dipasang di wilayah tersebut salah satu pertimbangannya karena selelu terendam banjir. Padahal kecamatan Padaherang, Kalipucnag dan sekitarnya merupakan lumbung padi untuk wilayah tatar Galuh Ciamis.

Setiap tahun ratusan hektare persawahan di sekitar tempat tersebut terendam banjir hingga berbulan-bulan lamanya.

Akibatnya petani lebih banyak kehilangan masa tanam. rata-rata petani di wilayah tersebut melakukan penanaman hingga enam kali, sebelum dapat menikmati panen. Saat baru menanam, banjir kembali menerjang hingga tanaman puso. Saat kemaru panjang, petani baru bisa merasakan panen.

Dia mengungkapkan areal sawah terapung pertama hanya seluas 100 bata. Varietas padi yang ditanam adalah IR 64, dengan pemupukan organik. Selain itu, pembasmian hama juga memergunskan cairan organik. "Sebenarnya belum puas, karena produksinya masih bisa ditingkatkan. Ini juga pengalaman pertama. Kami juga berharap apa yang kami kerjakan bisa menjadi inspirasi petani lainnya untuk menerapkan model sawah apung," tutur Tahmo didampingi Sekjen IPPHTI Kustiwa Adinata. (A-101/A-88)***

Baca Juga

Pemasukan PBB Cianjur Baru Rp 26 Miliar

JAWA BARAT

CIANJUR, (PRLM).- Pelimpahan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dari Kantor Pajak Pratama ke Pemkab Cianjur sepertinya setengah hati. Betapa tidak, data yang dilimpahkan dari Pajak Pratama ke Pemkab Cianjur ternyata terjadi perbedaan pada jumlah di berita acara dengan fakta yang ada.

DPRD Desak Pemkab Majalengka Bentuk BNN

JAWA BARAT

MAJALENGKA,(PRLM).- Komisi A DPRD Majalengka meminta pemerintah Kabupaten Majalengka segera membentuk Badan Narkotika Nasional (BNN), dan bekerja secara efektif karena peredaran narkoba di wilayah Majalengka sudah cukup memprihatinkan.

Baru 50 Desa di Subang Yang Penuhi Syarat Cairkan Dana Desa

JAWA BARAT

SUBANG, (PRLM).- Dari 245 desa yang ada di Kabupaten Subang, baru sekitar 50 desa yang APBDes perubahannya sudah tuntas dan telah memenuhi syarat mencairkan dana desa dari pemerintah pusat.

Lagi, Satpol PP Subang Tutup 5 Toko Modern tak Berijin

JAWA BARAT

SUBANG, (PRLM).- Satpol PP Kabupaten Subang kembali menutup lima toko modern tak berijin yang masih beroperasi, Jumat (3/7/2015). Dari lima toko modern tersebut, tiga di antaranya berada di wilayah Kecamatan Jalancagak, dan masing-masing satu toko di Cisalak serta Purwadadi.