RI Kehilangan Peluang Jadi Mediator Korut dan Korsel

JAKARTA, (PRLM).- Anggota Komisi I DPR RI Sidarto Danusubroto merasa sikap diplomasi RI yang mendukung penjatuhan sanksi PBB pada Pemerintah Korea Utara dalam tes dan pengembangan nuklir kurang tepat.

Menurut Sidarto, akan lebih cantik kalau kita ini bersikap abstain. "Korut kan negara yang dikucilkan oleh komunitas dunia internasional," ujar Sidarto di Jakarta, Senin (11/3/13).

Sidarto khawatir, putusan mendukung bisa mempersulit posisi Indonesia dalam kelanjutan hubungan baik yang sudah terjalin dengan Korut selama ini. Jika tadinya RI bersikap abstain, jelas ke depannya RI sangat berpeluang untuk menjadi mediator antara Korut dan Korsel.

"Kalau kita ikut mengucilkan Korut, negara itu bisa lebih nekad lagi. Karena orang atau negara yang dalam posisi terjepit itu akan lebih radikal lagi," tukasnya.

Buktinya, saat PBB mengumumkan penjatuhan sanksi lagi terhadap Korut, negara tersebut langsung beraksi dengan men-declair siap perang.

"Apakah orang, satu kelompok, atau suatu negara, kalau dia dikuncilkan, dia akan lebih radikal. Apalagi dia punya kekuatan nuklir. Kita sadari, bahwa ketegangan di satu kawasan akan berdampak pada kawasannya lainnya. Ini kita sudah ikut serta dalam menambah ketegangan di kawasan itu," tandasnya.(kominfo/A-108)***

Baca Juga

Tahun Ini, DIY Bebas Buta Aksara

YOGYAKARTA, (PR).- Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta menargetkan 95 persen penduduk di daerah itu akan bebas buta aksara akhir 2017.

Raja Salman, Sang Penjaga Dua Kota Suci yang Peduli kemanusiaan

Sekitar 81 tahun lalu, dunia telah kehadiran seorang pemimpin besar dunia bernama Salman bin Abdulaziz al-Saud. Ia lahir dari Rahim seorang keturunan bangsawan Al Sudairi, Hassa binti Ahmad al-Sudairi, pada 31 Desember 1935 di Riyadh.