Rata-rata Lama Sekolah Masyarakat Jabar Masih Rendah

EKONOMI

BANDUNG, (PRLM).- Rata-rata lama sekolah masyarakat Jawa Barat masih rendah. Hal tersebut menjadi salah satu tantangan Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM) Jabar untuk menghadapi perdagangan bebas dengan negara ASEAN pada 2015 nanti.

Kepala KUMKM Jabar, Anton Gustoni, menyebutkan, rerata lama sekolah (RLS) masyarakat Jabar masih 8,2 tahun. Belum mencapai 9 tahun seperti yang ditargetkan oleh pemerintah pusat.

"Rerata lama sekolah yang masih rendah ini menjadi salah satu kendala yang dihadapi KUMKM di Jabar," katanya saat diskusi terbatas bertajuk "Menuju Komunitas Ekonomi ASEAN 2015", di Aula Dinas KUKM Jabar, Selasa (5/13).

Dia mengatakan, faktor sumber daya manusia (SDM) secara umum masih menjadi salah satu hal yang perlu diperbaiki untuk menghadapi perdagangan bebas dengan masyarakat ASEAN atau biasa dikenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

Hal tersebut dapat berpengaruh kepada belum profesionalnya pengelolaan KUMKM selama ini, sehingga berdampak pada nilai tawar produk yang masih rendah. Padahal, dalam persaingan MEA, pengusaha lokal akan dihadapkan oleh pengusaha yang berasal dari luar negeri.

Selain itu, dia menyebutkan, faktor lainnya yang masih menjadi kendala KUMKM adalah persoalan infrastruktur, regulasi, dan produktifitas. Terkait persoalan infrastruktur, dia mengatakan, bahwa infrastruktur itu tidak hanya persoalan jalan raya saja, namun juga terkait dengan kesehatan dan pendidikan masyarakatnya.

Dia mengatakan, pada dasarnya MEA dapat memberikan keuntungan bagi KUMKM Jabar. Beberapa keuntungan tersebut adalah adanya kemungkinan porsi keuntungan dan pasar bagi para pelaku usaha lokal yang bisa lebih besar. "Asalkan iklim perekonomiannya memang didukung," katanya.

Dia menyebutkan, selama ini KUMKM memberikan porsi lapangan kerja yang cukup besar. Menurutnya, terdapat 9 juta unit KUMKM di Jabar. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi di bandingkan nasional. Persentase penyerapan kerjanya pun mencapai 81%.

Kepala Pendidikan Enterpreneurship Universitas Brawijaya, Lilik Setyobudi, mengatakan, ada aspek yang belum dipersiapkan secara matang oleh Indonesia dalam menghadapi MEA nanti, yakni terkait pasar bebas tenaga kerja.

Dia mengambil contoh keputusan produsen Blackberry, Research in Motion (RIM), yang memutuskan membangun pabrik di Malaysia. Padahal, menurutnya, Indonesia mampu menyerap 4 juta produk Blackberry dalam setahun.

"RIM beralasan membutuhkan pekerja yang lebih profesional serta memiliki skill teknologi yang dibutuhkan. Jadi, kasus itu membuktikan, bahwa ketidaksiapan dalam menghadapi tuntutan skill industri multinasional membuat Indonesia hanya dijadikan sebagai negara berorientasi pada konsumsi, bukan sebagai negara yang memiliki orientasi produksi teknologi," katanya.

Dia menambahkan, ketika pabrik-pabrik berdiri di Indonesia, pengangguran di Indonesia yang berkontribusi terbesar atau 60% dari total pengangguran di wilayah ASEAN hanya dapat menempati posisi sebagai buruh kontrak atau outsourcing.

"Ini merupakan sebuah ironi, ketika pemimpin negara dan pembuat kebijakan ekonomi menyambut MEA dengan tangan terbuka, ada berbagai aspek yang belum dipersiapkan secara matang," tuturnya. (A-204/A-89)***

Baca Juga

Pasokan Terbatas, Harga Daging Ayam Masih Mahal

EKONOMI
SEORANG pegadang daging ayam sedang melayani pembeli yang antrE di Pasar Cigasong, Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka. Pasokan dading ayam broiler ke Pasar Majalengka belum normal, sejumlah pedagang tidak biSa memenuhi kebutuhan konsumen.*

MAJALENGKA,(PRLM).- Pasokan daging ayam ke Pasar Majalengka belum normal kembali sejak Lebaran lalu. Sejumlah pedagang hanya mendapatkan barang dalam jumlah terbatas sehingga tak heran harga jualpun masih cukup mahal mencapai Rp 40.000 per kg.

Pemerintah Perketat Impor Jagung Demi Produsen Lokal

EKONOMI

JAKARTA, (PRLM).- Pemerintah Indonesia berhenti mengeluarkan izin impor jagung yang digunakan di pabrik pakan ternak, dan sedang berupaya meluncurkan aturan yang hanya akan membolehkan Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk mengimpor jagung mulai tahun depan.

Perizinan tidak Sinergi Penyebab Dwelling Time Lambat

EKONOMI

JAKARTA, (PRLM).- Ketua Asosiasi Logistik dan Forwader Indonesia, Widjiyanto menilai wajar jika akhir-akhir ini masalah lambatnya dwelling time di Indonesia semakin menjadi sorotan karena maraknya oknum yang menyalahgunakan proses dwelling time sudah lama terjadi dan harus segera dibenahi.

Harga Daging Sapi Membuat Keresahan Masyarakat

EKONOMI

BANDUNG,(PRLM).- Menjelang peringatan kemerdekaan ke-70 tahun Indonesia, bangsa ini di warnai dengan tingginya harga daging sapi dan kebutuhan pokok lain. Hal ini menunjukkan setelah 70 tahun merdeka, Indonesia belum terbebas dari merdeka pangan.