Headlines
Harga Jual Jadi Melonjak

Perajin “Peuyeum” Keluhkan Langkanya Beras Ketan

TOTO SANTOSA/’’PRLM’’
TOTO SANTOSA/’’PRLM’’
PERAJIN oleh-oleh khas Kuningan berupa tapai ketan di Desa Tarikolot Kabupaten Kuningan, kini mengeluhkan akibat sulitnya memperoleh beras ketan dan harganya melonjak. Akibatnya harga jual di toko oleh-oleh juga meningkat.*

KUNINGAN, (PRLM).- Sejumlah perajin makanan khas Kuningan berupa tapai “peuyeum” ketan, kini mengeluhkan akibat sulitnya memperoleh beras ketan sebagai bahan dasar pembuatan tapei dan kendati ada kiriman, harganya melonjak sehingga mengakibatkan harga jual “peuyeum” meningkat.

Kenaikan harga jual tapai ketan tersebut, juga dikeluhkan sejumlah pemilik kios atau toko penjual oleh-oleh khas Kuningan di daerah Cijoho. Adanya kenaikan harga dari pihak produsen (home industry), memaksa para penjual olah-oleh menaikkan harga jualnya antara 10-15 % sehingga berdampak kepada kurang laku di pasaran.

“Kenaikkan harga jual itu, bukannya mendatangkan keuntungan bagi pemilik toko oleh- oleh malah kerugian karena barang yang terjual relatif sedikit. Padahal, dari kenaikkan harga tersebut, umumnya pihak toko tidak lagi menambah kelebihan kecuali menyesuaikan kenaikan dari pihak produsen,” tutur Ny.Maman, Senin (4/2/13).

Dia mencontohkan, tapai ketan yang dibungkus dalam kemasan plastik ukuran sedang biasanya dijual dengan harga Rp 27.500,- per bungkus dengan mencari keuntungan sekitar Rp 1.500,-. Saat ini, harga dari produsennya meningkat dengan alasan harga beras ketannya sulit didapat dan harganya melonjak, sehingga dia terpaksa menjual dalam kemasan yang sama seharga Rp 30.000,- padahal dia tetap memperoleh keuntungan Rp 1.500,- perbungkus.

Sebelumnya, Ny. Danesih (67) warga Desa Tarikolot Kec.Cibeureum Kab.Kuningan, yang merupakan salah seorang perintis usaha untuk menjadikan Kuningan lebih dikenal lewat karyanya yakni melalui “peuyeum” atau tapei ketan sejak tahun 1986, mengakui usaha tapai ketan itu selalu mengalami fluktuatif.

Berdasarkan data yang diperoleh, Kabupaten Kuningan pada saat ini sedikitnya membutuhkan beras ketan sedikitnya 300 ton/bulan guna mencukupi kebutuhan para perajin tapai ketan dan rengginang. Selama ini, berasa ketan tersebut sering mendapat kiriman dari daerah Lampung atau Palembang dan Kuningan sendiri belum mampu memenuhi kebutuhan para pengusaha home industry makanan khas tersebut.

Ny. Danesih yang dikenal dengan sebutan Ibu Yayat juga yang awalnya hanya membutuhkan antara 50-100 kg beras ketan/bulan, tapi sejak tahun 2007 seiring dengan bertambah maju usahanya kini membutuhkan beras ketan dengan rata-rata produksi mencapai 1 ton beras ketan atau rata-rata 3 kwt perhari dengan jumlah produksi 150-200 ember ukuran besar/hari.

Kepala Bagian Ekonomi Pemerintah Kabupaten Kuningan, Trisman, mengatakan, pihaknya masih mempelajari kelangkaan beras ketan bagi para perajin oleh-oleh khas Kuningan itu. Sedangkan kerja sama dengan Pemkab Cilacap masih dalam proses dan diharapkan ke depannya bisa terjalin kerja sama yang saling menguntungkan. (A-164/A-108)***