Headlines

Tim Piala Davis Indonesia Persiapkan Mental Jelang Hadapi Jepang

JAKARTA, (PRLM).- Menghadapi Jepang di Grup I Zona Asia/Oceania, 1-3 Februari mendatang di Jepang, tim Piala Davis Indonesia mempersiapkan mental.

Pasalnya, Jepang yang berkekuatan pemain peringkat di bawah 100 dunia tersebut diakui merupakan lawan yang berat bagi Indonesia yang hanya diperkuat pemai peringkat di atas 200-an dunia.

"Memang komposisi pemain baru akan diumumkan jelang pertandingan, namun kita sudah memiliki gambaran permainan mereka. Dengan kualitas yang lebih tinggi, tentu kami berusaha agar para pemain terus mau bekerja keras dan berusaha kendati lawan yang dihadapinya nanti kualitasnya jauh diatas mereka. Karena itu kami siapkan sesi khusus untuk meningkatkan mental dalam latihan," ujar Pelatih Tim Davis Indonesia Bonit Wiryawan saat dihubungi "PRLM", Minggu (20/1).

Sesi khusus yang dilakukan adalah dengan membuat konseling setiap usai latihan. Pemain dan pelatih saling sharing untuk melakukan evaluasi, baik dari faktor teknis maupun non teknis.

"Sharing ini dilakukan agar pemain punya motivasi lebih. Agar mereka tidak ragu-ragu lagi, karena mereka ini merupakan yang terbaik di Indonesia saat ini. Kita cari celah terus agar tidak menyerah dengan keadaan," ucapnya.

Tim Davis Indonesia yang dikomandaninya tersebut, dinilainya sudah melakukan persiapan dengan baik sejauh ini, terlebih lagi, menurut dia, dengan sejarah di sektor putra yang cukup baik di Piala Davis tahun lalu, menang melawan Thailand yang diperkuat rata-rata pemain 100 dunia dan menyingkirkan Filipina yang berkekuatan pemain 20 dunia, serta hasil yang baik di SEA Games, dia menilai bahwa timnya mampu mengimbangi Jepang.

"Memang rangking menjadi patokan kualitas petenis, namun ini Davis dimana semua bisa terjadi karena kita berbicara atas nama negara masing-masing, makanya atmosfernya cukup berbeda. Jika anak-anak bisa fokus, maka mereka saya yakin bisa melewatinya," kata Bonit.

Dengan berkekuatan pemain muda, Bonit melihat hal ini bisa menjadi kekuatan dan sekaligus kelemahan dari Indonesia. Untuk itu, dia pun sudah melakukan analisis "SWOT" yakni metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) baik dari timnya sendiri maupun dari calon lawan.

Sementara itu, selama persiapan ini sebelum akhirnya bertolak ke Jepang pada 27 Januari nanti, Bonit mengatakan masalah cuaca menjadi kendala untuk kesiapan tim. Belum lagi kondisi Christoper Rungkat, yang menjadi andalan Merah Putih nanti, belum mencapai kondisi yang fit setelah kembali dari kualifiksi Pra-Australia Gran Slam minggu lalu.

"Kondisi cuaca memang menjadi kendala, Christo pun belum 100 persen fit. Kini kita hanya menjaga kondisi anak-anak agar tidak cedera maupun sakit hingga jelang keberangkatan nanti ke Jepang," tutur Bonit.

Keempat pemain tim Indonesia Christopher Rungkat, Elbert Sie, Wisnu Adi Nugroho, dan Ketut Nesa Artha akan menjalani aklimatisasi selama 4-5 hari di Jepang sebelum akhirnya bertanding.

Aklimatisasi ini dinilai Bonit penting karena kondisi cuaca di Jepang saat ini sudah memasuki musim dingin. "Dengan suhu Jepang 10 derajat celcius saat ini, aklimatisasi ini sangat perlu untuk anak-anak. Jangan sampai mereka sakit karena tidak bisa menerima perbedaan suhu," katanya.

Kondisi Jakarta saat ini yang selalu turun hujan pun, menurut dia, cukup bisa mewakili suhu di Jepang nanti, namun bedanya disini berangin sementara disana nanti adalah salju. Itu dua hal yang dinilainya berbeda.

"Kita akan lihat kondisi mereka hingga jelang keberangkatan. Jika ada yang sakit kita sudah mempersiapkan pemain cadangannya," tukas Bonit.

Pertemuan Indonesia dengan Jepang sebelumnya telah terjadi tujuh kali. Dari ketujuh pertemuan tersebut, Jepang mendominasi dengan enam kemenangan, sedangkan Indonesia baru sekali mengalahkan negeri matahari terbit tersebut pada era Yustejo Tarik 1982 di partai final zona eastern dengan skor 4-1. Laga itu berlangsung di lapangan tanah liat.

Pertemuan terakhir mereka terjadi pada Februari 2004 lalu di Zona Asia-Oceania Grup I di Stadion Tenis Senayan Jakarta.

Tim Davis Indonesia yang dipimpin oleh Prima Simpatiaji, pada partai penentuan, akhirnya gagal mengantarkan sukses bagi tuan rumah setelah takluk dengan poin ketat 2-3.

Jika berhasil melewati Jepang, Indonesia ditunggu pemenang antara Korea Selatan yang berhadapan dengan India. Pada Grup I ini, selain Jepang, Indonesia juga akan bersaing dengan Australia, Cina, Taiwan, Korea Selatan, India, dan Uzbekistan. Dua tim yang kalah dalam playoff Grup I ini nantinya akan terdegradasi kembali ke Grup II pada 2014 mendatang. (A-161/A-89)***

Facebook Comments Box