Headlines

16 Orang Meninggal Akibat Banjir di Jakarta

JAKARTA, (PRLM).- Setidaknya 16 orang meninggal dunia akibat bencana banjir yang melanda DKI Jakarta hingga Minggu (20/1). Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat korban meninggal terbanyak berada di kawasan Jakarta Barat.

"Hingga hari ini (Minggu, red.) sudah ada 16 orang yang meninggal, di Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur. Paling banyak di barat, jumlahnya 10 orang," ucap Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho kepada wartawan, di Jakarta, Minggu (20/1).

Adapun korban luka akibat banjir dan turunannya, kata dia, pihaknya belum memiliki data pasti, karena masih dalam proses pendataan. “Kita masih melakukan pendataan,” katanya.

Sutopo menambahkan, hingga saat ini banjir masih menggenangi beberapa wilayah di Jakarta, sebagian besar daerah Pluit mengalami banjir yang bervariasi tingginya hingga 2 meter.

Kepala BNPB dan tim BNPB melakukan kunjungan ke lokasi banjir Pluit untuk mengkaji dan mencaro solusi banjir di Pluit dari meluapnya Waduk Pluit.

"Daerah sekitar sebagian Kecamatan Penjaringan yang meliputi 4 kelurahan yaitu Kelurahan Pluit, Kel. Penjaringan, Kel. Penjagalan, dan Kel. Kapuk masih terendam banjir dengan ketinggian bervariasi. Ada beberapa titik yang mencapai dua meter," tuturnya.

Sutopo mengatakan, banjir di daerah tersebut disebabkan meluapnya Waduk Pluit, meluapnya Kali Angke Hilir dan hujan setempat.

"Tanggul waduk Pluit yang memiliki luas 80 hektar tidak jebol. Dari sekitar 270.000 jiwa warga Kecamatan Penjaringan yang terdiri dari empat kelurahan, sebanyak 7.413 jiwa terpaksa diungsikan ke 15 posko setempat," ucapnya.

Ia menuturkan, Jebolnya tanggul Banjir Kanal Barat (BKB) di Jl. Latuharhary pada Kamis (17/1) menyebabkan banjir menggenangi kawasan sebagian Jl. Sudirman, Bunderan HI, Jl Thamrin dan sekitarnya.

Ia menambahkan, Sungai Cideng yang memiliki kapasitas debit 30 m3/detik menerima beban tambahan debit dari tanggul sungai yang jebol di Jl. Latuharhary sekitar 30 m3/detik.

"Tentu saja Kali Cideng. Pada saat bersamaan pompa di Waduk Melati berkapasitas 12m3/detik dan Pompa Cideng berkapasitas 7 m3/detik juga mati. Demikian pula BKB juga penuh. Dengan matinya pompa air maka banjir makin tidak terkendali," katanya.

Ia menuturkan, Waduk Pluit menerima aliran dari Kali Cideng dan beberapa sungai yang banjir. Panel 2 pompa banjir berkapasitas 35 m3/detik dan 4 m3/detik di Waduk Pluit terendam banjir dan tidak beroperasi. Akhirnya. banjir meluas karena pasokan debit ke Waduk Pluit terus terjadi, sementara itu pembuangan air tidak berjalan.

"Kejadian ini kemudian ditambah dengan pasang laut makin bertambah. Pasang laut tertinggi pada Sabtu (19/1) terjadi pada pukul 07.35 WIB yaitu tinggi 0,87 meter. Pada Minggu (20/1) pasang tertinggi terjadi pukul 07.51 yaitu 0,91 meter," katanya.

Ia menambahkan, kejadian sama akan terjadi Senin (21/1), dimana pukul 08.10 WIB akan terjadi pasang setinggi 0,94 meter. Bahkan pada Kamis (24/1) hingga Sabtu (26/1) pasang tertinggi mencapai 1 meter antara 09.09 – 09.46. Tentu ini berpotensi terjadi rob air laut.

Ia menuturkan, pemerintah terus melakukan upaya penanggulangan banjir di Pluit. Salah satunya dengan memperbaiki tanggul di Latuharhary yang saat ini telah selesai ditutup. Selain itu, pompa Waduk Melati telah dihidupkan.

"Pompa air dari Dinas PU DKI Jakarta dan Kementerian PU dikerahkan ke Pluit untuk mengurangi banjir. BNPB mengerahkan pasukan Armarbar. Beberapa titik posko telah didirikan oleh Marinir, Kopassus, Basarnas, Tagana dan lainnya untuk memberikan bantuan evakuasi, distribusi kebutuhan dasar, logistic, kesehatan dan sebagainya," katanya. (A-194/A-89)***