Headlines

Banjir Juga Melanda Sejumlah Area di Kota Bekasi

RIESTY YUSNILANINGSIH/"PRLM"
RIESTY YUSNILANINGSIH/"PRLM"
KETINGGIAN air jali Bekasi yang mulai berkurang menyisakan gundukan lumpur tebal di salah satu sisinya serta di rumah-rumah warga yang berada di sampingnya. Luapan Kali Bekasi karena kiriman dari Bogor ini merendam ribuan rumah di dua kecamatan, yakni Bekasi Selatan dan Bekasi Timur.*

BEKASI, (PRLM).- Banjir berskala lebih besar melanda sejumlah area di Kota Bekasi, Selasa (15/1) malam.

Kedatangan air kiriman dari Bogor ini membuat sejumlah perumahan di sepanjang aliran Kali Bekasi terendam dan mengakibatkan ribuan warga harus mengungsi.

Lokasi yang mengalami dampak terparah akibat banjir kiriman ini ialah Kelurahan Margajaya dan Pekayon Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan serta Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur. Ribuan warga di lokasi tersebut pun diungsikan ke lokasi yang aman.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kota Bekasi Agus Darma mengatakan, warga dievakuasi ke sejumlah tempat, yakni pelataran Lotte Mart dan eks pom bensin Petronas. Evakuasi dilakukan begitu air naik.

"Ada ibu hamil dan warga lanjut usia yang semula enggan diungsikan. Tapi begitu tengah malam air naik sampai satu meter, mereka tak dapat lagi menolak," kata Agus di lokasi pengungsian Lotte Mart, Rabu (16/1).

Agus menambahkan, jumlah warga yang mengungsi lebih dari 5.352 jiwa. Rinciannya, warga RT 1 RW 5 Kelurahan Margajaya, Kecamatan Bekasi Selatan sebanyak 400 jiwa, RT 2 (1.200 jiwa), RT 3 (1.200 jiwa), RT 4 (1.000 jiwa), dan RT 5 (1.552 jiwa). "Kami belum mendapat laporan jumlah warga di lokasi lain. Jika ditotal, lebih dari itu," katanya.

Meski baru mengungsi sehari, warga mulai terserang berbagai penyakit. Salah satunya ialah Sulasih yang kedua telapak kakinya tampak melepuh dan pecah-pecah.

"Ini gara-gara tidak pakai sepatu boot saat air mulai naik. Boro-boro terpikir pakai boot, yang ada di pikiran hanyalah menyelamatkan diri dan coba mengamankan barang-barang," katanya.

Telapak kaki yang baru semalam terkena luapan air bercampur lumpur serta berbagai kotoran itu terasa sangat gatal dan perih.

Dewi, pengungsi lainnya, punya keluhan berbeda. Rizki, anak bungsunya yang baru berusia enam bulan, mulai terserang demam.

"Waktu masih di kandungan, dia sudah mengalami banjir. Sekarang setelah lahir, kembali kebanjiran. Mana mulai panas pula," katanya.

Kepala Puskesmas Margajaya Annida Novita menyebutkan, mayoritas penyakit yang dikeluhkan pengungsi ialah kutu air, batuk, panas, pusing, diare, masuk angin, dan pegal-pegal. Penyakit tersebut umum dikeluhkan pengungsi.

"Wajar saja penyakit tersebut muncul, karena tempat pengungsian jauh dari layak apalagi nyaman. Mereka hanya tidur beralaskan tikar di lantai tanpa adanya selimut yang memadai untuk menahan udara dingin," katanya.

Untuk menangani berbagai penyakit tersebut, Puskesmas keliling yang disiagakan di lokasi pengungsian telah menyediakan obat-obatan. Stok obat-obatan siap ditambah sewaktu-waktu sesuai kebutuhan.

Ditemui di lokasi yang sama, Kepala Bidang Tata Air Dinas Bina Marga dan Tata Air (Bimarta) Kota Bekasi Nurul Furqon mengatakan bahwa lokasi banjir kiriman akibat luapan Kali Bekasi melanda Kecamatan Bekasi Selatan, Jatiasih, Bekasi Timur, Rawalumbu, dan Bekasi Utara. Lokasi kecamatan lain yang juga terdampak lebih dikarenakan sistem drainase setempat.

"Titik-titik yang tergenang masih sama, lokasinya maupun jumlahnya. Boleh dibilang, kami cukup dapat mengatasinya karena antisipasi sudah dilakukan jauh-jauh hari. Oleh karenanya, ketinggian air tidak setinggi kejadian-kejadian sebelumnya," katanya.

Antisipasi yang dimaksudnya ialah pendirian rumah pompa di lokasi perumahan yang kerap terdampak banjir bilamana Kali Bekasi meluap.

"Namun warga tetap merasa cemas pompa tak dapat menangani luapan air, sehingga masih saja meminta bantuan kami," katanya.

Selain rumah pompa yang disebar di sejumlah titik, Dinas Bimarta juga menyiapkan satu unit pompa "mobile" yang siap difungsikan sesuai permintaan. Dua unit pompa "mobile" lainnya dipinjamkan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC).

"Pompa mobile sempat kami fungsikan di Villa Jakasetia dan Kartini. Saat ini sedang digunakan Hypermal Mega Bekasi," katanya.

Calon Gubernur Jawa Barat dari PDIP Rieke Dyah Pitaloka, di tengah kunjungannya di Kota Bekasi, mengatakan penanganan banjir harus dimulai dari perencanaan tata ruang wilayah yang berbasis penataan Daerah Aliran Sungai (DAS). Dengan demikian, perbaikan tidak hanya dilakukan di bagian hulu, tapi juga sepanjang DAS.

Perihal banjir di Bekasi, Depok, dan Jakarta yang disumbang dari wilayah Bogor, Rieke menilai sudah saatnya perizinan alih fungsi lahan dihentikan.

"Alih fungsi lahan harus disesuaikan dengan kemampuannya. Sudah saatnya alih fungsi lahan di Puncak dilarang menjadi area industri, perumahan, serta villa karena hanya merusak stabilitas lingkungan," katanya. (A-184/A-89)***

Facebook Comments Box