Tujuh Pusaka Kerajaan Sumedang Dicuci

ADANG-JUKARDI/”PRLM”
ADANG-JUKARDI/”PRLM”
KETUA Panitia Pelaksana ‘Pencucian Benda Pusaka’ yang juga Ketua MPGU YPS, R. Achmad Wiriaatmadja dibantu Muharam, petugas pencuci benda pusaka, tengah mencuci benda pusaka Keris Ki Dukun peninggalan Prabu Gajah Agung di gedung penyimpanan benda pusaka di Museum Prabu Geusan Ulun (MPGU) Yayasan Pangeran Sumedang (YPS), Senin (14/1/13).*

SUMEDANG, (PRLM).- Prosesi pencucian tujuh benda pusaka peninggalan Kerajaan Sumedang Larang di Museum Prabu Geusan Ulun (MPGU) Yayasan Pangeran Sumedang (YPS), Senin (14/1), berlangsung khidmat. Proses pencucian ketujuh benda pusaka itu, dilakukan secara bergantian oleh para pembina, pengawas dan pengurus YPS, pemangku adat serta sesepuh dan tokoh masyarakat Sumedang. Mereka tampak begitu konsentrasi dan penuh kehati-hatian ketika mencuci satu per satu benda pusaka tersebut. Dihiasi sejumlah sesajen dan nasi tumpeng, membuat suasana terlihat sakral.

Prosesi pencucian tujuh benda pusaka itu, merupakan tradisi para leluhur yang berlangsung turun-temurun setiap tahun. Waktunya bertepatan dengan bulan Rabiul Awal tahun Hijriah atau bulan Maulud. Tahun ini, pencucian benda pusaka dimulai Senin (14/1/13), tepatnya tanggal 2 Rabiul Awal 1434 H atau tanggal 2 Maulud hingga Rabu (23/1/13) nanti atau tanggal 11 Maulud.

“Hari ini merupakan hari pertama pencucian. Mengawali hari pertama, kami mencuci tujuh benda pusaka yang paling utama dari ratusan koleksi benda pusaka yang ada di museum ini. Ketujuh benda pusaka ini merupakan peninggalan para raja Kerajaan Sumedang Larang,” kata Ketua Panitia Pelaksana “Pencucian Benda Pusaka” yang juga Ketua MPGU YPS, R. Achmad Wiriaatmadja ketika ditemui di MPGU, Senin (14/1/13).

Proses pencucian ketujuh benda pusaka itu, diawali dengan tawasulan dan doa bersama di halaman gedung penyimpanan benda pusaka. Setelah itu, dilanjutkan pada acara pokok, yaitu pencucian ketujuh benda pusaka.

Ketujuh benda pusaka itu, antara lain Pedang Ki Mastak peninggalan Prabu Tajimalela, Keris Ki Dukun peninggalan Prabu Gajah Agung, Keris Panunggul Naga peninggalan Prabu Geusan Ulun, Keris Naga Sasra I peninggalan Prabu Panembahan, Keris Naga Sasra II peninggalan Pangeran Kornel dan Duhung/Badik Curuk Aul I dan II peninggalan Prabu Jaya Perkosa.

Ketujuh benda pusaka, satu persatu dikeluarkan dari tempatnya oleh petugas khusus, yakni Muharam. Benda pusaka dikeluarkan secara berurutan dari usia tertua dengan tata cara khusus. Selanjutnya, dikumpulkan di atas meja untuk menjalani proses pencucian. Tak lama, satu per satu secara berurutan ketujuh benda pusaka itu dicuci dengan air kembang tujuh rupa dan air dari tujuh sumber.

Untuk menghilangkan karat dan memberi wewangian, ketujuh benda pusaka dilumasi dengan minyak khusus. Prosesi serupa akan dilakukan pada ratusan benda pusaka lainnya yang terbuat dari logam, berupa keris, pedang, tombak, gamelan dan alat rumah tangga yang terbuat dari kuningan.

“Pencucian benda pusaka ini, bertujuan untuk melestarikan adat dan tradisi membersihkan sekaligus menyucikan benda pusaka koleksi museum. Tradisi ini dilakukan turun temurun setiap bulan Maulud. Ini sebagai wujud kami dalam melakukan konservasi (mengawetkan) benda pusaka. Sekaligus juga mengingatkan kembali sejarah dan budaya para leluhur zaman Kerajaan Sumedang Larang. Waktunya sengaja di bulan Maulud, untuk mengambil hikmah kesucian dari kelahiran Nabi Muhammad SAW,” kata Achmad. (A-67/A-88)***

Komentari di Facebook !