Headlines

Anggota FPI Perusak Mesjid Ahmadiyah Terancam Hukuman Penjara Lima Tahun

BANDUNG, (PRLM).- Muhamad Asep Abdurahman alias Utep (23), anggota Front Pembela Islam (FPI) yang menjadi terdakwa perusakan Mesjid Ahmadiyah An Nasir di Gang H. Sapari Kel. Cibadak Kec. Astanaanyar, Kota Bandung, terancam hukuman pidana penjara 5 tahun.

Oleh jaksa penuntut umum, Utep didakwa pasal berlapis yaitu pasal 170 ayat 1 KUH Pidana tentang Pengrusakan terhadap Barang dan pasal 335 KUH Pidana tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan.

Dakwaan JPU itu terungkap dalam sidang perdana kasus perusakan Mesjid Ahmadiyah yang digelar di Ruang Sidang 1 Pengadilan Negeri Kelas 1 A Bandung, Jln. LLRE Martadinata, Kota Bandung, Kamis (10/1). Sidang dipimpin ketua majelis hakim Sinung Hermawan.

Ruang sidang berukuran sekitar 80 meter persegi itu, penuh sesak pengunjung. Sebagian besar adalah massa pendukung Utep dari FPI. Polisi juga tampak menumpuk di dalam dan luar sidang. Termasuk juga wartawan karena kasus itu cukup menyedot perhatian publik.

Meski dijejali massa FPI, dan pengunjung lainnya, sidang berlangsung aman dan tertib. Sesekali ada teriakan takbir saat sidang tapi tidak mengganggu proses persidangan.

Utep yang mengenakan gamis putih dan penutup kepala coklat tampak tenang saat mendengarkan pembacaan dakwaan. Dalam dakwaannya, JPU Agus Mujoko membeberkan, pada Kamis malam, 25 Oktober 2012 silam, terdakwa beserta beberapa anggota FPI Bandung Raya, mendatangi Mesjdi An Nasir.

Mereka meminta jamaah Masjid An Nasir yang menjadi pusat kegiatan jamaah Ahmadiyah, untuk menghentikan kegiatannya. Untuk mencegah pergesekan, petugas kepolisian membawa massa ke Mapolsekta Astana Anyar.

Mereka diajak berunding dengan pengurus Ahmadiyah. Pertemuan itu sia-sia karena tidak muncul kesepakatan dan jamaah Ahmadiyah tetap tidak menghentikan kegiatannya.

Saat itulah, terdakwa Utep keluar mapolsek dan menelfon teman-temannya untuk segera beraksi. Beberapa menit kemudian, terdakwa tiba di Mesjid An Nasie bersama 50 rekan-rekannya. Mereka melakukan perusakan kaca, lampu, kursi, motor, serta menendang pagar.

Usai JPU membacakan dakwaannya, Utep tetap tenang. Dia tidak melakukan eksepsi dan memilih mengikuti persidangan dengan agenda keterangan saksi jamaah Ahmadiyah.

Jamaah Ahmadiyah yang dihadirkan sebagai saksi bernama Rahman Ahmad (32). Seperti biasa, sebelum bersaksi, hakim mengambil sumpah kepada saksi sesuai agama yang dianutnya. Begitu Rohman akan diambil sumpahnya secara Islam dengan memakai Al-Quran, penasehat hukum terdakwa mengajukan protes.

"Mohon maaf Yang Mulia. Kami keberatan jika saksi diambil sumpah memakai Al-Quran karena berdasarkan SKB 3 Menteri, Ahmadiyah bukan Islam. Keiislamannya patut dipertanyakan. Jadi jangan disumpah pakai Al-Quran," katanya.

Interupsi Ahmad itu didukung penuh puluhan anggota FPI. Mereka menyebut saksi sebagai kaum kafir. Hakim Sinung pun akhirnya mengambil sumpah Rahman tanpa memakai Al-Quran. Rahman pun tampak menerima saja.

Selama memberikan kesaksian, Rahman tetap tenang meskipun puluhan pasang mata anggota FPI menatapnya tajam. Termasuk terdakwa Utep. Dia menuturkan, peristiwa perusakan itu terjadi pada terlihat santai saat memberikan kesaksian.

Saat kejadian perusakan pada Kamis malam tanggal 25 Oktober 2012, dia bersama sejumlah jamaah Ahmadiyah ada di dalam Mesjid An Nasir. Saat itu bertepatan dengan malam takbiran Idul Adha.

"Saya dan sembilan jamaah lainnya sedang mempersiapkan rencana penyembelihan hewan untuk besoknya karena Idul Adha. Tiba-tiba datang orang-orang dari FPI yang meminta kami menghentikan aktifitas. Sempat dihentikan polisi tapi kemudian datang lagi. Mereka memecahkan kaca, menendang pagar, merusak kursi dan lain-lain. Banyak yang merusak tapi yang paling menonjol adalah beliau," kata Rahman sambil mengarahkan pandangan ke terdakwa Utep yang duduk di sisi kanan bersama para penasehat hukumnya.

Rahman juga menuturkan, terdakwa Utep juga sempat mengeluarkan kalimat ancaman bahwa jika tidak mau menghentikan kegiatannya, maka akan terjadi peristiwa Cikeusik di tempat itu.

Tragedi Cikeusik adalah peristiwa penyerangan warga terhadap jamaah Ahmadiyah di Desa Umbulan Kec. Cikeusik Kab. Pandeglang Prov. Banten. Peristiwa yang terjadi pada Minggu, 6 Februari 2011, itu meminta korban jiwa 3 orang dari Ahmadiyah.

Utep segera membantah kesaksian Rahman. Ada dua hal yang jadi sorotan Utep yaitu tuduhan memecahkan kaca dan ancaman akan membuat Mesjid An Nasir sebagai "Cikeusik II". "Saya tidak memecahkan kaca. Kalau menendang pagar, saya akui," ujarnya.

Soal ancaman "Cikeusik Jilid II", Utep mulai emosi. "Wahai kafirin (maksudnya ke Rahman). Kamu dengar kan saya waktu itu ngomong pake bahasa Sunda. Ngomongnya, biji jiga Cikeusik. Bisi itu artinya takut. Berarti, takut kejadian seperti Cikeusik. Nah, yang melakukannya kan bisa siapa saja kalau memang terjadi," ucapnya.

Setelah Utep mengeluarkan unek-uneknya, hakim menutup persidangan. Sidang dilanjutkan pada Selasa pekan depan dengan agenda keterangan saksi. "Kami harap sidang bisa cepat selsai. Ya dua atau tiga minggu saja," kata Sinung yang didukung para anggota FPI. (A-128/A-89)***

Facebook Comments Box
Customize This