Kurikulum 2013: Guru Harus Lebih Fokus Mengajar

JAKARTA, (PRLM).- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, kurikulum 2013 akan meringankan tugas guru karena tidak ada kewajiban untuk menyusun silabus.

Dengan berkurangnya tugasnya tersebut, guru diharapkan dapat lebih fokus pada pengajarannya.

"Keliru jika mengatakan bahwa kurikulum 2013 memberatkan guru. Kalau Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, guru diwajibkan untuk menyusun silabus," ujar Nuh dalam Konferensi Pers Akhir Tahun 2012, di Jakarta, Jumat (28/12).

Menurut dia, dalam KBK dan KTSP, mata pelajaranlah yang membentuk standar kompetensi. Sedangkan dalam kurikulum 2013, standar kompetensi dulu baru dilakukan penilaiannya.
KBK dan KTSP dinilai masih banyak kekurangannya, dan Kurikulum 2013 menyempurnakan kekurangan itu.

"Dari hasil uji publik kurikulum 2013 hingga 23 Desember dengan partisipasi 16.000 orang secara online (dalam jaringan) dan 2.300 yang aktif, sebanyak 76 persen menyatakan setuju dengan kurikulum baru itu," ujarnya.

Nuh menambahkan, beberapa alasan pentingnya Kurikulum 2013 adalah antisipasi kebutuhan kompetensi masa depan, penataan dan penyempurnaan alur pikir dan pengembangan kurikulum, menata kewenangan di tingkat satuan pendidikan, penyempurnaan materi yang harus diajarkan dan mengacu pada keahlian.

Pada kesempatan itu, Nuh mengatakan bahwa penerimaan mahasiswa di iniversita negeri pada 2013, sebanyak 60 persen akan berdasarkan nilai rapor dan ujian nasional.

"60 persen berdasarkan nilai UN dan rapor, sedangkan 40 persen sisanya melalui SNMPTN yang diselenggarakan secara nasional dan ujian masuk mandiri," ujar Mendikbud.

Dia mengatakan, terintegrasinya penerimaan mahasiswa baru dan UN merupakan kali pertama dilakukan.

Disinggung mengenai kompetensi anak daerah yang tertinggal jika dibandingkan anak-anak yang ada di perkotaan, Nuh mengatakan bahwa hal tersebut tidak benar.

Menurut dia, banyak anak daerah yang berprestasi. Begitu juga dengan anak yang di perkotaan malah jarang yang berprestasi. "Dengan adanya penerimaan mahasiswa baru yang terintegrasi itu, perguruan tinggi mengakui keberadaan adiknya," tambah dia.

Saat ditanyakan kendala dalam menyiapkan penerimaan dengan metode tersebut, Nuh mengatakan sejauh ini belum ada masalah.

Dikatakan, sejumlah rektor di beberapa perguruan tinggi sudah sejak lama menerapkan hal tersebut. Penerimaan tersebut terbuka untuk semua siswa. Perguruan tinggi terlebih dahulu melakukan normalisasi nilai rapor dan UN. Sebelumnya penerimaan mahasiswa baru sebagian besar dilakukan melalui SNMPTN dan sisanya melalui ujian mandiri dan PMDK.

Menyangkut beasiswa, Nuh mengungkapkan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyediakan anggaran sebesar Rp 7,84 triliun yang diperuntukkan bagi beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dan beasiswa miskin.

Jika tahun sebelumnya sebanyak 6.085 peserta didik mendapatkan beasiswa, diharapkan dengan anggaran Rp7,84 triliun jumlah penerima akan bertambah.

Nuh menjelaskan, untuk beasiswa bidik misi misalnya jumlahnya akan terus bertambah. Dia ber harap dengan beasiswa bidik misi akan mampu memotong mata rantai kemiskinan.

Bidik misi adalah beasiswa bagi anak SMA/MA/SMK dari keluarga tidak mampu secara ekonomi untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi tanpa biaya hingga lulus dan diberikan uang saku per bulan.

Nuh optimistis bahwa tambahan jumlah itu akan terserapan mengingat pola pendaftaran mahasiswa baru pada tahun ini tidak lagi mensyaratkan pembelian formulir atau gratis.

Beberapa program pada 2013 yang berkaitan dengan pemberian beasiswa antara lain melanjutkan pemberian bantuan siswa miskin bagi siswa SD, SMP, SMA/SMK dengan cakupan sasaran sama dengan 2012. (A-78/A-196/A-89)***

Komentari di Facebook !