Warga Buton Masih Mempertahankan Adat Istiadat

ANWAR EFFENDI/"PRLM"
ANWAR EFFENDI/"PRLM"
SEJUMLAH sesepuh warga Desa Wabula Kab. Buton mengenakan pakaian adat daerah setempat.*

BUTON, (PRLM).- Masyarakat Desa Wabula, Kecamatan Wabula Kabupaten Buton termasuk kuat mempertahankan adat istiadat yang sudah turun temurun dari nenek moyangnya. Salah satu tradisi yang kini masih berlasung di sana, yakni pesta pidoaano kuri. Pesta yang dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat terhadap Sang Pecipta itu, biasanya dilakukan dua kali dalam setahun.

Pidoaano kuri bisa diartikan pembacaan doa untuk keselamatan hidup. Masyarakat Wabula menggelar ritual budaya pidoaano kuri pada bulan ketiga dan dan ketujuh. Tradisi itu dikaitkan dengan musim tanam dan musim panen. Saat pesta budaya itu digelar, bukan hanya masyarakat setempat yang bersuka cita. Tapi masyarakat Wabula yang berada di perantauan pun menyempatkan pulang kampung.

"Betapa pun jauhnya tempat perantauan itu, masyarakat Wabula biasanya pulang kampung untuk terlibat dalam pesta pidoaano kuri. Semua memanjatkan rasa syukur. Sampai sekarang tradisi itu berlangsung turun temurun. Intinya memanjatkan doa kepada Sang Pencipta yang telah memberikan rezeki," kata tokoh masyarakat Wabula, Lamakki.

Tokoh masyarakat lainnya, Lagamii menambahkan, pesta budaya pidoaano kuri bisa juga sebagai ajang silaturahmi. Pada saat itu semua masyarakat Wabula berkumpul. Termasuk warga perantauan, mereka datang meramaikan pidoaano kuri. Artinya silaturahmi itu, tidak hanya antarwarga Wabula yang berada di desa, tapi juga warga yang ada di luar kota.

Pesta budaya pidoaano kuri, menurut Lagamii, biasa dilangsungkan tiga hari tiga malam. Dalam sejarahnya, semua warga Wabula dalam kurun waktu itu tidak ada yang tidur. Mereka terus memanjatkan doa rasa syukur. Pada bagian lain, diselingi pula acara tari-tarian dan makan besar.

"Acara tari-tarian dimaksudkan untuk menjaga seni budaya warga Wabula tidak punah. Pria wanita, tua muda punya bagian masing-masing. Untuk penyambutan tamu, biasanya digelar tarian bure. Tarian bure dilakukan oleh sejumlah tokoh adat. Tarian itu mengiringi tamu untuk dibawa ke galampa (balai pertemuan)," ujar Lajani, selaku Wakil Ketua BPD (Badan Pemusyarawartan Desa) Wabula.

Menurut Lajani, banyak tarian yang ditampilkan pada acara pidoaano kuri. Para perempuan biasanya menampilkan tarian linda. Sementara masyarakat umum, membawakan tarian caca. Pada puncaknya, para tokoh adat beratraksi dengan tarian cungka. Secara garis besar, gerakan tari khas Wabula sangat sederhana dan lugas. Di balik itu, mengandung makna masyarakat Wabula sangat terbuka dan ramah menyambut tamu.

Sebelum berbagai tarian ditampilkan di galampa, masyarakat Wabula sudah terbiasa menghidangkan aneka makanan khas kepada para tamu. Bahkan hidangan makanan yang diberikan kepada tamu (per orangnya) cukup banyak. Mulai dari nasi lengkap dengan lauk pauknya, hingga buah-buahan dan aneka cemilan.

Lagamii menjelaskan, aneka makanan itu dibuat oleh warga Wabula secara bergotong royong dan tanpa perintah lagi. Artinya jika mendengar ada tamu yang akan berkunjung, masing-masing warga biasanya memberikan sumbangan aneka makanan. Tamu dan warga yang berkumpul di galampa mendapat porsi yang sama. Setelah memanjatkan doa yang dipimpin tokoh adat, maka acara makan besar pun dimulai.

Bupati Buton, Samsu Umar Abdul Samiun, S.H. bertekad akan terus melindungi dan memelihara budaya yang ada di masing-masing desa. Satu wilayah dengan wilayahnya, sudah pasti ada perbedaan budaya, tapi biarkan semuanya berkembang dan bisa dikenal secara luas, sekaligus dapat diandalkan jadi daya tarik wisata Buton.

"Suku di Buton itu macam-macam. Sudah pasti budayanya berbeda. Dari bahasa saja sudah terlihat tidak sama, walau asli penduduk Buton. Itu uniknya Buton. Hanya, perbedaan-perbedaan itu tidak membuat masyarakat Buton terpecah. Semangat gotong royong dan silaturahmi warga Buton masih sangat kuat. Warga Buton juga sangat ramah kepada pendatang atau tamu," tutur Umar.

Selain mengandalkan seni budayanya, Kab. Buton masih punya daya tarik untuk para wisatawan. Hutan dan gunung di Buton yang masih perawan, selama ini sering menjadi objek wisata ilmiah. Banyak peneliti dari luar negeri yang melakukan survei ke sana. Demikian juga dengan wisata bahari, Buton memiliki garis pantai yang panjang, dan pasir putinya yang masih bersih. Kuliner khas daerah Buton juga cukup mengundang selera. Sementara untuk kerajinan, barang yang cukup dikenal di Buton, yakni kain tenun dan mutiara kerang mabe.

"Ke depan, bisa juga dikembangkan wisata wilayah penambangan. Selama ini banyak juga wisatawan yang berkunjung ke Buton penasaran dengan lokasi penambangan aspal, nikel, batu kapur, hingga emas. Nanti wisatawan bisa mendapat penjelasan bagaiman proses penambangan tersebut dengan diantar oleh pemandu," ujar Umar.(A-147)***

Komentari di Facebook !
Customize This