Jadikan Taman Budaya Sebagai Ruang Mencipta Seni

RETNO HERIYANTO/"PRLM"
RETNO HERIYANTO/"PRLM"
MEWAKILI Dirjen Seni Pertunjukan Berbasis Seni Budaya Kemenkraf, Nyong P. (kemeja putih), meminta Taman Budaya untuk mengubah paradigma pada acara Pemetaan dan Program Balai Taman Budaya, Selasa (20/11) bertempat di Lobby Dago Tea House, Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat.*

BANDUNG, (PRLM).- Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui Direktorat Jenderal Seni Pertunjukan Berbasis Seni Budaya melakukan berbagai upaya untuk menumbuhkan minat kreativitas di kalangan seniman dan budayawan. Taman Budaya sebagai bagian dari aset pemerintah diharapkan mampu menjadi ruang dan pusat kreativitas yang mendorong terciptanya karya seni budaya bernilai ekonomis.

“Perlu mengubah paradigma di masyarakat maupun para pelaku seni budaya terhadap keberadaan Taman Budaya. Selama ini Taman Budaya hanya dikenal sebagai tempat memegelarkan hasil seni budaya daerah, kedepan dan mulai tahun (2012) ini paradigma tersebut harus diubah dan menjadikan Taman Budaya sebagai ruang beraktivitas, berkreasi dan mencipta seni budaya yang bernilai edukasi serta ekonomis,” ujar Nyong P., dalam sambutanya mewakili Dirjen Seni Pertunjukan Berbasis Seni Budaya Kemenkraf, Drs Ukus Kuswara, pada acara Pemetaan dan Program Balai Taman Budaya, Selasa (20/11/2012) bertempat di Lobby Dago Tea House, Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat.

Dikatakan Nyong, Taman Budaya Jawa Barat merupakan satu dari empat Taman Budaya yang ada di Indonesia pada tahun 2012 masuk dalam Pemetaan dan Program Balai Taman Budaya. Direncakanan tahun 2012, selain melakukan Pemetaan dan Program Balai Taman Budaya, Kemenkraf juga akan menggelar 48 pegelaran seni budaya, dengan memfasilitasi 600 seniman dan budayawan serta 48 komunitas.

Terhadap program yang dicanangkan Kemenkraf melalui Dirjen Seni Pertunjukan Berbasis Seni Budaya, Nyong mengharapkan Taman Budaya mampu merubah paradigma dan pandangan masyarakat. “Kedepan secara perlahan bersama-sama (Kemenkraf) mari kita rangkul masyarakat untuk melakukan segala aktifitas dan kreatifitas seni budaya untuk mendorong perekonomian,” ujar Nyong.

Dalam acara yang dihadiri seniman dan budayawan, serta komunitas seni budaya, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Drs. Nunung Sobari, menegaskan bahwa lahirnya semangat otonomi daerah telah membawa perubahan. Termasuk ke dalam aktifitas dan kreatifitas seni budaya di daerah yang semula menjadikan Taman Budaya serta Anjungan Jawa Barat di Taman Mini Indonesia Indah sebagai wahana menunjukan eksistensi semakin menurun.

“Namun kini keberadaan Taman Budaya berada di dua lembaga kementerian (Kemenkraf dan Kemendikbud), upaya menumbuhkan kembali Taman Budaya sebagai ruang publik beratifitas dan berkreatifitas seni budaya akan tercapai. Bagaimanapun Taman Budaya yang menampilkan kearifan lokal memiliki nilai ekonomis sebagai wahana industri kreatif serta destinasi pariwisata seni budaya,” ujar Nunung.

Ditegaskan Nunung, saat ini Balai PengelolaanTaman Budaya (BPTB) Jabar terus berupaya dan bebenah agar dapat menjadi pusat edukasi seni budaya melalui program pelatihan serta lokakarya. Bahkan ke depan program BPTB Jabar akan lebih menitikberatkan pada pengenalan serta pembelajaran seni budaya melalui wisata edukatif seni budaya, semisal pengenalan permainan dan peralatan seni tradisional.

Selain itu, menurut Nunung, BPTB Jabar akan memposisikan diri sebagai fasilitator, reggulator serta komunikator. Dalam hal ini peran aktif seniman dan budayawan serta komunitas seni budaya lebih dituntut. (A-87/A-147)***

Komentari di Facebook !
Customize This