Desmond Tutu Mendapat Penghargaan dari Yayasan Mo Ibrahim

LUAR NEGERI
Tokoh antiapartheid Afrika Selatan, Uskup Agung Desmond Tutu.*
REUTERS/PRLM
Tokoh antiapartheid Afrika Selatan, Uskup Agung Desmond Tutu.*

JOHANNESBURG, (PRLM).- Tokoh antiapartheid Afrika Selatan, Uskup Agung Desmond Tutu, meraih penghargaan dari Yayasan Mo Ibrahim.

Tutu mendapat penghargaan itu , yang juga mencakup hadiah uang senilai 1 juta dolar AS (Rp 9,3 miliar), karena dianggap berbicara dengan jujur kepada kekuasaan.

Saat mengumumkan penghargaan, Kamis (4/10/12), Yayasan Mo Ibrahim mengatakan bahwa sepanjang hidupnya Tutu menjadi suara agung Afrika untuk keadilan, kebebasan, demokrasi dan tanggung jawab, serta pemerintahan yang tanggap.

Peraih Nobel Perdamaian ini merupakan salah seorang pemimpin gerakan antiapartheid dalam masa-masa sulit perjuangan persamaan hak melawan penguasa rasis Afrika Selatan.

Dan dia terus menyuarakan perlawanan terhadap penindasan, antara lain mengkritik pemerintah Israel sehubungan dengan masalah Palestina dan perlakuan buruk pemerintah Cina atas warga Tibet.

Awal September lalu, dia menurunkan tulisan yang mengatakan mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, dan mantan Presiden Amerika Serikat, George W Bush, harus diajukan ke Mahkamah Kejahatan Internasional di Den Haag atas keterlibatan mereka dalam perang Irak.

Penghargaan yang diraih Tutu itu disebut Anugerah Khusus Masyarakat Madani dan merupakan yang pertama kali diberikan.

Mo Ibrahim merupakan miliuner kelahiran Sudan yang juga memberi penghargaan senilai 5 juta dolar AS untuk kepemimpinan Afrika yang baik, dengan calon pemenang para kepala negara yang sudah tidak berkuasa lagi.

Namun dengan kriteria ketat, hadiah untuk kepemimpinan Afrika tidak diberikan setiap tahun karena tidak selalu ada pemenang yang layak. Sejak dimulai tahun 2006, baru ada tiga pemenang penghargaan tersebut.

Ketiganya adalah mantan presiden Mozambik, Joaquim Chissano, kemudian Festus Mogae dari Botswana, dan Pedro Pires dari Cape Verde.

Sementara tokoh antiapartheid Afrika Selatan lainnya, Nelson Mandela, pernah mendapat penghargaan khusus dari Yayasan Mo Ibrahim.

Selain memberikan penghargaan, yayasan yang berkantor di Inggris ini juga menerbitkan peringkat pemerintah negara-negara Afrika berdasarkan tata pemerintahan yang baik.

Tahun lalu, Mauritius berada di posisi paling atas sementara di bagian terburuk diisi oleh Chad, Zimbabwe, Republik Demokratik Kongo, dan Republik Afrika Tengah. (bbc/A-88)***

Baca Juga

Jepang Akui Kekejaman Tentaranya, tapi Belum Minta Maaf

LUAR NEGERI

JAKARTA, (PRLM).- PM Jepang Shinzo Abe mengisyaratkan penyesalan atas kekejaman militernya semasa Perang Dunia II. Namun, seperti dilaporkan BBC News, Abe masih belum mengungkapkan pernyataan maaf secara eksplisit. Padahal dunia menanti pengakuan Jepang tersebut.

Konferensi Asia Afrika 2015

RI-Nepal Dorong Kerja Sama Capacity Building

LUAR NEGERI

JAKARTA, (PRLM).- Presiden RI, Joko Widodo mendorong kerja sama capacity building di berbagai sektor terutama pertanian dan UKM dengan Nepal. Hal tersebut dibahas oleh Presiden RI dengan PM Sushil Koirala pada pertemuan bilateral yang dilaksanakan di sela-sela Pertemuan KAA 2015.

Warga Etnik Rohingya Khawatir tidak Boleh Ikut Pemilu

LUAR NEGERI

KUALA LUMPUR, (PRLM).- Warga Myanmar dari etnik Rohingya dikhawatirkan tidak boleh memberikan suara dalam pemilihan umum yang akan digelar sebelum akhir tahun ini sebab kartu putih yang menandakan mereka berhak memilih sudah tidak berlaku.

Gempa Nepal

Mega Lindi Hancurkan Cagar Budaya UNESCO di Nepal

LUAR NEGERI

KATHMANDU, (PRLM).- Pejabat militer Santosh Nepal mengatakan, selain menewaskan banyak orang, gempa yang berpusat di kota Lalitpur tersebut juga merusak sejumlah bangunan bersejarah yang termasuk dalam cagar budaya UNESCO.