RUU ASP Merombak UU Kepegawaian

NASIONAL

JAKARTA, (PRLM).- Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso mengatakan, DPR bersama pemerintah diharap tidak ragu-ragu melakukan lompatan besar dalam mereformasi birokrasi. Dilahirkannya RUU tentang Aparatur Sipil Negara (ASP) akan merombak secara dramatis UU yang mengatur tentang kepegawaian yang pernah ada.

Pada zaman Orba pernah ada UU Pokok Kepegawaian No. 8 Tahun 1974, kemudian diperbarui dimasa reformasi, dan dalam pembahasan RUU ASN ini. “Sekarang saya ingin mengingatkan kembali betapa pentingnya reformasi birokrasi ini, karena dari sejarah ini merupakan kunci dari sebuah negara berhasil atau tidak dalam meletakan dasar-dasar berdemokrasinya,” tegas Priyo Budi Santoso, ketika menyampaikan sambutan dan pengarahan pada acara Workshop yang bertemakan Membedah Rancangan Undang-undang (RUU) Aparatur Sipil Negara (ASN) yang diprakarsai Komisi II DPR, di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (3/10).

Pertemuan ini sangat membawa barokah karena dihadiri oleh orang-orang yang tepat dalam membahas RUU ASP secara bersama-sama,dan pertemuan ini merupakan momentum penting sebagai langkah awal terhadap niat baik melakukan reformasi birokrasi.Workshop dihadiri MenPAN-RB Azwar Abubakar, Mendagri Gamawan Fauzi, Wamenkeu Mahendra Siregar, Pakar dan 300 peserta Workshop terdiri dari Kementerian, Lembaga Non Kementerian, dan Pemrov, Pemkab,dan Pemkot se-Indonesia.

Lebih lanjut, Priyo menerangkan, di zaman Orba sebagus apapun sistem aparatur sipil dimasa itu, tetap timbul kritikan, dimana UU Kepegawaian tersebut didesain khusus untuk menjadikan monoloyalitas seluruh aparatur birokrasi dimana siapapun PNS harus loyal tunggal kepada pemerintah dan partai pendukung pemerintah saat itu.

“Pada zaman reformasi, UU Pokok Kepegawaian tersebut dikoreksi total secara dramatis, namun apa yang terjadi ternyata sejarah berulang, UU yang dikoreksi tersebut juga menuai beberapa kelemahan dan jauh dari harapan, karena didalamnya UU Kepegawaian zaman reformasi tersebut belum menerapkan sistem manajemen kepegawaian Negara yang mencerminkan keadilan, efisien, kompeten, melayani, justru yang terjadi adalah politisasi birokrasi yang terinfiltrilisasi sampai ketingkat kabupaten/kota dan desa-desa, seseorang bisa masuk ke birokrasi dengan mudah atas nama otonomi daerah, ini terjadi secara massif, tidak boleh kita biarkan” tegasnya. (A-109/A-26).***

Baca Juga

Hercules Jatuh Bukan Faktor Usia

NASIONAL
MEDAN, (PRLM).- Panglima Komando Operasi 1 TNI AU, Marsekal Muda Agus Dwi Putranto memastikan jatuhnya Pesawat Hercules TNI AU C-130 bukan karena usia pe

Inilah 96 Korban Hercules yang Teridentifikasi

NASIONAL
Inilah 96 Korban Hercules yang Teridentifikasi

MEDAN, (PRLM).- Sebanyak 96 korban jatuhnya Pesawat Hercules TNI AU C-135 teridentifikasi. Mereka termasuk dalam 146 kantung jenazah yang diterima Rumah Sakit Adam Malik, Medan Sumatra Utara.

Kawanan Penyu Menepi di Pantai Selatan

NASIONAL
BANTUL, (PRLM).- Sejumlah penyu laut tampak menepi di kawasan Pantai Selatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kedatangan kawanan reptil bercangkang ke pesisir pantai Kota Pelajar, tidak lain adalah untuk bertelur.
 

Kecelakaan di Tol Cipali Bukan Karena Prasarana

NASIONAL
MENTERI  Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimoeljono saat diwawancara di Istana Kepresidenan, Selasa (7/7/2015).*

JAKARTA, (PRLM).- Terjadinya kecelakaan di km 178 Tol Cipali bukan karena faktor prasarana tol yang tidak memadai. Tol Cikopo-Palimanan sudah laik operasi. Itu sebabnya, para pengemudi harus beristirahat setelah kelelahan dan tidak memaksakan terus melaju kencang di jalan tol.