Headlines

Macan Tutul dan Macan Kumbang Masih Hidup Aman di Rimba Gunung Ciremai

DOK. BTNGC/"PRLM"
DOK. BTNGC/"PRLM"
SEEKOR macan tutul melintas dan tertangkap lensa salah satu kamera trap otomatis di lereng Gunung Ciremai yang selama ini dipasang Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, untuk mengamati keberadaan berbagai jenis binatang di gunung tersebut. Foto hasil rekam kamera trap BTNGC di Blok Sigedong tahun 2011.*

KUNINGAN, (PRLM).- Kebakaran yang telah melalap ratusan hektare kawasan hutan Taman Nasional Gunung Ciremai dalam tiga pekan terakhir, telah membunuh berbagai jenis flora dan fauna. Namun, berbagai pihak meyakini macan tutul dan macan kumbang tidak sampai ada yang mati terjebak api serta masih bisa hidup aman dalam kawasan hutan rimba di lereng gunung tersebut.

Kecuali itu, fauna berupa binatang melata, katak gunung, anak-anak burung dalam sarang, dan serangga dalam areal terbakar, dipastikan banyak yang terjebak api mati terbakar. Sementara, flora yang mati terbakar sebagian besar berupa alang-alang, rumput, serta berbagai jenis perdu atau semak belukar. Pasalnya, areal yang telah terbakar sebagian besar hanya berupa lahan padat tumpukan batu keropos, minim tanah lengang tegakan pohon.

Sementara itu, terkait dengan keberadaan macan tutul dan kumbang di gunung tersebut, sejumlah anggota tim operasi penanggulangan kebakaran Ciremai, menduga kuat beberapa areal yang telah terbakar di lereng utara kaki Gunung Ciremai itu, merupakan salah satu tempat jenis binatang buas itu hidup dan mencari mangsanya.

"Selama kami ikut menanggulangi kebakaran di seputar area ini, saya dan beberapa orang teman saya, pada dua minggu ini sempat memergoki macan kumbang hitam lompat dan lari menjauhi kami," kata Cineur (36) salah seorang dari sejumlah anggota Lembaga Swadaya Masyarakat Aktivitas Anak Rimba (Akar) Kuningan, yang sedang membuat alur sekat bakar di lereng utara Ciremai sekitar Blok Batuarca, pada ketinggian sekitar 850 meter di atas permukaan laut, Rabu (26/9/12) pagi.

Pengakuan serupa juga diungkapkan Piit (40) dan beberapa orang anggota Akar lainnya, serta beberapa orang masyarakat desa yang tergabung dalam tim pembuat sekat bakar di blok tersebut. "Kemarin malam, di sini saya dan rekan tim dari unsur masyarakat peduli api (MPA), juga sempat melihat ada dua ekor macan kumbang lari melintas," ujar Piit, yang menyertai "PRLM" menuju Blok Batuarca tempat berkemah tim pembuat sekat bakar, saat melintasi jalur masuk hutan di sekitar Blok Karangdingding, lereng utara gunung tersebut, Selasa (25/9/12) malam.

Keberadaan macan tutul dan macan kumbang di kawasan gunung Ciremai, sebelumnya juga sempat diyakinkan beberapa orang pejabat Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC). Bahkan menurut Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 Kuningan dari BTNGC Mokh. Ridwan Efendi, dan Kepala Satuan Polisi Hutan BTNGC Mufrizal, kamera trap otomatis yang dipasang pihaknya di beberapa titik lereng Ciremai, dalam setahun terakhir sempat merekam beberapa objek foto macan tutul dan macan kumbang, melintas depan lensa kamera tersebut.

"Di antaranya ada juga hasil tangkapan kamera trap yang dipasang di sekitar Blok Batuarca," ujar Mokh. Ridwan Efendi, seraya menjelaskan foto hasil rekaman kamera trap di beberapa titik lereng Gunung Ciremai itu, merupakan bukti bahwa di kawasan gunung berapi tertinggi di Jawa Barat itu, masih dihuni kedua jenis macan tersebut.

Namun, ujar Mokh. Ridwan menambahkan, jumlah populasi kedua jenis macan tersebut sejauh ini pihaknya belum diketahui pasti. "Untuk mengetahui populasi, perkembangbiakan, termasuk habitat macan tutul dan kumbang di Gunung Ciremai, masih memerlukan langkah pengamatan dan penelitian lebih lanjut," katanya. (A-91/A-108)***

Komentari di Facebook !
Customize This